Jejak Kata :
Home » » SEPANJANG JALAN CINTA

SEPANJANG JALAN CINTA

Written By Mang Yus on Kamis, 21 April 2016 | 10.34

cerpen Yus R. Ismail

Pikiran Rakyat, 1 Juni 2003
         
  Ia menyusuri pematang sawah sambil tersenyum. Udara dingin mengusap pipinya, tapi ia tidak menggigil. Nafasnya ditarik dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan. Ia merasakan dingin yang lain dari biasanya ini meresap ke seluruh tubuhnya. Butiran embun di daun-daun padi menerjemahkan kebeningan hatinya. Sunyi menyelusup sampai ke tempat-temapat terjauh dari ingatannya, saat sebutir embun menetes dari ujung reruncing daun padi yang tidak bisa lagi menahannya. Kehangatan matahari yang mulai tampak semburat jingga, menebar di langit, menjadikan pendar-pendar tersendiri di air sawah, menerjemahkan gairah hidupnya. Keriangan menjalani hari-harinya ditarikan ikan-ikan yang mengapung di kolam menyambut pagi.
Pagi ini memang lain. Ia merasakan semuanya dengan suasana yang berbeda dari waktu-waktu lalu. Bertahun-tahun, sejak diperbolehkan bermain di luar rumah, sawah yang luas sejauh pandang ini begitu akrab. Hampir setiap hari ia bermain di sini. Membuat empet-empetan, berburu burung beker saat panen, ngurek saat padi baru ditanam, atau sekedar duduk-duduk sambil membuat kolecer baralak. Setelah dewasa, ketika sekolah dan bekerja di kota, setiap pulang ia selalu menyempatkan diri berjalan-jalan di persawahan ini. Ada sepenggal bagian dari dirinya yang tertinggal di sini, menjadi kenangan yang abadi dalam ingatan. Ia tidak akan melupakan persawahan ini, sepanjang hidupnya.  
Tapi pagi ini memang lain. Persawahan ini menjadi begitu menakjubkan. Semuanya yang dulu biasa-biasa saja menjadi menggetarkan. Ia tidak bisa mengatakannya, perasaan seperti apa ini. Ia hanya merasakan, persawahan ini menjadi lain. Butiran embun, hembusan angin, ikan-ikan, burung-burung yang mulai melintas entah mau ke mana, seperti baru datang dari dunia keindahan yang gaib.
Para petani yang mulai berdatangan, yang biasanya menyapa dan mengangguk bila melihat ia berjalan-jalan di pematang sawah, kali ini menatap lama. Ia merasa semua orang merasakan keindahan yang menakjubkan ini. Semua yang ada di sini memancarkan cahaya dari kedalaman intijiwanya.
“Sejak kapan keindahan seperti ini terpancar, Paman?” tanyanya kepada seorang petani. Petani itu tersenyum. “Semuanya begitu bercahaya. Butiran embun, pohon-pohon padi, gemercik air, rasanya baru kali ini saya rasakan seindah ini.”
“Semuanya begitu indah, Nak, karena engkau sendiri. Engkau yang menjadikan semua memancarkan cahaya. Karena dari tubuh engkaulah cahaya itu bermula. Yang lainnya hanya menyerap dan ikut merasakan keindahan yang ada di tubuhmu.”
“Tapi angin berhembus begitu lain, Paman. Rasanya angin tidak hanya menyisir pipi, tapi menyentuh hati.”
“Karena semuanya takjub kepada keindahan yang terpancar dari seluruh pori-pori tubuhmu. Maka semuanya mengeluarkan potensi keindahan dari kedalaman jiwa masing-masing.”
Ia berjalan seolah melayang. Menyusuri pematang, mengusap rumputan, menggetarkan butiran embun yang kemudian berjatuhan, menghirup udara dalam-dalam. Dan semuanya tersenyum, semuanya bercahaya, semuanya menunduk. Pagi ini memang lain.
Di kebeningan kolam ia berkaca. Memandang seseorang yang terpantul dari air. Seseorang yang selalu misterius. Tapi kali ini ia melihat orang itu begitu menawan, sejuk dan menenangkan. Barangkali benar bahwa cahaya itu, keindahan itu, berasal dari dirinya. Tapi ia tidak yakin, bagian mana yang mengeluarkan energi begitu meyakinkan, sehingga alam ikut merasakan keindahannya. Diperhatikan berjam-jam bayangan itu, tidak juga membuat ia mengenali sumber enerji itu. Barangkali ini bukan masalah fisik. Karena seperti juga bulan, fisik hanya memantulkan cahaya, bukan sumber dari cahaya.
Ya, ia merasa di kedalaman jiwanya sumber energi itu bermula. Dan setiap ia menarik nafas, energi itu menyebar ke seluruh elemen terkecil dari tubuhnya. Dialirkan darah, dihembuskan udara, disalurkan makanan. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya. Seluruh tubuhnya bergerak begitu indah. Ia berjalan seperti menari. Ia tersenyum seperti bunga mulai mekar. Ia memandang seperti matahari yang memancarkan cahaya. Dan siapapun yang melihatnya, merasakan tatapannya, tidak kuat untuk tidak merespon dengan mengeluarkan keindahan yang mereka punyai. Keindahan yang bertahun-tahun tertimbun di kedalaman hati, terpenjara sunyi.
Berjalan berkilo-kilo meter, melihat orang-orang tersenyum begitu menawan, pohon-pohon merunduk hormat, matahari membelai lembut, angin menyisir hati; ia merasakan kehadiran seseorang. Seorang gadis berkerudung, berjaket dengan tutup kepala yang melindunginya dari gerimis, rok terusan panjang sampai mata kaki, menggendong tas yang entah apa isinya, mungkin buku. Ya, gadis itulah yang pertama kalinya menyemaikan pohon energi itu. Pohon energi yang kemudian berdahan cahaya, berdaun senyuman, beranting kelembutan, dan dihias kembang-kembang yang tidak terucapkan.
Ia tidak tahu bagaimana awal kehadiran gadis itu menjadi energi yang begitu menakjubkan. Sebenarnya sudah bertahun-tahun ia mengenal gadis itu. Tapi tidak pernah ada perbincangan, tidak pernah ada saling memasuki. Pertemuan-pertemuan di Salman atau di tempat lainnya tidak lebih dari basa-basi dua orang yang saling hapal tapi tidak saling mengenal. Dan saat ia mulai berjalan menyusuri sunyi, mencari-cari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu, ia bertemu dengan gadis itu. Mereka bercakap dengan tatapan mata, dengan senyuman, dengan hati yang selalu bergumam sepanjang hari meski  selalu sunyi.
              Perkenalan itulah yang membuat ia menjalani hari-hari begitu lain. Ingatan dan kerinduan kepada gadis itu awalnya ia rasakan sebagai utopia, keinginan yang melayang-layang mengejar impian. Sepanjang hidupnya, manusia berkali-kali mengalami masa kegilaan seperti itu, karena keinginan yang sebenarnya tersimpan di tempat yang tidak akan tergali. Atas nama cinta – keinginan yang berbaju materialisme – kamp-kamp konsentrasi didirikan, pencerahan dimulai dengan pembersihan ras, hak individu dicampakkan. Hitler, Mussolini, Lenin, pernah bermimpi tentang cinta. Tapi yang mereka lakukan adalah sebuah kegilaan. Tentu saja hasilnya hanya sunyi. Sunyi yang memanjang beribu-ribu tahun.
                        Membawa-bawa rindu sekedar rindu, cinta sekedar cinta, menjadikan ia merasa begitu kerdil. Merasa seperti seorang platonis yang akhirnya hanya menemukan sunyi yang tidak terperi. Gadis itu telah menarik seluruh ingatan, seluruh gerak tubuhnya, dan ia tidak berdaya. Perasaan seperti itu barangkali sebuah kegilaan yang lain. Kegilaan dari sebuah mimpi yang hanya melahirkan mimpi-mimpi-mimpi-mimpi-mimpi-mimpi yang lainnya.
              Tentunya itu sebuah utopisme. Karena menikmati gelegak perasaan seperti itu adalah totalitas penyerahan. Aku menjadi bagian darinya. Dia menjadi bagian dari aku. Aku adalah dia. Dia adalah aku. Rasaku adalah rasanya. Rasanya adalah rasa aku. Dan manusia punya keterbatasan untuk itu. Manusia punya tubuh yang menghalangi penyerahan totalnya. Tubuh yang kotor, yang memenjara, yang menghalangi untuk bersatu dengan sesuatu meski cinta berdebur seperti ombak yang tidak pernah berhenti.
               Rindu dan cinta akhirnya tidak lebih dari airmata. Aku haus dan ingin minum dari telaganya, aku lapar dan ingin makan dari nasinya, aku rindu dan ingin dipuaskan dengan memandangnya. Aku ingin melihat dengan matanya mendengar dengan telinganya merasa dengan kulitnya menghirup dengan hidungnya. Tapi barangkali itu utopis. Itu kegilaan. 
             Di sebuah persimpangan, entah malam ke berapa dalam perjalanan tidak bertujuannya, ia bertemu dengan seorang tua yang selalu tersenyum. Awalnya ia merasa orang tua itu penjelmaan bulan karena cahaya wajahnya begitu lembut. Atau penjelmaan angin karena tatapan matanya menyentuh seluruh pori-pori tubuhnya, menyentuh sampai ke kedalaman hati. Atau penjelmaan air karena memandangnya ia seperti dibasuh dari berbagai kekotoran.
              “Perasaan itu tidak utopis. Terjemahkanlah dengan yang mahakreatif dalam dirimu. Karena rindu hanya bagian dari rindu, karena cinta hanya bagian dari cinta. Seandainya engkau sebuah cawan, maka cinta adalah anggurnya, dan kehidupan adalah mahapemberinya. Mabuklah, engkau akan merasakan keindahan tak terkatakannya. Dan itu bukan utopis.”
              Ia terpana mendengar suara yang terus bergaung itu. Suara yang berhembus di angin, mengalir di air, berbisik dari kedalaman sunyi. Dan malam itu ia merasa meminum bercawan-cawan anggur. Ia mabuk. Hingga airmatanya mengalir deras, keringatnya keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya, dan ia pingsan karena tidak kuat menahan gejolak yang begitu dahsyat dari dalam tubuhnya. Begitu bangun pagi harinya, ia merasakan apapun menjadi lain.
             Begitulah, ia merasa gadis yang selalu tersenyum itu, adalah awal semuanya. Kerinduan kepadanya tidak saja terpuaskan dengan memandang wajahnya, tapi hanya dengan melewati rumahnya, mengenang kebiasaannya, mendengar suara tertawanya yang menyelusup dari tempat-tempat jauh dalam ingatan, merasakan cintanya kepada apapun, sudah cukup bagi ia. Karena fisik gadis itu memang tidak berarti lagi. Ia malah tidak hapal bagaimana warna kulitnya, setebal apa bulu alisnya, bagaimana bentuk matanya. Tapi ia merasa begitu dekat dengan gadis itu. Merasa bisa bercakap-cakap, bisa saling tersenyum, saling merasakan, kapan saja dan di mana saja.
              Setelah berjalan entah sampai mana, setelah memahami bahwa dunia diciptakan tidak lebih karena cinta dan untuk cinta, ia merasa perlu untuk menemui gadis itu.1* Sekedar mengucapkan terima kasih. Atau mengajak melakukan perjalanan bersama, karena manusia yang dipenjara tubuh ini memerlukan manifestasi material dengan berjalan. Di sebuah rumah yang teduh, gadis itu telah menunggu.
            “Aku telah merasakan kehadiranmu sejak beribu-ribu kilometer jauhnya. Tapi engkau keliru, cintaku. Bukan aku sumber dari energi mahamemabukkan itu. Lihatlah rumahku.”
           Ia merasa rumah gadis itu adalah bangunan terindah yang pernah dilihatnya. Tembok-tembok, kayu penyangga, warna cat, genting, begitu serasi dengan alam. Menyatu dengan angin, berseri dengan bumi, saling meresap dengan pohon-pohon, saling memancarkan keindahan dengan bunga-bunga.
       “Rumah adalah manifestasi penghuninya. Aku merasakan keindahan yang memabukkan itu, keindahan yang meresap ke segala yang ada di dekatku, setelah berkenalan denganmu. Engkaulah sumber energi itu, cintaku.”
          Ia tertegun. Beribu kata sanjungan dan terima kasih yang disiapkannya, membeku di kedalaman kalbu. Barangkali ia memang telah salah selama ini. Sumber energi itu bukan gadis itu. Karena sebagai manusia, siapapun bisa terpicu oleh siapapun dan apapun. Gadis itu sama halnya dengan dirinya yang kebingungan.
             Saat itulah ia merasakan kehadiran orang tua itu lagi. Suaranya yang lembut dihembuskan angin, dialirkan air, ditumbuhkan pohon, disinarkan matahari, dikekalkan hati.
          “Rasakanlah keindahan itu. Tapi jangan mencari sumbernya dengan membayangkan sebuah wujud. Siapapun tidak sanggup menanggungnya. Gunung-gunung akan meletus, angin akan membadai, laut akan bergolak. Kecuali kekuatan hatimu. Kita manusia, hanya punya rindu. Rindu rasa, rindu rupa.2*”
         Ia terpana. Dadanya begitu sesak. Kepalanya begitu pening. Kakinya begitu lelah. Tubuhnya begitu lemah menanggung gejolak ruhnya.
     “Barangkali kita harus menyebut Nama itu. Walau, susah sungguh, mengingat-Nya penuh seluruh,3*” kata gadis itu. Lalu tubuhnya runtuh, mengikuti ia yang telah sejajar dengan tanah. **

Cisitu-Dago, 2002

Catatan:
1.    Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah membahas panjang tentang cinta dalam Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, diterjemahkan oleh Kathur Suhardi menjadi Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Dalam pengantarnya, Al-Jauzi menulis: karena cinta dan untuk cintalah bumi ini diciptakan.
2.     Amir Hamzah menulis puisi yang begitu indah:
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Saya pertama kali membaca puisi itu waktu sekolah menengah, tidak terasa apapun kecuali untuk dihapalkan. Tapi belasan tahun kemudian, membacanya kembali malam-malam, baris-baris pendek itu menggetarkan lebih dari yang saya perkirakan.
3. Chairil Anwar dalam puisi Doa, menyebut nama-Nya, tapi kemudian dilanjutkan dengan baris:
                                                                 biar susah sungguh
                                                                  mengingat Kau penuh seluruh
                    Menurut Goenawan Mohamad, sebab “mengingat” mengandung faktor waktu, sedang Tuhan datang “penuh seluruh” melalui sesuatu yang mengatasi waktu: melalui wahyu. 

Empet-empetan = terompet dari batang padi
Burung beker     = burung sawah yang tidak bisa terbang
Ngurek                = memancing belut di sawah
Kolecer baralak  = baling-baling dari daun kelapa kering


Cerpen Ini Didukung Oleh:
Ingin tahu lebih banyak tentang Bait Surau? Klik saja DI SINI


Harga : Rp 35.000
Pemesanan: WA: 085772751686

Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni