Jejak Kata :
BARAKATAK (2) BUKU (1) CARPON (42) CATATAN (1) CERPEN (77) CERPEN ANAK (8) DIARI (5) DONGENG (7) DONGENG SUNDA (5) FIKMIN (3) info (1) JEJAK CERPEN (5) KOLOM (2) mengarang (2) MENGIRIM NASKAH (8) NOVEL (2) PUISI (39) RESENSI (1) tps (1)

PANEN UBI MADU

Written By Keluarga Semilir on Kamis, 11 Mei 2017 | 00.55

Cerpen Bobo
Majalah BOBO, 13 April 2017

Rakey suka makan ubi oven. Awalnya ketika sakit. Tidak ada makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya. Ketika Nenek datang menengok, dia merasakan manis dan legitnya ubi oven.
“Ini ubi oven si madu,” kata Nenek.
Liburan semester ketika Ayah mengajaknya ke rumah Nenek, karena Kakek akan panen ubi, Rakey langsung mengiyakan. Hari sabtu pagi mereka berangkat ke kampung Cilembu. Cilembu merupakan kampung pegunungan di kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Sekitar satu jam setelah keluar tol Cileunyi, mobil sudah memasuki Cilembu. Udara segar berhembus melalui kaca mobil yang dibuka. Pepohonan berjajar sepanjang jalan. Advokat, petai selong, rumpun bambu, nangka, sirsak, sawo, meneduhi jalan aspal. Perkebunan sejauh mata memandang, membuat pemandangan indah. Daun-daun jagung berkilat hijau disorot matahari siang. Petakan-petakan kebun ubi berbunga ungu.
“Kebun ubi itu yang akan kita panen, Pak?” tanya Rakey.
“Bukan. Kebun ubi Kakek di Pasir Hui, harus berjalan kaki dulu dari rumah.”
**
Pagi-pagi Kakek dan Papa sudah siap berangkat. Ibu membuat nasi goreng ceplok telor untuk sarapan. Setelah sarapan semuanya berangkat. Kakek memikul cangkul. Papa menggendong ransel perbekalan. Rakey juga menggendong ransel berisi kamera, jus jeruk, buku dan snack.
Perjalanan ke kebun lumayan melelahkan. Berjalan sekitar setengah jam membuat keringat membasahi baju Rakey. Di kebun ternyata sudah banyak yang membantu. Mang Karim, Mang Asip, Mang Kardun, Pak Ringko, Bik Uneh, Bik Uti, Ceu Nenah. Anak-anak juga ada Dindin dan Siti. Rakey sudah kenal dengan mereka.
“Kita bagian mengumpulkan ubi,” kata Dindin. “Peralatannya pakai rokrak saja.”
Rokrak itu potongan bambu kecil, panjangnya sekitar dua jengkal. Rakey awalnya tidak mengerti. Mang Karim dan Mang Asip mencangkul tanah. Sekali cangkul saja petakan tanah itu membalik. Ubi besar-besar terlihat. Rakey, Dindin dan Siti membantu ibu-ibu mengumpulkan ubi. Tidak semua ubi tinggal diambil dan dikumpulkan di pinggir. Karena banyak juga yang masih menancap di tanah. Pantesan tadi Dindin menyarankan memakai rokrak untuk mengorek ubi yang susah dicabut.
Baru sekitar satu jam saja gunungan ubi sudah ada di mana-mana. Bik Uneh dan Bik Uti memisahkan ubi kecil dan besar. Mang Kardun dan Pak Ringko mewadahi ubi besar dengan karung. Lalu dipikulnya karung itu ke pinggir jalan. Kakek kadang membantu membalik tanah dengan cangkulnya. Papa kadang ikut mengumpulkan ubi. Tapi seringnya memotret dengan kamera.
“Yuk, kita membantu memilah ubi,” kata Dindin.
Rakey dan Siti berlarian ke gunungan ubi.
“Bukan hanya besar dan kecil yang dipisah. Tapi ubi yang kena lanas juga dipisah,” kata Dindin.
“Apaan lanas?” kata Rakey.
Lanas itu hama. Ubi yang kena lanas bolong-bolong. Bila sudah kena lanas, ubinya tidak enak, pahang, pahit dan sengak rasanya.”
Untungnya tidak banyak ubi yang kena lanas. Ubi yang kena lanas dibuang. Ubi yang kecil-kecil, seukuran ubi jari kaki, dibagi-bagi kepada yang membantu. Meski yang membantu sudah membawa ubi banyak, ubi kecil itu masih berkarung-karung. Kebun Kakek memang luas.
**
“Kalau mau ubi bakar, bikin tuh di bawah rumpun bambu,” kata Kakek.
Rakey meraba kening dan lehernya. Keringat membuat bajunya basah. Topi terasa panas. Matahari memang sudah tinggi.
“Ayo, Key, kita bikin api unggun,” kata Dindin.
Tidak susah membuat api unggun. Ranting kecil dan daun bambu kering membuat api besar. Ubi-ubi itu dimasukkan ke dalam api. Ranting dan daun bambu tidak lagi ditambah setelah Dindin bilang, “Sudah cukup.”
Ubi bakarnya lumayan manis. Meski tidak semanis yang Rakey bayangkan. Tapi Rakey tertawa-tawa melihat Dindin dan Siti belepotan arang saat memakannya.
“Kamu juga belepotan arang, Key,” kata Dindin. Rakey mengusap bibirnya, betul saja warna hitam menempel di tangannya.
“Kalau ingin ubinya manis dan legit seperti yang dulu dibawa Nenek, ubi simadu ini harus diunun dulu, disimpan diangin-angin minimal dua minggu,” kata Kakek. “Lebih lama diunun semakin manis. Ubi Cilembu ini sangat terkenal lho. Coba aja lihat di internet, di setiap kota besar ada kios ovennya. Dari Cilembunya sendiri, selain disebar ke kota-kota di Indonesia, juga ada yang diekspor.”
Rakey mengangguk-angguk. Dia kira setelah dipanen langsung dibakar atau dioven akan manis. 
“Sekarang saatnya kita makan siang,” kata Kakek. “Ayo Key, Din, Siti, cuci tangan di pancuran, air yang dialirkan dengan talang bambu.”
Di kejauhan terlihat Nenek, Mama, dan Bik Ikah nganteuran, membawa makanan untuk yang bekerja di kebun. Tiba-tiba Rakey merasakan perutnya berbunyi. Lapar.  ***

CARA MENGIRIM CERPEN ANAK / DONGENG ke SOLO POS

Written By Keluarga Semilir on Selasa, 11 April 2017 | 10.49

Cerpen Yus R. Ismail

Solo Pos termasuk media pada urutan pertama yang harus menjadi prioritas pengarang mengirimkan karyanya. Mengapa? Sepengalaman saya mengirim cerpen anak / dongeng sejak tahun 2013-an, Solo Pos adalah media yang sangat ramah. Maksudnya, ramah karena cerpen anak atau dongeng dengan tema apapun (yang layak untuk diketahui anak) punya kesempatan untuk tampil. Mau penulisnya orang dewasa atau anak-anak, sama-sama punya kesempatan. Dan terutama juga... transfer honornya lancar hehe.
(Sekedar pengumuman saja: saya termasuk pengarang yang sangat mempertimbangkan timbal-balik honor ini. Bukan masalah besarnya, tapi saling menghargainya itu saja. Menulis memang memberikan kepuasan tersendiri, tapi juga ada yang harus dikerjakan. Penulis itu sudah mencari referensi, mengkreasikan imajinasi, waktu menulisnya yang kadang bisa siang-malam. Sangat wajar untuk dibayar oleh siapa saja yang menggunakan hasil dari menulis itu.)
Jadi begitulah, saya yang sudah tua, istri saya yang sedikit tua (haha... agak ngeri katanya dibilang tua) dan anak saya yang waktu itu masih SD, pernah mengirimkan cerpen anak / dongeng ke Solo Pos. Dan tentu semuanya pernah dimuat, meski hanya sekali dua kali.
Begini pengalaman saya mengirim naskah ke Solo Pos:
1.      Panjang naskah sekitar 500-700 kata. Ini bukan patokan yang dikeluarkan Solo Pos atau pernyataan Redakturnya. Cerpen anak/ dongeng saya yang pernah dimuat rata-rata panjangnya berkisar segitu.
2.      Cantumkan nama (biodata) di bawah cerpen anak / dongeng. Juga alamat, nomor telepon, dan tentu nomor rekening. Honor biasanya ditransfer seminggu setelah pemuatan. Selama tiga tahun saya mengirim naskah ke Solo Pos, belum sekalipun saya konfirmasi masalah honor ini. Artinya, Solo Pos adalah media yang sangat amanah dalam pengiriman honor. Honor untuk cerpen anak / dongeng adalah Rp 95.000 (sepertinya 100 ribu tapi dipotong biaya transfer). Tapi mesti dipertimbangkan juga: Dua tahun lalu saat cerpen anak honornya RP 95.000, cerpen dewasa honornya Rp 125.000. Beberapa minggu lalu cerpen dewasa saya dimuat dan honornya Rp 300.000. Sepertinya honor cerpen anak/dongeng pun sudah berubah (mudah-mudahan).
3.      Ada beberapa email yang sering saya pergunakan untuk mengirim naskah ke Solo Pos. Ini di antaranya: redaksi@solopos.com, redaksi@solopos.co.id.
4.      Untuk mengetahui karya kita dimuat atau tidak, epaper Solo Pos berbayar. Kita bisa langganan. Tapi bisa juga kita nyari bantuan lain. Bergabung saja di grup facebook Sastra Minggu dan . Dua grup fb yang biasa mengabarkan karya-karya yang dimuat minggu ini di media-media ini adalah grup yang sangat inspiratif dan membantu pekerjaan penulis.
5.      Tentu gogling mencari tahu cerpen anak / dongeng yang pernah dimuat Solo Pos sangat penting. Pelajari, berkreasi dalam imajinasi, menulis dan kirimkan. Terus begitu. Sebaiknya berjadwal, punya target sendiri. Misalnya: saya harus bisa mengirim ke Solo Pos minimal sebulan satu. Insyaallah ada yang dimuat. Bila tidak juga dimuat setelah setahun mengirim rutin, cek lagi, introspeksi. Apa ada yang salah dengan berbahasa (ejaan dsb) atau email salah, atau eror lainnya.
6.      Selamat mencoba mengirim cerpen anak / dongeng ke Solo Pos.
7.      Boleh diisi apa saja, tergantung kepentingan masing-masing.
8.  Oh iya, ini contoh cerpen saya yang pernah dimuat Solo Pos: KALAJENGKING MENYEBERANG SUNGAI, DI MANA BUMI DIPIJAK DI SANA LANGIT DIJUNJUNG dan JAMBU AIR PAK BASIR

(11-4-2017)

CARA MENGIRIM CERPEN ANAK KE MAJALAH UMMI

Written By Mang Yus on Rabu, 05 April 2017 | 06.31

Cara Mengirim Cerpen ke Ummi
 Tampilan sisipan Kampung Permata di majalah Ummi

Majalah Ummi adalah majalah yang diperuntukkan bagi keluarga muslim. Terbitnya sebulan sekali. Sudah lama banyak penulis yang tahu bahwa Ummi menerima kiriman cerpen dari penulis lepas. Tapi masih banyak yang belum tahu bahwa Ummi mempunyai sisipan buat pembaca anak-anak. Nama sisipan itu adalah KAMPUNG PERMATA.
Nah, di sisipan KAMPUNG PERMATA ini ada rubrik cerpen untuk anak. Tentu saja siapa pun boleh mengirim cerpen anak ke KAMPUNG PERMATA. Pengalaman saya mengirim cerpen anak ke KAMPUNG PERMATA, sangat menyenangkan. Bisa disebutkan juga bahwa KAMPUNG PERMATA Ummi termasuk media yang “ramah” kepada penulis.
Tahun 2014  saya mulai mengirim cerpen anak ke KAMPUNG PERMATA. Beberapa bulan kemudian ada pemberitahuan, apakah cerpen anak kita mau dimuat atau belum bisa dimuat. Tapi bulan-bulan kemarin saya kirim lagi, tidak ada pemberitahuan. Bila cerpen anak kita mau dimuat, pemberitahuannya baru ada.
Bila seperti itu, beberapa bulan, misalnya 4-5 bulan, kita bisa kirim email konfirmas, menanyakan nasib cerpen anak kita. Insyaalah sepertinya Redaksi KAMPUNG PERMATA akan menjawabnya.
Oh iya, naskah bisa dikirim ke email kru_ummi@yahoo.com atau dikirim via pos ke Redaksi Ummi, Jl. Mede No. 42A Utan Kayu, Jakarta Timur. Saya biasanya hanya dikirim via email saja. Sebagai pengetahuan tambahan, panjang naskah maksimal 5500 karakter. Pembaca KAMPUNG PERMATA adalah anak berusia 5-13 tahun. Kata Redaksi  KAMPUNG PERMATA, usahakan temanya sederhana, bahasanya mudah dipahami, dan tentu saja mengandung hikmah.
Honor untuk cerpen anak KAMPUNG PERMATA ini awalnya Rp. 250.000 tapi sekarang menjadi Rp. 300.000 biasanya dikirim sebelum bulan beredar. Misalnya dimuat edisi November 2015, honornya sudah ditransfer akhir Oktober 2015.
Selamat mencoba mengirim cerpen anak ke KAMPUNG PERMATA. Ini cerpen anak saya yang pernah dimuat KAMPUNG PERMATA, JUARAYANG LANCUNG dan KOMPUTER KANG TARJI.


CARA MENGIRIM CERPEN KE MAJALAH BOBO

Written By Keluarga Semilir on Selasa, 04 April 2017 | 06.56

Cerpen "Kambing Mang Obing" dimuat Bobo setelah setahun sejak tanggal dikirim.

Bagi yang belajar menulis cerita anak, majalah Bobo adalah media yang utama untuk dikirim naskah. Tapi kemudian banyak yang mundur teratur. Kenapa? Saya merasa sudah siap mental untuk urusan menulis. Tahun 2012 saya memulai belajar menulis cerita anak. Awalnya hanya menemani anak yang sedang belajar menulis. Cerita anak saya dimuat di Kompas Anak, Permata-Ummi, Solo Pos, Lampung Pos, Analisa, koran anak Berani, dsb. Naskah yang diterbitkan juga ada beberapa buku. Tapi untuk majalah Bobo, ada catatan tersendiri hehe....
Saya dapat bocoran dari penulis top Bobo seperti Ali Muakhir, Benny Ramdhani, masa tunggu di Bobo sekitar 5-6 bulan. “Kirim saja 4-5 naskah, nanti juga bisa dimuat satu-satu,” kata Mas Ali.
Maka saya pun mengirim dengan kesiapan mental 5-6 bulan itu. Tidak hanya empat naskah, tapi belasan, kemudian puluhan. Sudah setahun sejak tanggal pengiriman (nah, tanggal pengiriman harus selalu dicatat, ya....) belum juga ada yang dimuat. Setelah lebih dari setahun baru ada yang dimuat, satu judul. Tentu saya punya harapan baru, yang lainnya pasti nyusul nih. Eh, ternyata tidak ada lagi. Setahun kemudian baru ada yang dimuat lagi. Wah, ini ajaib secara mental. Nunggu tulisan dimuat sampai bertahun-tahun....
Kesimpulan sementara saya: cerpen anak / dongeng yang saya tulis terlalu jadul tema-temanya, terlalu panjang naskahnya, dan entah apa lagi. Untungnya, majalah Bobo termasuk yang enak dalam berkomunikasi. Dikirim lewat pos dan tidak bisa dimuat, dikembalikan. Ditanya lewat email, dijawab. Jadi ini catatan saya, bila ingin mengirim naskah ke Bobo :
1.      Kirim boleh lewa pos (alamatnya cari di majalah ya, saya sudah posisi enak di kursinya hehe...) boleh lewat email : naskahbobo@gramedia-majalah.com . 
2.      Font Arial, dengan  ukuran 12, spasi 1.5, sekitar 600-700 kata, untuk cerita dua halaman, kalau untuk satu halaman, 250-300 kata. (Jangan ikuti jejak saya, mengirim cerpen dengan panjang rata-rata 900 kata....)
3.      Kirim, catat tanggal pengiriman, dan kembali berpikir menulis cerita baru. Jangan kirim satu lalu menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Nanti kamu lumutan hehe....
4.      Kirimlah secara berkala, misalnya sebulan satu judul. Kalau bisa seminggu satu. Yang istikomah ya. Jangan minggu ini kirim dua judul, setahun berikutnya tidak kirim-kirim.
5.      Belajar yang keras, baca cerpen / dongeng yang pernah dimuat Bobo (dan media lainnya)
6.      Isi saja sendiri-sendiri, jangan nyontek hehe....
Oh, iya, ini cerpen saya yang pernah dimuat Bobo. KOLECER BARALAKKAMBING MANG OBING dan PANEN UBI MADU.



KOLECER BARALAK



Kolecer Baralak
 Majalah BOBO, Januari 2017

Kolecer baralak adalah baling-baling dari baralak, daun kelapa kering. Tentu saja kolecer baralak berukuran kecil. Anak-anak di kampung Cilembu bisa membuatnya. Cilembu adalah sebuah kampung di kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Hari ketiga Rakey berlibur di Cilembu, Dindin mengajaknya membuat kolecer baralak.
“Kebetulan di Cilembu sedang panen padi,” kata Dindin. “Karena kolecer baralak biasanya dibuat saat panen padi.”
“Memangnya kenapa?”
“Kan dangdanannya dari pohon padi yang bulir-bulirnya sudah dipanen.”
“Apaan tuh dangdanan?”
Dangdanan itu aksesoris untuk menyimpan kolecer baralak agar bisa berputar dan disimpan di pematang sawah.”
Tentu saja Rakey tidak mengerti. Tapi pagi-pagi ketika Dindin dan Yayat menjemput, Rakey ikut ke sawah. Mereka membawa tas masing-masing, yang berisi segala perbekalan.
**
Awalnya mereka memilih baralak. Baralak yang baik adalah yang lurus dan lentur. Baralak itu dipotong sekitar sejengkal. Lidinya dihilangkan. Kedua ujungnya dirapikan. Lalu ditusuk dengan lidi sepajang satu jengkal.
“Untuk dangdanan kita pilih batang padi yang kecil dan besar,” kata Dindin. Lalu Yayat dan Dindin memilih batang-batang padi besar dan kecil. Batang padi besar dikorek dengan peso raut, pisau untuk menghaluskan atau melubangi sesuatu. Peso raut sangat tajam, ujungnya lancip. Dindin dan Yayat masing-masing membawa peso raut.
Batang padi kecil dimasukkan ke batang padi besar yang sudah berlubang. Lidi daun kelapa basah yang masih lentur ditusukkan ke batang padi, dibiarkan memanjang sebagai ekornya. Dangdanan pun selesai.
Kolecer baralak yang tadi sudah jadi, lidinya dimasukkan ke lubang dangdanan. Lalu dihadapkan ke arah angin. Angin sawah berhembus kencang. Kolecer baralak itu pun berputar. Rakey bertepuk tangan saking senangnya.
Dangdanan kolecer baralak itu diikat ke batang bambu sepanjang satu setengah meter. Lalu bambu itu ditancapkan ke pematang sawah. Kolecer baralak itu berputar semakin kencang. Ekornya yang ditambah rumbai-rumbai tali rapia bergetar tertiup angin.
“Kata ayahku, dulu di kampung kita ini ada pesta kolecer baralak,” kata Yayat. “Ratusan kolecer baralak dibuat dan ditancapkan sepanjang pematang sawah ini.”
Rakey membayangkan pematang-pematang sawah itu penuh dengan kolecer baralak. Sungguh pemandangan yang indah. Tentu mengabadikan dengan kamera kecilnya menjadi sesuatu yang berkesan.
Hari itu mereka membuat sekitar sepuluh kolecer baralak. Itu juga setelah ada anak-anak lainnya yang ikut bergabung, membantu membuat dangdanannya. Sepuluh buah kolecer baralak itu berputar bersamaan. Mereka berfoto-foto di sekitar kolecer baralak itu.
**
Kang Ramdan, anak yang punya sawah paling luas di Cilembu, mendatangi anak-anak. Kang Ramdan ini sudah kuliah di Institut Pertanian Bogor. Kang Ramdan pun ikut berfoto dan bercanda.
“Tahu tidak, ada cerita menarik tentang kolecer baralak ini,” kata Kang Ramdan. Anak-anak menggeleng.
“Rakey, anak Jakarta, tahu tidak?”
“Tidak Kang. Kolecer baralaknya juga baru tahu sekarang.”
“Ada orang pintar, sering dia memandang permainan anak-anak kolecer baralak,” cerita Kang Ramdan. “Orang pintar itu kemudian mempunyai ide, baling-baling dipakai memindahkan air dari sungai ke persawahan yang lebih tinggi. Baling-baling kemudian dipakai tenaga listrik. Baling-baling kemudian dipakai... apapun yang belum tercipta. Tahu siapa orang pintar itu?”
Anak-anak menggeleng.
“Orang pintar itu adalah... kalian. Nanti setelah besar, kalian akan terkenang dengan permainan kolecer baralak ini. Dan kalian akan mendapatkan ide besar.”
Rakey dan teman-temannya tertawa. Mereka lalu bermain sepak bola di petakan sawah yang sudah dipanen. Keringat mengalir di sekujur tubuh Rakey. Hari untungnya tidak terlalu panas. Petakan sawah untuk bermain sepak bola itu memang sengaja memilih yang diteduhi rumpun-rumpun bambu.
Permainan sepak bola baru berhenti ketika suara adzan berkumandang dari mushola. Mushola itu tidak terlalu besar, tapi bersih dan indah. Di halamannya yang luas tumbuh pohon mangga harumanis dan berbagai bunga-bungaan. Mushola itu berdiri di pinggir sawah.
“Woy, ayo ke mushola. Sepak bolanya udahan!” teriak Yayat.
Anak-anak lalu berebut mandi di pancuran. Airnya bening dan besar karena langsung dialirkan dari mataair. Rakey merasa segar mandi di air bening yang melimpah. Baju bersih dan sarung dikeluarkannya dari tas. Anak-anak lalu sholat berjamaah. Imamnya adalah Mang Asip yang tadi ikut menyabit padi.
Selesai sholat Rakey merasakan perutnya berkerubuk. Untungnya segalanya sudah disiapkan Nenek. Bekal nasi dan air pun dikeluarkan. Di bawah pohon mangga aromanis anak-anak makan perbekalannya masing-masing. Sambil makan bersama, sambil saling bercerita, saling tukar perbekalan.
Pulang dari sawah Rakey tersenyum. Pengalaman yang luar biasa. Rakey ingat apa yang dikatakan Kang Ramdan: “Orang pintar itu adalah... kalian. Dan kalian akan mendapatkan ide besar.”
Besoknya Rakey dan Dindin ke sawah lagi, kolecer baralak yang berjajar itu sudah tidak berputar lagi. Batang-batang padinya sudah mengkerut. Baling-balingnya ada yang hilang diterbangkan angin kencang.

Begitulah, usia kolecer baralak itu biasanya hanya sehari. Tapi sampai pulang ke Jakarta, Rakey selalu mengingatnya. Dia mempunyai banyak cerita dan foto untuk diperlihatkan kepada teman-teman. ***

SAYA ADA?

Written By Keluarga Semilir on Sabtu, 25 Februari 2017 | 04.30


Sampai di persawahan matahari baru terlihat semburat merahnya di langit timur. Tapi yang panen sudah menyelesaikan satu petakan besar. Tukang sabit maksudnya, yang sudah menyelesaikan satu petakan besar. Ibu-ibu yang akan ngagebot belum memulai. Mereka masih berkumpul di gubuk, menghabiskan sarapan nasi bungkus.
Tukang sabit itu yang didekati.
“Kang, saya ada?”
Tukang sabit menghentikan pekerjaannya. Di tangan kirinya segenggam rumpun padi, di tangan kanannya sebuah arit.
“Dari kemarin juga tidak ke sini lagi.”
“Berarti pernah ke sini?”
“Tentu saja. Dari mulai panen juga dia selalu ke sini. Kalau sudah duduk di pematang sawah, melihat kami yang panen, seperti yang melamun. Akhirnya mengeluh, entah kepada siapa. Katanya, kenapa panen sekarang mah tidak seramai dulu. Dulu sawah jadi tempat segalanya. Tempat bermain. Tempat harapan. Tempat mojang dan jajaka saling mengikat janji, lalu ka bale nyungcung setelah batu turun keusik naek. Tempat bercengkrama, berburu burung sawah, memancing belut dan ikan, kokoleceran, meniup seruling, sisindiran.
“Lalu?”
“Sekarang, panen teh seperti yang dikejar-kejar bayangan. Rumpun padi dibabat memakai sabit, lalu digebot. Pasti diarit dan digebot mah lebih cepat daripada memakai ani-ani dan diirik. Tidak masalah sebagian padi jatuh ke sawah. Tidak masalah yang gacong tidak merasakan lagi mengirik padi sambil mendengarkan dongeng radio sore-sore. Hasil gacongnya, sekarang mah kan sudah ditunggu oleh bandar di pinggir jalan. Jadi ke rumah hanya membawa uang. Buat makan sehari-hari, tetap saja beras raskin yang diperjualbelikan.”
Tukang sabit menarik nafas panjang, menyimpan sabit dan padi di tangannya.
“Kata-katanya selalu seperti yang melamun sampai jauh. Kata Mamang, sudah begini jamannya, Jang. Praktis kalau membawa uang ke rumah. Kebutuhan sehari-hari, sekarang ini bukan lagi hanya beras dan ikan asin saja. Tapi juga televisi, video player, telepon genggam, kulkas. Kalau tidak serba cepat, wah tidak terbeli kebutuhan itu. Suka melamun berkepanjangan kalau Mamang bicara begitu. Lalu katanya, ‘Yaitu, Mang, bukan tidak menerima dengan jaman yang berubah. Jaman itu seperti takdir, kita harus selalu menghadapinya. Tapi tidak menerima kenapa kita mesti berubah. Segala serba cepat, seperti yang sedang berlomba. Padahal, kita berlomba dengan siapa? Sementara yang hilang, yang hilang dari hati ini, tidak dianggap sama sekali. Kita ini pura-pura modern, pura-pura maju, padahal ada yang hilang dari hati, yang sangat berharga, kita pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak kehilangan.’ Setelah bicara begitu, lalu dia pergi.”
“Ke mana?”
“Entahlah. Tapi katanya mau demonstrasi.”
Tidak akan salah, kalau demonstrasi pasti ke kota. Di depan gedung DPR sekumpulan orang sedang demonstrasi. Katanya sedang mendemo tarif rumah sakit yang terlalu mahal. Waktu yang memimpin demo turun dari panggung, itu yang dihampiri.
“Saya ada?”
Juru bicara demo itu menatap, lalu memandang langit kelabu. Entah apa yang ada di pikirannya. Apalagi di hatinya. 
“Saya ada?”
“Yaitu yang membuat kemarin ramai di sini. Setiap hari yang demo itu kan ribuan orang jumlahnya. Mungkin tidak akan berkurang, karena masalah yang didemo juga selalu ada. Rumah sakit mahal, beas raskin diperjualbelikan, uang pajak milyar-milyar dikorupsi, proyek apapun selalu dipotong siluman,  penerimaan pegawai negeri disogok, dan masih berjejer masalah di negeri ini. Nah, dia ikut jadi juru bicara.”
Juru bicara demo itu diam.
“Apa katanya?”
“Katanya: ‘Mendemo orang lain itu gampang. Kesalahan orang lain itu jelas terlihat. Bagaimana kalau yang didemo itu diri kita sendiri, hati kita sendiri, pikiran kita sendiri. Ke gedung apa kita harus datang kalau yang didemo itu diri sendiri? Apa yang harus kita pidatokan kalau yang kita demo itu hati kita sendiri? Gampang sebenarnya menghitung kesalahan diri sendiri juga, karena kalau kita jujur setiap kesalahan itu terasa. Tapi apakah kita ikhlas mengakuinya? Apakah kita berani menunjuk hidung sendiri?’ Tentu saja ribuan orang yang berdemo terdiam, seperti jengkrik terkejut karena ada orang yang lewat. Lalu dia bicara lagi: ‘Sudah saatnya kita mendemo diri sendiri. Mari kita tunjuk hidung sendiri. Begitu banyak kelakuan yang tidak kita kehendaki, dan begitu banyak kehendak yang tidak kita lakukan. Itu semua harus kita demo. Harus terus-terusan kita demo!”
Juru bicara demo itu diam.
“Terusnya bagaimana?”
“Ribuan orang yang berdemo itu awalnya diam. Tapi kemudian ada yang mengomentari seorang dua orang. Katanya, siapa itu yang bicara? Mengapa berani-berani mendemo tukang demo? Kata yang lain, tidak salah lagi itu oknum. Atau penyusup yang sengaja disusupkan oleh musuh. Kata yang lain, turunkan! Turun...! Akhirnya dia pada narik, lalu dilemparkan ke pinggir jalan.”
“Sekarang ke mana?”
“Katanya terus mendemo, mendemo dirinya sendiri.”
“Ke mana?”
“Katanya ke surau di pinggir sawah.”
Waktu itu juga langsung disusul ke surau. Di teras surau yang ada seorang petani yang selesai mencangkul sawah.
“Mang, saya ada?”
“Amang juga kenapa istirahat di sini, siapa tahu dia ada lagi. Ternyata tidak ada. Kemarin-kemarin mah ada di dalam surau. Kelihatannya sedang merenung, menunduk. Tapi yang terdengar jelas suara tangisnya. Enak mendengarnya juga, yang menangis seperti yang begitu bersedih. Amang juga suka mendengarnya. Kalau bisa ingin menangis seperti itu. Ingin punya waktu untuk menangis seperti itu. Saat Amang sedang asyik mendengar yang menangis, dia berhenti lalu keluar surau. Katanya: ‘Bukan di sini... bukan di sini tempat saya yang sebenarnya. Tempat saya itu di alam ramai. Masih besar tanggung jawab yang mesti diselesaikan di alam ramai. Bukan di sini...’. Lalu dia pergi.”
“Ke mana?”
“Katanya ke pasar, mau berdagang.”
Disusul ke pasar, ternyata dia sudah pergi. Pedagang pindang yang menceritakan dia.
“Kemarin memang berdagang di sini. Tapi tidak lama. Dagangnya sih terlalu polos.”
“Polos bagaimana?”
“Kalau mau berdagang di sini, mestinya segala ilmu itu dipakai. Apakah itu ilmu yang kelihatan atau yang tidak kelihatan. Ilmu yang tidak kelihatan, para pedagang di sini memakai penajem segala macam. Ilmu yang kelihatan, kurangilah timbangan seons dari sekilo, kan jelas untungnya. Eh, dia berdagang polos, ya tentu dagangannya numpuk terus.”
“Rugi?”
“Tentu saja. Entah bagaimana terusnya karena dia juga tidak bicara lagi masalah dagang. Katanya mau beristirahat dulu.”
“Istirahat di mana?”
“Di rumahnya.”
Rumahnya di pinggir danau. Enak buat istirahat. Sejuk. Tapi sepertinya dia bukan sedang istirahat. Dia hanya melarikan diri dari kesumpekan.
Diketuk beberapa kali tidak ada yang menjawab. Eh, ternyata pintunya tidak terkunci.  Didorong, kepala masuk sambil mengucapkan salam.
“Hallooo... selamat siang...!”
Tidak ada yang menjawab.
 “Saya ada...?”
Suara yang perlahan. Tapi kalimat “saya ada?” tidak berhenti, bolak-balik di dalam rumah. Mantul ke sana ke mari, mantul ke gorden mantul ke plafon mantul ke jendela mantul ke tiang mantul ke meja mantul ke ubin mantul ke tembok... lalu menyelusup, menyelusup ke karpet menyelusup ke gelas menyelusup ke lemari menyelusup ke lampu menyelusup ke selimut menyelusup ke piring menyelusup ke baju menyelusup ke kasur... terus berdengung, berdengung di dalam rumah berdengung di dalam kamar berdengung di dalam galon berdengung di toilet berdengung di dalam dada.
Perasaan, iya perasaan, sudah berbulan-bulan saya di rumah. Sendirian.
***

Nopember-Desember 2012 / 2013
 
           
Ngagebot = melepaskan bulir-bulir padi dari tangkainya dengan cara memukulkan pohon padi ke kayu.
Teh, mah(Sunda) = kata yang menegaskan
Ka bale nyungcung = menikah
Batu turun keusik naek (pribahasa) = suka sama suka
Kokoleceran = bermain baling-baling
 Diirik = melepaskan bulir-bulir padi dengan diinjak-injak
Gacong = kuli memanen padi
Mamang, Amang = paman

Populer

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni