Jejak Kata :
BARAKATAK (2) BUKU (1) CARPON (42) CATATAN (1) CERPEN (78) CERPEN ANAK (9) DIARI (5) DONGENG (7) DONGENG SUNDA (5) FIKMIN (3) info (1) JEJAK CERPEN (5) KOLOM (2) mengarang (2) MENGIRIM NASKAH (8) NOVEL (2) PUISI (39) RESENSI (1) tps (1)

SIT-UNCUING

Written By Mang Yus on Jumat, 16 Juni 2017 | 00.48

Cerpen Tribun Jabar
Tribun Jabar, 11 Juni 2017

Sit-uncuing bernyanyi di atas pohon. Tapi entah pohon yang mana. Nining sudah beberapa kali mengamati pepohonan tinggi yang tumbuh di sekitar rumahnya. Jambu air, sawo, mangga, rambutan, yang tumbuh di halaman belakang, diperhatikan sampai hapal jumlah dahan besarnya. Burung itu masih tidak tertemukan meski suaranya begitu jelas dan nyaring.
Pagi datang sedikit muram. Entah kenapa matahari yang tadi cerah tertutup lagi awan yang semakin tebal. Sepertinya gerimis sebentar lagi turun. Apakah ini pertanda dari pesan malapetaka sit-uncuing? Mungkin benar mitos itu, pikir Nining. Mitos bahwa bila burung sit-uncuing bernyanyi maka itu adalah nyanyian kematian. Ah, tapi ada atau tidak pun burung itu bernyanyi, kematian pasti datang. Pasti datang kepada yang dikehendakiNya.
Seandainya burung sit-uncuing itu tertangkap wujudnya, Nining ingin melemparnya, mengusirnya jauh-jauh. Tapi percuma bila hal itu dilakukannya. Karena kabar itu sudah datang. Nunung, kakak Nining satu-satunya, menjadi salah seorang korban kecelakaan kereta api. Hujan besar telah menyebabkan longsor yang menimpa rel di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Nunung yang bekerja di Surabaya rencananya pulang selama seminggu ke Bandung.
Semalam Nining menerima kabar dari orang yang mengaku Tim Pengendalian Bencana.
“Sebaiknya ada keluarga yang datang ke sini,” kata orang Tim Pengendali Bencana itu.
Mang Sakri dan Wa Enjum malam itu juga berangkat ke tempat bencana. Tugas Nining adalah menyampaikan kabar buruk itu kepada Ambu. Semua saudaranya, amang-ibi-alo-uwa sampai nini-akinya, merasa tidak sanggup menyampaikan kabar itu kepada Ambu. Nining sebagai sarjana psikologi dan anak yang dekat dengan Ambu, mereka anggap akan lebih bisa menyampaikan kabar itu.
Menurut kabar televisi, kecelakaan kereta api itu menelan puluhan korban jiwa.
“Nunung mengalami patah tulang kaki dan tangan. Itu yang paling beratnya. Sementara di kepala, pinggul, tangan, tidak terlalu parah,” kata Mang Sakri melelui telepon genggam. “Kamu harus bisa menyampaikan kabar ini kepada Ambu, harus hati-hati.”
Ambu adalah ibu dari Nining dan Nunung. Usianya enam puluh satu tahun. Abah, suaminya, ayah Nunung dan Nining, sudah meninggal lima tahun yang lalu. Sejak Abah meninggal Ambu sakit jantung, sakit yang membuat wajahnya kurang segar. Tidak boleh terlalu lelah, tidak boleh tertekan, tidak boleh terkejut. Menurut riwayat sakitnya, tiga kali mendapat serangan jantung parah. Penyebabnya hanya karena tertekan ada yang bertanya kenapa kedua anak gadisnya belum juga menikah, mendapat kabar kematian sahabatnya, dan jengkel karena anak tetangga semalaman menyalakan kembang api saat tahun baru.
**
  
Sekali lagi Nining memandang Ambu yang sedang duduk di bangku taman. Tadi waktu Nining membawa susu hangat dan kue untuk sarapan, Ambu bertanya tentang Nunung. “Mestinya kakakmu itu datang pagi ini, ya? Tapi kok belum juga datang. Memangnya sekarang pukul berapa?” tanyanya.
Nining tidak menjawab apapun. Ya, apa yang harus dijawabnya? Bagaimana menceritakan kabar buruk itu? Nining memilih menjauhi Ambu. Dan sekarang, setelah menatap Ambu sekian lama, Nining akhirnya masuk ke kamarnya.  
Di kamar Nining mereka-reka apa yang ingin dikatakannya kepada Ambu.
“Ambu, ada beberapa hal yang kita sebagai manusia tidak bisa menghindarinya,” kata Nining sambil memandang bantal.
“Ya iya atuh, Ning. Kalau kita bisa menghindari semuanya, Ambu pasti ingin menghindari sakit jantung ini.” Sepertinya Ambu akan berkata seperti itu.
“Bukan hanya sakit, Ambu. Kecelakaan pun seringkali tidak bisa dihindari meski kita sangat hati-hati sekali.”
“Iya betul.” Ambu pantasnya sambil memandang Nining lebih tajam, mungkin mulai curiga kenapa Nining membicarakan itu.
“Kecelakaan itu sering terjadi, jadi tidak usah membuat kita terkejut.” Nining berhenti sebentar, memandang bantal lebih seksama seolah-olah bantal itu adalah Ambu. “Teh Nunung mengalami kec....”
Ah, Nining tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ambu pasti terkejut mendengar kabar seperti itu. Dadanya akan berdebar, napasnya turun-naik lebih cepat. Kalau sudah begitu, Nining pasti akan khawatir. Sebaiknya bukan begitu cara mengabarinya.
Sorenya Nining pergi ke taman kota. Dia bilang kepada Ambu akan membeli keperluan dapur sekalian membeli pulsa. Ambu tadi memintanya untuk menghubungi Nunung, tapi Nining beralasan pulsanya habis. Ambu sendiri, sejak mengidap sakit jantung itu tidak lagi memegang hp sendiri, tidak juga boleh menonton televisi dan mendengarkan radio.
Di taman kota Nining duduk di bangku sambil membaca buku. Tepatnya pura-pura membaca buku. Karena pikirannya masih melayang kepada Ambu. Nanti malam, sebelum tidur, Nining akan menyampaikan kabar buruk itu.
“Waktu kecil Ambu selalu mendongeng buat Nining dan Teh Nunung. Kali ini Nining yang akan mendongeng buat Ambu.” Begitu Nining akan memulai pembicaraannya.
Ambu pantasnya akan tersenyum.
“Jaman nabi Sulaiman as, ada seorang sahabat yang sangat besar jasanya. Suatu hari sahabat itu melihat kedatangan malaikat Izroil ke kotanya. Dia terkejut. Mau mendatangi siapa malaikat pencabut nyawa itu? Karena takut Izroil akan mencabut nyawanya, sahabat itu meminta nabi Sulaiman as untuk menerbangkannya ke tanah India. Jarak dari Yerusalem tempat nabi Sulaiman as berkuasa ke India tentu saja sangat jauh, dipisahkan lautan dan negara-negara Timur Tengah. Tapi sahabat itu yakin nabi Sulaiman bisa meminta angin menerbangkannya ke India.”
Ambu pantasnya mendengarkan dongeng sambil membelai rambut Nining. Ambu berbahagia.
“Akhirnya nabi Sulaiman as menerbangkan sahabatnya itu ke India. Selang beberapa menit malaikat Izroil yang menghadap nabi Sulaiman as karena bingung. Bingung karena dalam catatan ketentuan, dia harus mencabut nyawa di India, tapi orangnya kok ada di Yerusalem? ‘Jangan bingung-bingung, Tuan Malaikat. Silakan saja Tuan pergi ke India, orang itu sekarang sudah ada di India,’ kata nabi Sulaiman as.”[1]
Ambu pantasnya akan tersenyum mendengar dongeng itu.
“Nah Ambu, seperti juga kematian yang sudah ada catatannya, kecelakaan pun....”
Lamunan Nining berhenti sampai di sana. Mendongeng dan menyampaikan kabar buruk yang sebenarnya mempunyai ketegangan yang sangat berbeda. Nining lalu pulang berjalan kaki. Sepanjang jalan masih juga terpikir cara menyampaikan kabar buruk yang lain.
“Ambu, dari kemarin burung sit-uncuing bernyanyi di pepohonan. Kata mitos orang dulu, nyanyian burung kecil itu membawa pesan buruk. Tidak hanya pesan ada kerabat atau kenalan yang meninggal. Tapi juga pesan kabar buruk lainnya. Misalnya kecelakaan....”
Ah, Nining selalu tidak yakin, bagaimana menyampaikan kabar buruk yang sebenarnya? Apalagi saat sampai di rumah banyak saudara dan tetangga yang menengok Ambu. Teh Encih, Aa Ajim, Mang Iwan, Nini Jumsih, Aki Atang, Uwa Oo, Kang Asep, Pa Ujang; terlihat geumpeur dan menahan tangis. Ambu terbaring di kasur, napasnya turun-naik cepat. Tidak lama kemudian terdengar sirine ambulan. Ambu dibawa ke rumah sakit.
**

Hanya sehari Ambu di rumah sakit. Alhamdulillah, kata dokter tidak apa-apa. Selain didiagnosa jantungnya baik, Ambu ingin cepat pulang karena Teh Nunung pun rencananya pulang siang harinya.
Siang itu sekali lagi ambulan dengan suara sirine mencekam datang lagi ke rumah Ambu. Mang Sakri mendorong kursi roda Teh Nunung. Kaki dan tangan digip dan dibalut perban membuat Teh Nunung seperti setengah mumi. Tapi kali ini bukan waktunya tertawa. Teh Nunung menangis meski belum ketemu Ambu. Tangis yang semakin mengeras meski ditahan ketika bertemu tangis Ambu yang terbaring di kasur.
“Ambu, alhamdulillah Ambu sehat dan kuat mendengar kabar ini,” kata Teh Nunung sambil memeluk Ambu dengan tangan sebelah.
“Kabar kecelakaanmu menjadi tidak seberapa, Nung, setelah kemarin kabar Nining tertabrak mobil sampai meninggal.”
Tangis Nunung mengeras sebentar, setelah itu tidak ingat apa-apa. Nining yang merasa berdiri di sebelah kakaknya sama terkejutnya. Dia sudah meninggal kemarin tertabrak mobil? Dia sudah meninggal kemarin? Meninggal? ***




[1] Dongeng nabi Sulaiman as dan malaikat Izroil ini diambil dari kisah Jalaluddin Rummi.

KIRIM-KIRIMAN MAKANAN

Cerpen anak Solo Pos
Solo Pos, 11 Juni 2017

Di kampung saya, setiap memasuki bulan puasa masih ada kebiasaan kirim-kiriman makanan. Tidak saja antarsaudara atau tetangga sebelah rumah. Kirim-kiriman makanan itu bisa kepada kenalan di kampung lain.
Kebiasaan itu biasanya dilakukan di awal bulan puasa atau di akhir saat menjelang Idul Fitri. Emak pernah mengalami kejadian lucu yang berhubungan dengan kirim-kiriman makanan itu. Suatu pagi emak mengirim kue bolu bikinannya kepada Bik Irah. Besoknya kue bolu itu datang lagi ke rumah, kiriman dari Wak Mumun. Ceritanya, emak mengirim kue bolu kepada Bik Irah, oleh Bik Irah dikirimkan lagi kepada Wak Esih. Wak Esih mengirimkan kue bolu itu kepada Bu Ening. Bu Ening mengirimkannya kepada Wak Mumun. Wak Mumun tidak tahu kue bolu itu buatan emak, jadi mengirimkannya kepada emak.
“Tidak apa peristiwa lucu seperti itu terjadi, asal kita ikhlas dalam melakukannya, ikhlas saat mengirimkan makanan,” kata emak.
**
Saya ingin menceritakan kejadian lucu yang saya alami sendiri. Saya sering main ke rumah Nenek Amih, tetangga sebelah rumah. Nenek Amih bukan nenek asli saya. Hanya saudara jauh, tapi sejak ingat saya memanggilnya Nenek Amih. Sore hari di bale-bale rumah Nenek Amih, saya dan anak-anak lainnya, sering mendengarkan dongeng Nenek Amih.
Suatu pagi Nenek Amih sedang mengupas ubi. Di kampung saya, ubi harganya murah. Hampir setiap kebun ditanami ubi. Kalau kita ingin makan ubi, tinggal minta saja, pasti banyak yang memberi. Setiap panen ubi, yang punya kebun suka memisahkan untuk diberikan kepada yang mau.
Saya membantu mengupas ubi ketika tahu ubi yang akan dikupas Nenek Amih begitu banyak.
“Buat apa, Nek, ubi sebanyak ini?” tanya saya.
“Mau bikin kolak. Kasih tahu anak-anak, bantu Nenek untuk memberikan kolak ini nanti, ya?” Nenek Amih malah balik bertanya.
“Memberikan kepada siapa?”
“Kalau cukup buat orang sekampung. Kalau tidak cukup, buat tetangga yang dekat saja dulu.” Nenek Amih bicara sambil memotong-motong ubi yang sudah dikupas. “Nanti anak-anak buka bersama di sini. Boleh bawa nasi dari rumah masing-masing. Habis makan kolak, kita makan nasi bersama-sama di bale-bale.”
“Asyik…,” kata saya sambil beranjak pergi.
“Mau kemana?”
“Memberi tahu teman-teman, Nek.”
**
Siang menjelang sore saya dan anak-anak lainnya mengirimkan kolak bikinan Nenek Amih. Ada beberapa rumah yang setelah dikirim meminta saya menunggu, kemudian mereka memberikan makanan buat Nenek Amih. Istilahnya mulang. Kalau kita dikirim makanan, ya kita harus mulang, membalas memberi makanan.
Mulang yang paling menarik adalah dari Bu Isti, yaitu opor ayam serantang besar. Bu Isti orang kaya di kampung saya. Nenek Amih menyimpan opor ayam itu. “Buat berbuka bersama nanti,” katanya.
Bik Iroh, tetangga lainnya, memanggil saya. Dia bertanya, “Dipulang apa oleh Bu Isti?”
“Opor ayam.”
“Opor ayam? Sebanyak itu?”
“Iya.”
Sore itu Bik Iroh menangkap ayam. Saya membantu memegang ayam saat menyembelihnya.
“Wah, makan besar, Bik,” kata saya, siapa tahu kebagian ati ampelanya.
“Hus, ini buat ngirim ke Bu Isti. Nanti tolong kirimkan goreng ayamnya sepulang tarawih, ya?” kata Bik Iroh sambil mencabuti bulu-bulu ayam. “Kalau Nenek Amih saja ngirim kolak ubi dipulang opor ayam. Bik Iroh kan ngirim ayam goreng, tentu dipulang makanan enak dari kota.”
“Siap, Bik!”
Sepulang tarawih saya mengantarkan kiriman Bik Iroh ke Bu Isti. Wadahnya rantang besar. Pulangnya saya disuruh menunggu. Rantang besar itu diisi lagi, entah oleh apa. Sampai di rumah Bik Iroh, saya langsung pulang. Bik Iroh tersenyum ketika tahu rantangnya berat.
Tapi besoknya Bik Iroh cemberut.
“Dikirim kolak ubi saja mulangnya opor ayam. Masa dikirim ayam goreng mulangnya dengan kolak ubi,” kata Bik Iroh. Saya tertawa. ***


PANEN UBI MADU

Written By Keluarga Semilir on Kamis, 11 Mei 2017 | 00.55

Cerpen Bobo
Majalah BOBO, 13 April 2017

Rakey suka makan ubi oven. Awalnya ketika sakit. Tidak ada makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya. Ketika Nenek datang menengok, dia merasakan manis dan legitnya ubi oven.
“Ini ubi oven si madu,” kata Nenek.
Liburan semester ketika Ayah mengajaknya ke rumah Nenek, karena Kakek akan panen ubi, Rakey langsung mengiyakan. Hari sabtu pagi mereka berangkat ke kampung Cilembu. Cilembu merupakan kampung pegunungan di kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Sekitar satu jam setelah keluar tol Cileunyi, mobil sudah memasuki Cilembu. Udara segar berhembus melalui kaca mobil yang dibuka. Pepohonan berjajar sepanjang jalan. Advokat, petai selong, rumpun bambu, nangka, sirsak, sawo, meneduhi jalan aspal. Perkebunan sejauh mata memandang, membuat pemandangan indah. Daun-daun jagung berkilat hijau disorot matahari siang. Petakan-petakan kebun ubi berbunga ungu.
“Kebun ubi itu yang akan kita panen, Pak?” tanya Rakey.
“Bukan. Kebun ubi Kakek di Pasir Hui, harus berjalan kaki dulu dari rumah.”
**
Pagi-pagi Kakek dan Papa sudah siap berangkat. Ibu membuat nasi goreng ceplok telor untuk sarapan. Setelah sarapan semuanya berangkat. Kakek memikul cangkul. Papa menggendong ransel perbekalan. Rakey juga menggendong ransel berisi kamera, jus jeruk, buku dan snack.
Perjalanan ke kebun lumayan melelahkan. Berjalan sekitar setengah jam membuat keringat membasahi baju Rakey. Di kebun ternyata sudah banyak yang membantu. Mang Karim, Mang Asip, Mang Kardun, Pak Ringko, Bik Uneh, Bik Uti, Ceu Nenah. Anak-anak juga ada Dindin dan Siti. Rakey sudah kenal dengan mereka.
“Kita bagian mengumpulkan ubi,” kata Dindin. “Peralatannya pakai rokrak saja.”
Rokrak itu potongan bambu kecil, panjangnya sekitar dua jengkal. Rakey awalnya tidak mengerti. Mang Karim dan Mang Asip mencangkul tanah. Sekali cangkul saja petakan tanah itu membalik. Ubi besar-besar terlihat. Rakey, Dindin dan Siti membantu ibu-ibu mengumpulkan ubi. Tidak semua ubi tinggal diambil dan dikumpulkan di pinggir. Karena banyak juga yang masih menancap di tanah. Pantesan tadi Dindin menyarankan memakai rokrak untuk mengorek ubi yang susah dicabut.
Baru sekitar satu jam saja gunungan ubi sudah ada di mana-mana. Bik Uneh dan Bik Uti memisahkan ubi kecil dan besar. Mang Kardun dan Pak Ringko mewadahi ubi besar dengan karung. Lalu dipikulnya karung itu ke pinggir jalan. Kakek kadang membantu membalik tanah dengan cangkulnya. Papa kadang ikut mengumpulkan ubi. Tapi seringnya memotret dengan kamera.
“Yuk, kita membantu memilah ubi,” kata Dindin.
Rakey dan Siti berlarian ke gunungan ubi.
“Bukan hanya besar dan kecil yang dipisah. Tapi ubi yang kena lanas juga dipisah,” kata Dindin.
“Apaan lanas?” kata Rakey.
Lanas itu hama. Ubi yang kena lanas bolong-bolong. Bila sudah kena lanas, ubinya tidak enak, pahang, pahit dan sengak rasanya.”
Untungnya tidak banyak ubi yang kena lanas. Ubi yang kena lanas dibuang. Ubi yang kecil-kecil, seukuran ubi jari kaki, dibagi-bagi kepada yang membantu. Meski yang membantu sudah membawa ubi banyak, ubi kecil itu masih berkarung-karung. Kebun Kakek memang luas.
**
“Kalau mau ubi bakar, bikin tuh di bawah rumpun bambu,” kata Kakek.
Rakey meraba kening dan lehernya. Keringat membuat bajunya basah. Topi terasa panas. Matahari memang sudah tinggi.
“Ayo, Key, kita bikin api unggun,” kata Dindin.
Tidak susah membuat api unggun. Ranting kecil dan daun bambu kering membuat api besar. Ubi-ubi itu dimasukkan ke dalam api. Ranting dan daun bambu tidak lagi ditambah setelah Dindin bilang, “Sudah cukup.”
Ubi bakarnya lumayan manis. Meski tidak semanis yang Rakey bayangkan. Tapi Rakey tertawa-tawa melihat Dindin dan Siti belepotan arang saat memakannya.
“Kamu juga belepotan arang, Key,” kata Dindin. Rakey mengusap bibirnya, betul saja warna hitam menempel di tangannya.
“Kalau ingin ubinya manis dan legit seperti yang dulu dibawa Nenek, ubi simadu ini harus diunun dulu, disimpan diangin-angin minimal dua minggu,” kata Kakek. “Lebih lama diunun semakin manis. Ubi Cilembu ini sangat terkenal lho. Coba aja lihat di internet, di setiap kota besar ada kios ovennya. Dari Cilembunya sendiri, selain disebar ke kota-kota di Indonesia, juga ada yang diekspor.”
Rakey mengangguk-angguk. Dia kira setelah dipanen langsung dibakar atau dioven akan manis. 
“Sekarang saatnya kita makan siang,” kata Kakek. “Ayo Key, Din, Siti, cuci tangan di pancuran, air yang dialirkan dengan talang bambu.”
Di kejauhan terlihat Nenek, Mama, dan Bik Ikah nganteuran, membawa makanan untuk yang bekerja di kebun. Tiba-tiba Rakey merasakan perutnya berbunyi. Lapar.  ***

CARA MENGIRIM CERPEN ANAK / DONGENG ke SOLO POS

Written By Keluarga Semilir on Selasa, 11 April 2017 | 10.49

Cerpen Yus R. Ismail

Solo Pos termasuk media pada urutan pertama yang harus menjadi prioritas pengarang mengirimkan karyanya. Mengapa? Sepengalaman saya mengirim cerpen anak / dongeng sejak tahun 2013-an, Solo Pos adalah media yang sangat ramah. Maksudnya, ramah karena cerpen anak atau dongeng dengan tema apapun (yang layak untuk diketahui anak) punya kesempatan untuk tampil. Mau penulisnya orang dewasa atau anak-anak, sama-sama punya kesempatan. Dan terutama juga... transfer honornya lancar hehe.
(Sekedar pengumuman saja: saya termasuk pengarang yang sangat mempertimbangkan timbal-balik honor ini. Bukan masalah besarnya, tapi saling menghargainya itu saja. Menulis memang memberikan kepuasan tersendiri, tapi juga ada yang harus dikerjakan. Penulis itu sudah mencari referensi, mengkreasikan imajinasi, waktu menulisnya yang kadang bisa siang-malam. Sangat wajar untuk dibayar oleh siapa saja yang menggunakan hasil dari menulis itu.)
Jadi begitulah, saya yang sudah tua, istri saya yang sedikit tua (haha... agak ngeri katanya dibilang tua) dan anak saya yang waktu itu masih SD, pernah mengirimkan cerpen anak / dongeng ke Solo Pos. Dan tentu semuanya pernah dimuat, meski hanya sekali dua kali.
Begini pengalaman saya mengirim naskah ke Solo Pos:
1.      Panjang naskah sekitar 500-700 kata. Ini bukan patokan yang dikeluarkan Solo Pos atau pernyataan Redakturnya. Cerpen anak/ dongeng saya yang pernah dimuat rata-rata panjangnya berkisar segitu.
2.      Cantumkan nama (biodata) di bawah cerpen anak / dongeng. Juga alamat, nomor telepon, dan tentu nomor rekening. Honor biasanya ditransfer seminggu setelah pemuatan. Selama tiga tahun saya mengirim naskah ke Solo Pos, belum sekalipun saya konfirmasi masalah honor ini. Artinya, Solo Pos adalah media yang sangat amanah dalam pengiriman honor. Honor untuk cerpen anak / dongeng adalah Rp 95.000 (sepertinya 100 ribu tapi dipotong biaya transfer). Tapi mesti dipertimbangkan juga: Dua tahun lalu saat cerpen anak honornya RP 95.000, cerpen dewasa honornya Rp 125.000. Beberapa minggu lalu cerpen dewasa saya dimuat dan honornya Rp 300.000. Sepertinya honor cerpen anak/dongeng pun sudah berubah (mudah-mudahan).
3.      Ada beberapa email yang sering saya pergunakan untuk mengirim naskah ke Solo Pos. Ini di antaranya: redaksi@solopos.com, redaksi@solopos.co.id.
4.      Untuk mengetahui karya kita dimuat atau tidak, epaper Solo Pos berbayar. Kita bisa langganan. Tapi bisa juga kita nyari bantuan lain. Bergabung saja di grup facebook Sastra Minggu dan . Dua grup fb yang biasa mengabarkan karya-karya yang dimuat minggu ini di media-media ini adalah grup yang sangat inspiratif dan membantu pekerjaan penulis.
5.      Tentu gogling mencari tahu cerpen anak / dongeng yang pernah dimuat Solo Pos sangat penting. Pelajari, berkreasi dalam imajinasi, menulis dan kirimkan. Terus begitu. Sebaiknya berjadwal, punya target sendiri. Misalnya: saya harus bisa mengirim ke Solo Pos minimal sebulan satu. Insyaallah ada yang dimuat. Bila tidak juga dimuat setelah setahun mengirim rutin, cek lagi, introspeksi. Apa ada yang salah dengan berbahasa (ejaan dsb) atau email salah, atau eror lainnya.
6.      Selamat mencoba mengirim cerpen anak / dongeng ke Solo Pos.
7.      Boleh diisi apa saja, tergantung kepentingan masing-masing.
8.  Oh iya, ini contoh cerpen saya yang pernah dimuat Solo Pos: KALAJENGKING MENYEBERANG SUNGAI, DI MANA BUMI DIPIJAK DI SANA LANGIT DIJUNJUNG dan JAMBU AIR PAK BASIR

(11-4-2017)

CARA MENGIRIM CERPEN ANAK KE MAJALAH UMMI

Written By Mang Yus on Rabu, 05 April 2017 | 06.31

Cara Mengirim Cerpen ke Ummi
 Tampilan sisipan Kampung Permata di majalah Ummi

Majalah Ummi adalah majalah yang diperuntukkan bagi keluarga muslim. Terbitnya sebulan sekali. Sudah lama banyak penulis yang tahu bahwa Ummi menerima kiriman cerpen dari penulis lepas. Tapi masih banyak yang belum tahu bahwa Ummi mempunyai sisipan buat pembaca anak-anak. Nama sisipan itu adalah KAMPUNG PERMATA.
Nah, di sisipan KAMPUNG PERMATA ini ada rubrik cerpen untuk anak. Tentu saja siapa pun boleh mengirim cerpen anak ke KAMPUNG PERMATA. Pengalaman saya mengirim cerpen anak ke KAMPUNG PERMATA, sangat menyenangkan. Bisa disebutkan juga bahwa KAMPUNG PERMATA Ummi termasuk media yang “ramah” kepada penulis.
Tahun 2014  saya mulai mengirim cerpen anak ke KAMPUNG PERMATA. Beberapa bulan kemudian ada pemberitahuan, apakah cerpen anak kita mau dimuat atau belum bisa dimuat. Tapi bulan-bulan kemarin saya kirim lagi, tidak ada pemberitahuan. Bila cerpen anak kita mau dimuat, pemberitahuannya baru ada.
Bila seperti itu, beberapa bulan, misalnya 4-5 bulan, kita bisa kirim email konfirmas, menanyakan nasib cerpen anak kita. Insyaalah sepertinya Redaksi KAMPUNG PERMATA akan menjawabnya.
Oh iya, naskah bisa dikirim ke email kru_ummi@yahoo.com atau dikirim via pos ke Redaksi Ummi, Jl. Mede No. 42A Utan Kayu, Jakarta Timur. Saya biasanya hanya dikirim via email saja. Sebagai pengetahuan tambahan, panjang naskah maksimal 5500 karakter. Pembaca KAMPUNG PERMATA adalah anak berusia 5-13 tahun. Kata Redaksi  KAMPUNG PERMATA, usahakan temanya sederhana, bahasanya mudah dipahami, dan tentu saja mengandung hikmah.
Honor untuk cerpen anak KAMPUNG PERMATA ini awalnya Rp. 250.000 tapi sekarang menjadi Rp. 300.000 biasanya dikirim sebelum bulan beredar. Misalnya dimuat edisi November 2015, honornya sudah ditransfer akhir Oktober 2015.
Selamat mencoba mengirim cerpen anak ke KAMPUNG PERMATA. Ini cerpen anak saya yang pernah dimuat KAMPUNG PERMATA, JUARAYANG LANCUNG dan KOMPUTER KANG TARJI.


CARA MENGIRIM CERPEN KE MAJALAH BOBO

Written By Keluarga Semilir on Selasa, 04 April 2017 | 06.56

Cerpen "Kambing Mang Obing" dimuat Bobo setelah setahun sejak tanggal dikirim.

Bagi yang belajar menulis cerita anak, majalah Bobo adalah media yang utama untuk dikirim naskah. Tapi kemudian banyak yang mundur teratur. Kenapa? Saya merasa sudah siap mental untuk urusan menulis. Tahun 2012 saya memulai belajar menulis cerita anak. Awalnya hanya menemani anak yang sedang belajar menulis. Cerita anak saya dimuat di Kompas Anak, Permata-Ummi, Solo Pos, Lampung Pos, Analisa, koran anak Berani, dsb. Naskah yang diterbitkan juga ada beberapa buku. Tapi untuk majalah Bobo, ada catatan tersendiri hehe....
Saya dapat bocoran dari penulis top Bobo seperti Ali Muakhir, Benny Ramdhani, masa tunggu di Bobo sekitar 5-6 bulan. “Kirim saja 4-5 naskah, nanti juga bisa dimuat satu-satu,” kata Mas Ali.
Maka saya pun mengirim dengan kesiapan mental 5-6 bulan itu. Tidak hanya empat naskah, tapi belasan, kemudian puluhan. Sudah setahun sejak tanggal pengiriman (nah, tanggal pengiriman harus selalu dicatat, ya....) belum juga ada yang dimuat. Setelah lebih dari setahun baru ada yang dimuat, satu judul. Tentu saya punya harapan baru, yang lainnya pasti nyusul nih. Eh, ternyata tidak ada lagi. Setahun kemudian baru ada yang dimuat lagi. Wah, ini ajaib secara mental. Nunggu tulisan dimuat sampai bertahun-tahun....
Kesimpulan sementara saya: cerpen anak / dongeng yang saya tulis terlalu jadul tema-temanya, terlalu panjang naskahnya, dan entah apa lagi. Untungnya, majalah Bobo termasuk yang enak dalam berkomunikasi. Dikirim lewat pos dan tidak bisa dimuat, dikembalikan. Ditanya lewat email, dijawab. Jadi ini catatan saya, bila ingin mengirim naskah ke Bobo :
1.      Kirim boleh lewa pos (alamatnya cari di majalah ya, saya sudah posisi enak di kursinya hehe...) boleh lewat email : naskahbobo@gramedia-majalah.com . 
2.      Font Arial, dengan  ukuran 12, spasi 1.5, sekitar 600-700 kata, untuk cerita dua halaman, kalau untuk satu halaman, 250-300 kata. (Jangan ikuti jejak saya, mengirim cerpen dengan panjang rata-rata 900 kata....)
3.      Kirim, catat tanggal pengiriman, dan kembali berpikir menulis cerita baru. Jangan kirim satu lalu menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Nanti kamu lumutan hehe....
4.      Kirimlah secara berkala, misalnya sebulan satu judul. Kalau bisa seminggu satu. Yang istikomah ya. Jangan minggu ini kirim dua judul, setahun berikutnya tidak kirim-kirim.
5.      Belajar yang keras, baca cerpen / dongeng yang pernah dimuat Bobo (dan media lainnya)
6.      Isi saja sendiri-sendiri, jangan nyontek hehe....
Oh, iya, ini cerpen saya yang pernah dimuat Bobo. KOLECER BARALAKKAMBING MANG OBING dan PANEN UBI MADU.



Populer

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni