Jejak Kata :
BARAKATAK (2) BUKU (1) CARPON (42) CATATAN (1) CERPEN (75) CERPEN ANAK (6) DIARI (2) DONGENG (7) DONGENG SUNDA (5) FIKMIN (3) info (1) JEJAK CERPEN (5) KOLOM (2) mengarang (2) MENGIRIM NASKAH (5) NOVEL (2) PUISI (39) RESENSI (1) tps (1)

KAKEK DAN BUNGA DAHLIA

Written By Keluarga Semilir on Senin, 16 Januari 2017 | 09.29

Cerpen Majalah Esquire
Majalah ESQUIRE, Desember 2016

Kakek itu hampir setiap pagi duduk di bangku taman kota. Matanya menatap hamparan rumpun bunga dahlia yang tertata rapi di depannya. Tatapan yang termasuk khusuk saya kira. Karenanya kakek itu tidak perduli dengan yang terjadi di sekitarnya. Orang-orang berjalan di paving blok yang membelah taman, seekor kucing liar kencing di kaki bangku taman, pedagang bubur ayam memukul-mukul mangkok, seekor lebah hinggap di kerah bajunya; luput dari perhatian kakek itu.

CARA MENGUTAK-ATIK JALAN CERITA CERPEN

Written By Keluarga Semilir on Minggu, 15 Januari 2017 | 23.06

“Saya tahu, semakin banyak menulis cerpen, cerpen semakin menjadi sosok yang misterius”

Begitu kira-kira pembelaan saya bila ada yang bertanya mengenai “jalan cerita, plot, karakter, konflik” dalam cerpen. “Dalam menulis cerpen, apakah kita harus memperkuat jalan cerita atau karakter tokoh atau konflik?” kata yang bertanya. Saat menulis cerpen, tentu saja saya tidak mengindahkan pertanyaan seperti itu. Saya hanya perduli dengan “apa yang ingin disampaikan” melalui cerpen itu. Kadang saya hanya ingin berkisah karena kisahnya menarik, atau ingin berkisah karena kisahnya simbolik dan bisa dicapai dengan banyak kemungkinan tafsir, kadang hanya ingin menggambarkan suasana yang saya rasa mencekam dan penting (bagi saya) saat itu, kadang hanya ingin bermain atau merespon bacaan atau situasi atau apapun yang sangat kuat mendorong untuk menulis, dan banyak kemungkinan lainnya.
Tentu saja sejak awal menulis saya membaca buku-buku teori bercerpen. Meski harus diakui saya tidak begitu serius membacanya. Kadang malah hanya semacam ingin tahu saja menurut pengarang yang ini atau akademisi yang itu. Saya punya istilah sendiri untuk yang dipersoalkan oleh yang lain. Misalnya tentang “jalan cerita, karakter, konflik” saya lebih suka mempersoalkannya sebagai “logika cerita”. Karena jalan cerita, karakter, konflik, dan mungkin unsur lainnya, adalah suatu perpaduan.  
Cerita itu harus logis. Tentu saja, meski cerpen mempunyai logika tersendiri. Misalnya, dalam sebuah cerpen, dikisahkan sebuah keluarga miskin yang karena miskinnya hp-nya pun butut, motornya pun butut, mobilnya pun butut. Jangan dulu tertawa, karena ada cerita seperti itu. Bagi saya, pernyataan miskin di cerpen ini sudah bermasalah. Mungkin pengarangnya harus surpai dulu, orang miskin kebanyakan tidak punya mobil, tidak punya motor, hp-butut bisa jadi masih memaksakan membeli atau dikasih orang. Contoh lain, “Orang gendut itu berlari sangat kencang”. Kalimat itu juga bermasalah. Orang gendut itu biasanya karena sedikit bergerak, gerakannya tidak cepat, larinya tidak kencang. Kalau kalimat itu ingin menjadi logis, harus ditambah. Misalnya: “Orang gendut itu berlari sangat kencang. Baru saja dua ratus meter, dia sudah terjatuh saking lelahnya.” Jadi orang gendut itu berlari kencang karena memaksakan diri.
Sori, sori, terlalu panjang kalau kita ngobrol dari situ.
Begini saja, salah satu yang menarik dalam menulis cerpen adalah mengutak-atik jalan ceritanya. Dulu saya sering mendapat contoh seperti ini: Ada seorang nenek penjual kue serabi yang sangat ingin naik haji. Dia menabung setiap hari. Tentunya untuk ongkos naik haji dia harus menabung selama bertahun-tahun. Artinya harus sangat sabar. Tentunya selama menunggu itu si nenek rajin beribadah dan berdoa. Saat uangnya sudah memungkinkan untuk naik haji, ada masalah lain. Di kampungnya ada bencana, banyak saudara dan kenalannya yang menderita. Akhirnya uang yang ditabung untuk naik haji itu disumbangkannya.
Kisah itu bisa menjadi tidak logis. Bila sejak awal dikisahkan bahwa si nenek itu adalah orang yang kikir, keinginan naik hajinya hanya karena ingin meninggikan derajat sosialnya, keputusan menyumbangkan tabungan hajinya itu menjadi tidak logis. Tapi bisa menjadi sangat logis bila sejak awal digambarkan bagaimana ikhlasnya nenek itu, inginnya naik haji karena ghirah yang begitu besar di dalam hatinya. Tentu keputusan menyumbangkan tabungan haji itu adalah sesuatu yang berat. Tapi dengan ghirah beribadah keputusan menyumbangkan tabungan haji itu bisa menjadi konflik yang sangat bagus.
Jadi “jalan cerita, karakter, konflik” itu menyatu. Jalan cerita yang bagus didukung oleh karakter yang bagus dan konflik yang bagus. Juga sebaliknya. Pertanyaannya, bagaimana membuat “jalan cerita” yang menarik?
Tentu sudah jutaan cerpen yang ditulis orang. Karenanya kalau kita tidak mengikuti cerpen yang ditulis orang hari ini, bulan lalu, tahun lalu, abad lalu, kita akan ketinggalan. Kalau kita tidak mengikuti cerpen yang ditulis oleh bangsa lain, bahasa lain, tentu juga akan ketinggalan. Jadi cari tahu untuk tema seperti ini, orang lain membuat jalan cerita seperti apa. Dan kita, sebaiknya membuat jalan ceritanya bagaimana?
Saya masih ingat, setelah contoh “nenek yang ingin naik haji dan menyumbangkan tabungan hajinya” itu, teman saya Arief Gustaman (almarhur) menulis cerpen dengan ending (kira-kira) seperti ini: Ada orang yang berangkat naik haji dan di sana dia melihat si nenek begitu khusuk dan menikmati ibadah hajinya.
Apakah itu logis atau tidak? Tidak dong kan si nenek itu tidak jadi berangkat. Logis dong kan ghirah si nenek begitu hebatnya. Bagi saya ending cerpen itu sangat bagus. Logika di dalam cerpen bukan logika “orang tidak mungkin terbang seperti burung” atau “hewan tidak mungkin bicara bahasa manusia”. Ending di atas menjadi sangat menyentuh karena sejak awal sudah dibangun penggambaran (karakter) si nenek yang ghirah beribadahnya sangat hebat.
Ending lain bisa jadi seperti ini: akhirnya si nenek pergi berhaji karena ada orang kaya yang bernazar ingin membiayai orang lain berhaji dan dia memilih si nenek penjual kue serabi itu. Begitu kira-kira cerpen Asma Nadia yang kemudian difilmkan dengan judul Emak Ingin Naik Haji.

Ok, sudah terlalu panjang tapi bahasannya masih ngambang ya. Nanti kita ketemu lagi deh. Selamat mengutak-atik jalan cerita saja…. (14-1-2017) 

CARA MEMBUAT JUDUL CERPEN YANG MENARIK

Written By Keluarga Semilir on Rabu, 11 Januari 2017 | 23.54

Cerpen Yus R. Ismail
Judul-judul cerpen yang pernah saya tulis

Seringkali saya mendapat pertanyaan tentang judul cerpen. Bagaimana membuat judul cerpen yang menarik?
Jujur saja, saya seringkali hanya tersenyum mendengarnya. Ya, karena sejak awal belajar menulis cerpen, persoalan judul belum pernah “dipikirkan banget”. Bagi saya, judul cukup setelah mewakili keseluruhan cerita. Tapi juga tidak dipungkiri, saya sering terkesan dengan judul-judul menarik, misalnya judul yang “misterius”, aneh atau unik.
Saya lebih cenderung untuk “berpikir hebat” saat menentukan cerita, jalan cerita atau plot. Biasanya otomatis judulnya sudah saya bayangkan. Tentu saja saya pun memilih judul yang unik, mengesankan aneh, dan mempunyai arti lebih luas dan dalam. Misalnya bertahun-tahun lalu, saya membaca sebuah resensi sebuah pementasan tari dengan judul SENDIRI LAGI DAN SENDIRI. Secara tidak sadar judul itu saya ingat karena sangat mengesankan bagi saya. Sekali waktu saat ingin menulis cerpen tentang “akhirnya setiap manusia akan sendiri”, saya pun menulis dengan judul SUNYI JUGA DAN BAHKAN SUNYI. Judul cerpen itu kan bisa saja SUNYI, atau resensi pementasan tari itu berjudul SENDIRI. Tapi saya dan penulis resensi itu memilih yang lebih mengesankan.
Bila tidak mendapatkan judul yang mengesankan?


Saya menulis cerpen tentang “mencari diri”. Ceritanya sudah saya dapatkan, yaitu tentang Dewi yang tiba-tiba menghilang dan Saya sebagai sahabat yang sangat membutuhkan Dewi akhirnya mencari Dewi ke mana-mana. Saya rela berpayah-payah mencari Dewi sampai tidak perduli dengan diri sendiri. Saya sampai lupa makan-minum saat mencari Dewi. Dan akhirnya saya pingsan. Saat siuman orang-orang mengerumuni, lambat-lambat saya mendengar orang berkata. “Di KTP-nya dia bernama Dewi”. Kisah Dewi Mencari Dewi ini sampai selesai dituliskan saya tidak menemukan judul yang hebat, mengesankan, unik. Saya hanya membayangkan judul yang sederhana: DEWI.
Jadi begitulah bagi saya, judul adalah apa yang melintas saat cerita dirangkai. Kalau kurang menarik, unik, tidak masalah sepanjang masih mewakili isi cerita. Toh, saya tidak hanya menulis satu cerpen. Di cerpen berikutnya siapa tahu saya bertemu dengan judul yang unik dan menarik itu.
Tapi bila dihadapkan pada pertanyaan yang tadi, saya akan menjawab: “Kita harus selalu pasang pancaindra untuk mempunyai perbendaharaan judul yang banyak.” Ya, karena saat kita membaca cerpen orang lain, judul-judul akan segera tersimpan dalam ingatan. Dulu saat memulai belajar menulis cerpen, saya terkesan dengan Putu Wijaya. Bagi saya, Putu adalah pendongeng yang hebat. Dia bisa bercerita apa saja, cerita panjang atau pendek tetap memberi kisah menarik bagi pembaca, dan “judul” bisa apa saja. Meja, kursi, lantai, buku, pulpen, ibu, bapak, camat, lurah, bupati, nasi, ikan, kucing, anjing, kuda, kadal, bisa menjadi judul cerpen-cerpen Putu. Dan mengenai produktivitasnya yang saya ingat: menabung naskah setiap hari. Saya pernah memperhatikan, banyak cerpen Putu Wijaya yang titimangsanya hanya berbeda satu angka atau malah satu tanggal. Ok, kita sedang membahas judul, jadi kita kembali ke judul….
Judul-judul cerpen Putu Wijaya yang hanya terdiri dari satu kata kurang menarik. Tapi bagi saya, khususnya bagi saya yang suka dengan cerpen-cerpennya, judul-judul itu menjadi “menarik”. Terutama dikaitkan dengan “apapun bisa menjadi cerpen”. Tentu saja saya pun pernah meniru-niru judul seperti itu.
Suatu masa saya pun sangat menyukai cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma. Ceritanya mengesankan dengan judul yang juga mengesankan. Seorang Wanita Dengan Tato Kupu-Kupu Di Dadanya, Ada Kupu-Kupu Ada Tamu, Perahu Yang Muncul Di Balik Kabut, Tempat Yang Terindah Untuk Mati, adalah contoh judul-judul yang menarik bagi saya. Tentu juga saya pernah “meniru” judul seperti itu.
Tentu juga masih banyak pengarang yang menulis judul-judul unik. Danarto, Afrijal Malna, Kuntowijoyo, Budi Darma, dari ranah puisi ada Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Joko Damono, Joko Pinurbo, dan banyak lagi pengarang, pernah menulis judul-judul unik dan menarik. Tentu saja tidak semua judul yang mereka tulis seperti itu. Dan saya, merasa “tertarik” dan kurang, lebih ke pengalaman menyukai-tidaknya cerita mereka atau puisi mereka.
Jadi kembali ke persoalan judul, bagi saya judul akan menjadi “menarik” bila ceritanya pun unik, menarik dan dalam. Tentu saja akan banyak yang sepakat dan tidak. (10-1-2017)
   




ANAK KUCING KELIMIS MENGGIGIL KEDINGINAN

Written By Mang Yus on Rabu, 28 Desember 2016 | 10.47

Cerpen Tribun Jabar

Tribun Jabar, 25 Desember 2016

Sebenarnya malas menarik gas motor di atas kecepatan 60 km perjam. Tapi malam itu, hampir pukul dua belas, sepanjang jalan Soekarno-Hatta yang lurus ada pemadaman listrik. Sepanjang jalan gelap pekat. Jadi terpaksa saya harus menarik gas lebih kencang dari biasa. Takut ada geng motor yang sering kelayapan tengah malam. Gerimis juga masih turun menyebarkan kuyup.
Alasan kedua tidak mau memutar gas lebih kencang, karena di belakang saya ada Anisa yang sedang memeluk. Saya ingin menjalankan motor sepelan mungkin. Sambil ngobrol tentang apa saja. Atau kalau ada pedagang mie tek-tek, berhenti dulu di pinggir jalan. Tapi Anisa maunya juga ngebut. Kami baru saja pulang dari rumah sakit. Ibu Anisa sedang dirawat. Kami pulang sebentar untuk mengambil hasil rontgen sebelum dirawat yang ketinggalan.
“Stop... stoooppp...!” teriak Anisa mengagetkan saya. Saya langsung menyentuh lampu sent sambil mengerem mendadak. Untungnya tidak banyak kendaraan tengah malam seperti ini.
“Ada apa?” tanya saya.
“Ada anak kucing, kelimis basah, menggigil kedinginan,” jawab Anisa.
“Di mana?”
“Di belakang, dekat got.”
“Jadi sekarang bagaimana?”
“Kita bawa, kasihan anak kucing itu. Siapa tahu tidak ada induknya. Siapa tahu kedinginan.”
Saya memutar motor, lalu melaju perlahan mendekati got. Saya dan Anisa turun. Tapi tidak ada anak kucing meski lampu senter hp sudah menerangi ke sekeliling.
“Anak kucingnya mana?” tanya saya.
“Tadi menggigil di sini, di samping got ini,” kata Anisa.
“Mungkin itu bukan anak kucing.”
“Kalau bukan anak kucing, lalu apa?”
“Tidak tahu, pokoknya bukan anak kucing. Kamu kan hanya melihatnya sekilas. Listrik sedang padam.”
“Tapi lampu motor kan terang. Pasti itu anak kucing.”
“Kalau itu anak kucing, sekarang mana?”
“Tidak tahu.”
Saya mengajak Anisa untuk melanjutkan perjalanan. Tapi Anisa diam.
“Anak kucing pasti mengeong. Pergi kemana pun dia pasti mengeong,” kata saya.
“Tapi bagaimana kalau anak kucingnya bisu?”
“Memangnya ada anak kucing bisu?”
“Bisa jadi ada. Memangnya hanya manusia yang bisa bisu?”
Listrik masih padam. Gerimis masih turun. Rembulan yang terhalang mega hanya tampak bulat remangnya. Waktu saya cermati wajah Anisa saat ada lampu kendaraan yang lewat, saya melihat ada butiran air yang mengalir dari ujung matanya.
 “Kenapa menangis?” tanya saya lagi.
“Anak kucing itu pasti sendiri. Pasti kedinginan karena bulu-bulunya basah oleh gerimis. Pasti menggigil.”
Saya tidak bisa bicara lagi kalau urusannya sudah seperti itu.
“Mungkin anak kucing itu belum makan. Mungkin lapar. Mungkin semalaman dia harus menahan lapar, sambil badannya menggigil kedinginan, sambil kegelapan karena listrik masih padam. Mungkin....”
Saya sebenarnya mau tertawa. Bagi kucing, listrik padam atau tidak barangkali tidak begitu berbeda. Kucing toh tidak akan menyalakan computer atau membaca buku. Tapi saya harus mengerti perasaan Anisa. Dia itu memang sangat perasa. Melihat apapun dia gampang jatuh kasihan. Itu juga yang membuat saya tidak pernah mau pindah ke lain hati. Saya sangat mencintai Anisa.
**

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Setelah mengambil barang yang ketinggalan, kami langsung ke rumah sakit lagi. Di dekat got tadi Anisa minta berhenti lagi. Kami turun lagi. Kebetulan pemadaman listrik sudah selesai. Dibantu lampu penerangan jalan dan lampu senter hp kami mencari lagi anak kucing. Tapi anak kucing itu tidak ada. Suara meongnya juga tidak ada.
“Mestinya kita membawa anak kucing kelimis menggigil kedinginan itu ke rumah. Kita keringkan bulu-bulunya. Lalu memberinya minum susu hangat, makan nasi dicampur ikan matang. Dan menidurkannya di dus yang dilapisi kain-kain hangat.”
“Tapi kucing itu tidak ada.”
“Mestinya ada. Mestinya kita menemukannya. Mestinya....”
“Tapi tidak mungkin kita semalaman mencari anak kucing itu.”
“Anak kucing kelimis menggigil kedinginan.”
“Ya, anak kucing kelimis menggigil kedinginan.”
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Di rumah sakit Anisa menunggui ibunya di dalam ruangan. Saya istirahat di luar dengan menggelar tikar. Subuh-subuh saya sudah dibangunkan oleh pedagang nasi kuning yang masuk ke dalam rumah sakit. Saya membeli dua bungkus. Lalu saya memberitahu Anisa untuk makan sebelum perawat datang dan cleaning service mengepel lantai. Tapi Anisa terdiam sambil memegangi nasi bungkus. Wajahnya murung. Lalu dari ujung matanya mengalir sebutir air.
“Kenapa?” tanya saya sambil menghentikan makan.
“Ingat anak kucing kelimis menggigil kedinginan itu.”
Saya menyimpan nasi kuning di atas tikar.
“Anak kucing itu pasti dimakan tikus,” kata Anisa lagi.
“Tidak mungkin. Kucing itu makan tikus. Bukan dimakan tikus.”
“Tapi anak kucing itu kan masih kecil. Sedangkan tikus got itu besar-besar.”
“Siapa tahu anak kucing itu dibawa induknya. Anak kucing itu digigit tengkuknya, lalu dibawa pindah entah kemana.”
“Tapi induk kucing seringkali tidak mau memindahkan anak kucing yang kelimis basah menggigil kedinginan. Induk kucing hanya mau memindahkan anak-anak kucing yang sehat.”
“Kata siapa?”
“Kata Nisa, sepertinya seperti itu.”
Saya menyesal mengapa tidak pernah mau membaca sedikit literatur tentang kucing. Jadi saya bisa memaksakan pendapat dengan berdasar buku atau laporan ilmiah.
**
Seminggu kemudian ibunya Anisa pulang dari rumah sakit. Saya kembali meneruskan membaca-baca buku bahan skripsi yang sempat tertunda. Hari sabtu saya menghubungi Anisa, mengajaknya nonton film. Sore itu saya menjemput Anisa. Tidak lupa saya membawa anak kucing pemberian tetangga. Anak kucing yang lucu dan suara mengeongnya yang manja.
Anisa awalnya menyambut anak kucing itu dengan gembira. Anak kucing itu ditimangnya, diusap-usap bulunya, disentuh-sentuh kumisnya. Tapi kemudian anak kucing itu diberikannya lagi kepada saya.
“Kenapa? Anak kucing ini kan lebih lucu, sehat, dan suara meongnya begitu jelas.”
“Tapi Nisa ingin anak kucing yang kelimis menggigil kedinginan itu.”
“Kucing itu mungkin bisu.”
“Nisa ingin anak kucing yang kelimis menggigil kedinginan dan bisu.”
Saya memandang Anisa lekat-lekat. Anisa memegang tangan saya. “Maaf ya,” katanya pelan.
“Tidak apa. Ayo, kita ke bioskop sekarang. Anak kucing ini kita kembalikan lagi ke tetangga saya.”
Hari sabtu penonton bioskop seringkali lebih banyak dibanding hari biasa. Apalagi filmnya yang sering dipromosikan sejak jauh-jauh hari. Kami duduk di bangku paling belakang. Dua kap popcorn dan dua botol air mineral menemani nonton kami. Tapi biji-biji popcorn itu berhenti masuk mulut ketika film sudah diputar setengahnya. Konflik cerita semakin memuncak. Tokoh utamanya semakin diharu-biru peristiwa-peristiwa tragis menyedihkan. Para penonton diam. Mungkin menahan napas. Mungkin menahan tangis.
Tapi saya mendengar suara tangis itu. Semakin jelas. Waktu saya tengok Anisa, dari ujung matanya mengalir butiran air.
“Jangan terlalu dimasukan ke hati,” bisik saya.
Suara tangis itu masih terdengar.
“Ini kan hanya sebuah film.”
Suara tangis itu masih terdengar.
“Film itu fiksi, bohong.”
Suara tangis itu masih terdengar.
“Film itu....”
“Nisa bukan nangis karena film.”
Saya memandang Anisa lekat-lekat. Saya usap butiran air yang mengalir di pipi itu.
“Nisa teringat anak kucing yang kelimis menggigil kedinginan itu.”
Saya terpana memandang Anisa.
“Sementara kita bersenang-senang nonton film, anak kucing kelimis menggigil kedinginan itu mungkin sudah dimakan tikus. Mungkin dibawa ke dalam got. Mungkin awalnya dia mengeong kesakitan. Mungkin....”
Saya memeluk Anisa. Jemarinya saya genggam erat sekali. Jujur harus saya katakan, saya mencintai Anisa karena perasaannya itu. Saya  suka wanita yang perasa. Tiba-tiba lampu bioskop menyala. Film sudah selesai. Anisa cepat membersihkan wajahnya dengan keretas tisu. Hampir semua penonton wanita ternyata mengelap wajahnya dengan keretas tisu.
Kami keluar bioskop paling belakang. Saya menggenggam tangan Anisa. Sesekali saya berbisik di telinganya.
“Orang mengira kamu menangis karena film. Padahal kamu menangis karena anak kucing kelimis menggigil kedinginan. Dan saya semakin mencintaimu karena itu,” bisik saya.
Di pintu bioskop saya menghentikan langkah. Teman-teman saya rupanya mau nonton bareng. Seto, Amanda, Rido, Dini, Alex, Ni Luh, Irwan, Nadia, Hendi, Via, Romi, Rianti, Banu, Niken.
”Ketahuan ya nonton duluan,” kata Seto. “Dari dulu nonton sendiri aja. Bawa pacar dong, atau bareng-bareng kaya kita.”
Saya tersenyum. Hanya tersenyum. Tangan saya yang memegang kap popcorn terasa pegal. ***

12 Mei 2016

Tribun Jabar, 25 Desember 2016 

MA ERUM

Written By Mang Yus on Senin, 05 Desember 2016 | 13.19

Carpon Mangle
Mangle no. 2604, 24-30 November 2016

Unggal mulang ka Cihégar, Aini teu weléh tibelat kana dongéng budak anu nyunyuhun tangkal. Ma Erum anu ngadongéngna. Bada ngaji di tajug pasosoré, barudak patingberetek téh lain balik ka imah atawa ngadon arulin. Kalah terus ngariung dina balé-balé bumi Ma Erum. Henteu jauh ti tajug ka bumi Ma Erum téh, ukur kahalangan ku balong jeung sakotakan sawah. Ustad Soléh, anu ngawuruk ngaji, apan carogéna Ma Erum. Tapi Ustad Soléh mah henteu pinter ngadongéng. Ngan Ma Erum anu lamun ngadongéng téh matak jempé barudak anu ngadangukeunana, matak patingbarakatak sareuri nepi kasééleun, matak ngaralamun ngangres ku carita dina dongéng. Padahal mah Ma Erum sareng Ustad Soléh  téh teu acan diparengkeun gaduh turunan.
“Lantaran éta budak resep kana tatangkalan, hiji poé, tina embun-embunanana tumuwuh hiji tangkal,” saur Ma Erum kalayan paroman anu hésé dicaritakeun ku Aini.
Aini saukur inget, manéhna katut sobat-sobat ulinna, sareuri ngadanguna. Kabayangkeun, lamun dina sirah aya tangkal. Wah, pasti éra. Pasti pirungsingeun. Pasti dipoyokan ku sasaha.
“Tapi éta budak henteu ngarasa nalangsa. Lantaran enya ogé éta tangkal téh beuki ngajangkungan, akarna beuki nyeceb kana sakujur awakna, dahan jeung daunna beuki ngarandakah ngémploh héjo; tapi henteu karasa beurat, henteu ngagokan,” saur Ma Erum, “Malahan mah rééaaaa pissaann… anu resepeun ka éta budak.”
“Tapi pasti sagala pameng, Ma. Badé ka bumi henteu tiasa, upami di sakola kumaha tiasa lebet ka kelas,” ceuk Asép.
“Ahéngna….” Ma Erum nuluykeun dongéngna kalayan paroman anu mandiri. Aini mindeng imut sorangan lamun inget kana paroman Ma Erum waktu ngedalkeun kecap éta. Nepi ka ayeuna, sanggeus kuliah tingkat ahir, sanggeus kungsi lalajo panyajak sohor déklamasi atawa aktor sohor maca sajak; Aini tetep ngarasa paroman Ma Erum basa ngedalkeun kecap “ahéngna” anu paling ngageterkeun hate.
“Tangkal téh ngaleutikan lamun éta budak ka jero imah. Kitu deui lamun éta budak saré, diajar di jero kelas, ulin di jero wawangunan. Tangkal téh henteu ngaganggu henteu matak riweuh.”
“Kumaha dongéngna éta budak dipikaresep ku sasaha, Ma?” tanya Isal.
“Waktu éta budak aya di luar, tangkal téh ngajangkungan jeung ngarandakah ngémploh héjo, karembangan jeung baruahan, matak resep anu ningali,” saur Ma Erum. “Henteu saukur papada jalma anu resepeun ka éta budak. Tapi ogé sasatoan. Manuk-manuk nyarayang, ngarendog, aranakan, dina tangkal éta. Hileud néangan kadaharan, jadi kepompong, tuluy gegeleberan mangrupa kukupu anu éndah. Jeung réa deui sasatoan, meureun rébuan jumlahna, anu rupa jeung ngaranna ogé urang mah henteu apal bakat ku laleutikna.”
“Ari bungbuahanana, tiasa diala, Ma?” tanya Oténg.
“Pasti hésé atuh ngalana!” ceuk Réna.
“Tapi lamun dibalédog ku talawéngkar mah pasti maruragan. Saperti lamun Oténg malédog rambutan Pa Haji Dulah,” ceuk Roro.
“Da… da uing mah malédog rambutan téh bongan tara dibéré,” témpas Oténg bari seuri éra.   
Barudak beuki ramé silihgonjak.
“Tangkal téh apan ahéng,” saur Ma Erum. Jep barudak jempé. Aini masih apal enya ogé henteu bisa nurutan, kumaha lentong Ma Erum basa ngedalkeun kecap “ahéng” anu bisa ngajempékeun barudak. “Sasaha ogé bakal dialungan buahna. Henteu kudu ditaékan atawa dirojok ku gantar komo deui dibalédog. Cukup diharéwosan ku éta budak, buah téh bakal ngalayang ka anu ngaruy nempona. Saha waé anu ningali éta tangkal, kakara kereteg wé hayang, pasti dialungan.
**

Ras Aini inget basa sasandiwaraan jeung sobat-sobatna, parebut merankeun budak anu nyunyuhun tangkal. Sok nepi ka ramé paabdi-abdi nepi ka pahereng-hereng. Ma Erum terus misah lamun geus kitu mah.
“Sasaha ogé kaci merankeun budak anu nyunyuhun tangkal,” saur Ma Erum. “Asal aya pasaratanna….”
“Naon, Ma? Naon pasaratanna téh?” Barudak réang.
“Kudu ngumpulkeun sisikian, siki naon waé, terus dibungbun.”
Poé Minggu rebun-rebun kénéh barudak ngabring ka pasar di kota kacamatan anu jarakna aya kana sapuluh kilométerna, naréangan sisikian. Buah, rambutan, manggu, dukuh, alpuket, jeung duka siki naon deui, meunang sakantong kérésék gedé. Sisikian téh terus dibungbun di buruan tukang bumi Ma Erum. Waktu halodo datang, barudak giliran nyéboran.
“Poé Minggu hareup, urang jalan-jalan. Barebekelan nya, urang botram,” ceuk Ma Erum sabada ngadongéng. “Anu baroga karung, barawa nya keur ngakut binih bungbuahan urang.”
Aini masih ngarasakeun rasa anu ahéng, anu diseuseup saseubeuhna, sumebar kana awakna, jadi imut anu éndah. Enya, rasa ahéng anu éndah téh nyulusup kana dadana sabada melakeun bibit bungbuahan di sisi jalan anu ngahgar.
“Bayangkeun lamun tatangkalan éta tumuwuhna dina embun-embunan urang,” saur Ma Erum sabada melakeun sakabéh bibit anu kabawa, terus nareuteup ti lebah puncrut. “Jadi tangkal anu gedé mangpaatna. Akarna jadi pangiket cai, tangkalna jadi tempat hirup rébuan mahluk, kembangna matak resep anu neuteup, buahna nyegerkeun anu hanaang….”
**

Aini masih ngarasakeun wegahna kudu neruskeun sakola ka kota kabupatén. Di Cihégar harit acan aya SMP. Lulus SMP, lulus SMA, Aini nuluykeun kuliah di kota propinsi. “Sakola téh jalan pikeun leuwih wijaksana, Néng,” saur Ma Erum. “Didu’akeun ku Ema sing jadi budak anu bageur, pinter, singer, jeung bener.”
Unggal mulang ka Cihégar, Aini pasti ngalongok Ma Erum. Ma Erum bakal nangkeup, ngusapan kana rambut. Keur Aini, Ma Erum mah henteu weléh marahmay, jeung awét anom. Basa Ustad Soléh ngantunkeun, Aini kakara sadar Ma Erum téh tos sepuh. Aini kakara engeuh gurat-gurat karijut di handap socana. Genep puluh dalapan taun yuswana ayeuna téh.
“Dongéngkeun ka Ema, kumaha sakola anu ngaranna kuliah téh,” saur Ma Erum basa hiji waktu Aini ngéndong.
Aini imut. Enya, Aini ngarasa jadi urang Cihégar anu untung. Lantaran bisa diitung ku ramo urang Cihégar anu bisa kuliah. Abah téh guru di SDN Cihégar. “Kajeun Abah jeung Umi dahar sampeu, asal Ain bisa kuliah,” saur Abah. Duaan deui urang Cihégar anu kabiruyungan bisa kuliah, nyaéta Asép, putra pa kuwu manten, jeung Oténg anu bapana patani hui.
“Tempat kuliah téh namina paguron luhur, Ma,” ceuk Aini. “Tempat anu sami waé sepertos SD, sapertos tajug, sapertos bale-balé bumi Ema. Tapi paguron luhur mah gedong-gedongna ogé laluhur, taringkat. Aya perpustakaan tempat nyimpen rébuan buku, majalah, koran. Upami urang hoyong terang naon waé ogé, di perpustakaan mah aya. Upami urang bade melak tangkal alpuket, hoyong terang kandungan gizina, vitaminna, kumaha carana melak alpuket anu sakedahna, aya sadayana di perpustakaan mah.”
Aini masih inget kumaha marahmayna paroman Ma Erum, meureun ngabayangkeun dongéng Aini. Teuteupna nembus ka jauhna, sajauh imajinasina. Meureun ngabayangkeun anu kumaha paguron luhun tempat kuliah rébuan mahasiswa téh. Sainget Aini, Ma Erum mah can kungsi nyanyabaan jauh. Saurna, sakolana henteu kungsi tamat SD. Tapi maca hurup latén jeung arab lancar leuwih ti kalolobaan urang Cihégar.
Unggal Aini ngadongéngkeun yén manéhna jeung batur sakampusna melak-melakeun bibit tatangkalan di sakuriling kampus anu lega jeung ngahgar, Ma Erum ngabandunganna téh nepi ka ngeclakeun cisoca. Aini henteu apal, naha Ma Erum téh ngangres ku dongéngna atawa sedih ku anu séjén.
Isukna basa Aini ngabaturan Ma Erum jalan-jalan, Aini engeuh réa anu robah di lemburna. Tatangkalan anu baheula dipelak Ma Erum jeung barudak sapanjang sisi jalan, ngan aya tunggulna wungkul anu baruruk. Cenah lantaran jalan aya rencana leuwih dilébarkeun.
“Ciséké anu baheula ngajadikeun kampung urang subur cai, ngan saukur di sababaraha tempat anu masih aya,” saur Ma Erum, duka saukur ngabéjaan duka ngangluh.
Aini kakara sadar, basa mulang dua taun katukang, balong di gigireun imahna digaringkeun. Pangrasa Aini lantaran Umi hoyong pepelakan kayaning jahé, konéng, surawung, salédri, bawang, jeung bungbu-bungbuan séjénna. Padahal pancuran anu nyaian balongna ogé halodo mah garing.
**

“Ain sakadar hoyong mengenang Ma Erum,” ceuk Aini ka Umi. Kamari Abah ngahaja nélépon, ngabéjaan Ma Erum ngantunkeun. Waktu nyéboran bungbun bungbuahan di buruan tukang, Ma Erum ngarasa rarieut. Soréna, basa sujud solat asar, anjeunna henteu cengkat deui.
Dimakamkeunna di buruan tukang bumina, di handapeun tatangkalan, da kitu kahoyongna,” saur Umi. “Amanatna, bumina diwakafkeun pikeun madrasah.”
Aini leumpang gagancangan da sieun kasoréan. Di buruan hareup bumi Ma Erum, Aini ngajanteng lila, neuteup bale-balé, tempat baheula manéhna jeung sobat-sobatna ngadangukeun dongéng Ma Erum.
Tukangeun tangkal nangka Aini ngarandeg. Dadana degdegan. Di makam téh aya anu cingogo. Sanggeus yakin anu cingogo téh sarua manusa, Aini ngaléngkah lalaunan. Kadangu aya sora inghak anu ditahan.
Aini cingogo, ngawurkeun kekembangan, terus ngadu’a. Teu kaampeuh, aya anu ngalémbéréh maseuhan pipina. Tapi ditahan entong kaluar inghakna. Réngsé ngadu’a, Aini ningali Oténg di hareupeunana keur neuteup.
Maranéhna terus cengkat. Di balé-balé duanana dariuk.
“Ain, masih inget dongéng budak anu nyunyuhun tangkal?” ceuk Oténg.
“Naha teu ningali kitu, sakitu ngarandakah ngémploh héjo?” témbal Ain.
“Sarua atuh, dina sirah Oténg mah malah tangkalna geus baruahan.”
Sakali deui Aini ngusap anu ngalémbéréh dina pipina.
** 



GERIMIS SORE

Written By Mang Yus on Minggu, 04 Desember 2016 | 09.37

Puisi Media Indonesia

Media Indonesia, 1 Maret 2015

gerimis turun sore hari
mengantar kepergian sang matahari
adakah engkau mengerti
keindahan di batas langit berupa pelangi
2015


MAWAR 
ngkaukah pemetik mawar itu
betapa cantik menghias rambutmu
bertahun lalu aku menanamnya
menyiram dan memupuknya
            –              dengan cinta
engkaulah pemetik mawar itu
2015 
DI JALAN 

di jalan itu 20 mobil lewat setiap menit
ada orang suci, pencuri, orang hebat, penjahat
tapi jalan tak pernah mengeluh
siapa pun boleh berlalu
di jalan itu engkau ingin menyeberang
baru 2 menit engkau terhalang
wajahmu serupa buah matang
2015 


HUJAN MENIKAM MALAM

lolong anjing tenggelam
gelap sampai jauh mencekam
bunyi tik-tak di atas genting
siapa semedi di sejadah hening?
2015 


SIPUT

siput itu merayap melewati bebatuan
dan tebing terjal, dari sungai menuju sawah
siput itu tak pernah menghitung berapa kali jatuh
tersiram hujan atau tumpahan air sawah
“aku ini si siput, bukan sisipus
aku terus menjemput, sampai kurus
kebijakan yang Engkau simpan di padi menunduk.“
2015


ANGIN 
kembara pergi
mencari jati diri
tak pernah kembali
kembara pulang
kembali ke inti mani
sunyi, di dalam diri
2015


PELNGI 
sejak masa kanak engkau bernyanyi
siapakah pelukismu wahai pelangi?
di sini, di kaki gunung yang indah
mengenangnya tiba-tiba engkau merasa gundah
2015


Populer

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni