Jejak Kata :
BARAKATAK (2) BUKU (1) CARPON (42) CATATAN (1) CERPEN (76) CERPEN ANAK (6) DIARI (5) DONGENG (7) DONGENG SUNDA (5) FIKMIN (3) info (1) JEJAK CERPEN (5) KOLOM (2) mengarang (2) MENGIRIM NASKAH (5) NOVEL (2) PUISI (39) RESENSI (1) tps (1)

BODOH

Written By Keluarga Semilir on Selasa, 07 Februari 2017 | 03.35

Orang-orang menyebutnya Si Iot. Entah kependekan dari ideot atau namanya memang seperti itu. Saya baru setahun belakangan ini mengetahui Iot ini menjadi bagian dari kampung saya, karena saya baru beberapa tahun tinggal di sini. Wajahnya yang mongoloid, berjalannya, ilernya yang kadang tidak bisa ditahan bibirnya, membuatnya khas dan gampang dikenali. Tapi yang selalu saya ingat adalah senyumnya. Mengatakan apapun orang, apakah bertanya atau mengejek atau mempermainkannya atau hanya ingin mengetahui pikirannya, Iot selalu tersenyum.
Suatu hari saya pulang menyusuri tepi hutan melalui jalan pesawahan. Di sebuah gubuk saya melihat Iot sedang memegang tali-tali yang dihubungkan dengan bebegig (orang-orangan sawah), kaleng-kaleng, dan potongan-potongan plastik dan koran. Ketika tali itu ditarik-tariknya maka bebegig dan potongan-potongan keretas itu bergerak, kaleng-kaleng berkelontangan nyaring. Dan burung-burung pun terbang menjauh. Katanya, itulah pekerjaan Iot hampir setiap hari, mengusir burung-burung yang mencuri bulir-bulir padi yang mulai menguning.
Saya ikut beristirahat di gubuknya. Saya minum air putih, tersenyum sambil menawarinya kue wafer. Serombongan burung pipit kemudian datang dan hinggap di rumpun-rumpun padi. Saya heran saat Iot mendiamkan burung-burung itu mematuki bulir-bulir padi. Setelah sekitar dua menit baru tali itu ditariknya dan burung-burung pun pergi. Kejadian serupa terjadi lagi beberapa saat kemudian. Saya pun bertanya dan Iot hanya tersenyum sambil mengangkat kue wafer pemberian saya dan menirukan burung-burung makan. Saya pun tersenyum, senyum terkejut dan berusaha mengerti.
Pulang melalui kebun-kebun ubi, saya teringat Forest Gump yang IQ-nya di bawah normal, dengan suara dan mimik wajah khas ia berujar yakin, “Bodoh itu bertindak bodoh....”. Saya mengulang kalimat itu seperti berzikir. Kalimat itulah yang menghentikan tangan saya saat melempar kucing yang mencuri ikan pindang.   “Bodoh itu bertindak bodoh... bodoh itu bertindak bodoh....” 

BERTAKWA-KAFIR-MUNAFIK-FASIK-ZOLIM

Anak saya yang baru kelas 4 SD begitu bersemangat khatam Al-Qur’an. Ketika berlibur ke pantai Pangandaran, saya baru tahu di penginapan bahwa anak saya membawa Al-Qur’an di tasnya. Dan dia memang membacanya sembarang waktu. Sebagai dukungan dan empati terhadapnya, saya membaca terjemah Al-Qur’an, asbabunnuzul ayat-ayatnya, tafsirnya minimal dari At-Tabari dan Ibnu Kasir, berusaha mencatatnya, dan tentu merenungkannya karena saya hanya membaca satu halaman satu hari.
Ayat-ayat awal surat Al-Baqarah banyak menyebut dan berkisah tentang manusia Bertakwa, Kafir, Munafik, Fasik, Zalim. Bertakwa adalah beriman kepada yang gaib, mengerjakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki. Kafir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah, rasul-rasulNya, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, dan hari Kiamat. Munafik yaitu orang yang di dalam hatinya ada penyakit ragu, tidak yakin akan kebenaran, dan tidak beriman. Fasik adalah orang yang melanggar ketentuan-ketentuan agama, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Zalim adalah orang yang melakukan perbuatan aniaya, yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
Yang mengerikan ketika menutup Al-Qur’an, pertanyaan itu bergaung di pikiran dan hati saya: masuk ke golongan mana dirimu? Masuk ke golongan mana perbuatanmu? Masuk ke golongan mana ucapanmu?....


TEMAN LAMA

Written By Keluarga Semilir on Senin, 06 Februari 2017 | 06.05

Pulang mengantar anak sekolah, di sudut alun-alun, saya bertemu teman lama. Teman yang sudah berpisah hampir tiga puluh  tahun lalu. Dia menyalami saya begitu hangat, mengguncang-guncang tangan saya. Lalu dia bercerita banyak hal: sekolahnya, merantaunya ke Jakarta dan kota-kota di Sumatera, keluarganya, ganti namanya yang menyebabkan saya tidak pernah melihatnya di akun medsos, dan keterkejutannya melihat saya (yang katanya sudah jauuuhh berubah) sedang baca koran di sudut alun-alun.
Hampir satu jam, sambil ditemani kopi dan roti, pembicaraan kami dikuasai olehnya. Setelah dia melambaikan tangan dari dalam bis jurusan Jakarta, saya tidak bisa melanjutkan membaca koran. Dulu, saya mengenal dia sebagai orang yang paling pendiam, punya kesulitan tersendiri untuk menyampaikan pendapat. Dan sampai sedetik sebelum bertemu dengannya, penilaian saya masih “tetap sama”. Begitu sulitnya menilai manusia. Penilaian kita seringkali “jalan di tempat”, sementara yang kita nilai sudah berubah entah kemana....  (4-2-2017)

SUATU HARI DI NEGERIKU

Written By Keluarga Semilir on Selasa, 24 Januari 2017 | 11.57

Cerpen Banjarmasin Pos
Banjarmasin Pos, 22 Januari 2017

Motor metik itu melaju dengan kecepatan sedang. Malam baru saja datang. Sekilas motor yang dikemudikan Amran tidak berbeda dengan motor-motor lainnya. Tapi tunggu dulu, motor Amran tidak setergesa motor-motor yang baru pulang kerja. Mereka ingin cepat sampai ke rumah, bercengkrama dengan anak istrinya dan istirahat.
Motor Amran melaju tenang. Saat ini kan bukan waktunya orang berjalan-jalan. Oh, rupanya Amran sedang galau. Pikirannya tidak tenang. Gelisah. Apa penyebabnya? Di belakang Amran ada tas besar. Talinya diselendangkan ke tubuh Amran. Tidak akan ada yang menyangka kalau di dalam tas besar itu tersimpan uang satu miliar rupiah. Wow!
Tentu saja tidak semuanya dalam bentuk rupiah. Kebanyakan malah dalam lembaran dollar Amerika. Amran sendiri tidak tahu jumlah uang di tas itu. Tadi pagi Amran hanya dikontak kenalannya untuk mengantarkan tas ini.
“Tugasmu hanya mengantarkan tas sampai ke Jalan Odol-odol. Di bawah pohon flamboyan sudah ada orang yang menunggu. Tanya kode sandinya. Kalau jawabannya betul, kasihkan,” kata kenalannya itu. “Upahmu sepuluh juta rupiah.”
Pekerjaan menjadi pengantar gelap itu sebenarnya sudah dilakukan Amran cukup lama. Tapi dia sempat berhenti. Dia takut. Istrinya selalu bilang itu dosa. Menjadi kaki tangan koruptor, apa bedanya dengan koruptor itu sendiri? Kenalannya seringkali membujuk. Amran cukup tabah menolaknya meski upahnya terus meningkat. Dia hanya mau melakukan pengantaran bila sedang kepepet saja.
Tadi pagi adalah awal hari yang kepepet. Amran tidak bisa menolak ketika kenalannya menghubungi. Kontrakan rumah harus segera dibayarkan. Kata anaknya yang baru kelas dua SD, hanya dia sendiri yang belum membayar uang iuran pembuatan toilet sehat.
Amran bertekad, ini adalah yang terakhir dia mau menjadi pengantar gelap. Itu yang membuat Amran gelisah. Dia harus memanfaatkan pengantaran yang terakhir ini.
“Setelah ini, Akang tidak akan menjadi kurir gelap lagi,” kata Amran kepada istrinya. “Akang akan menolak meski dibayar berapapun. Akang tahu, menjadi kaki tangan koruptor tidaklah berbeda dengan koruptor itu sendiri. Akang akan menjadi pegusaha, pengusaha yang sanggup membiayai kebutuhan keluarganya. Malah menjadi tumpuan saudara-saudara dan tetangga-tetangganya yang sekarang sama-sama susahnya.”
Istrinya yang sedang menggoreng ceplok telor tersenyum kecut, senyum yang bagi dirinya sendiri tidak enak.
Amran tidak meneruskan lagi kata-katanya. Dia tahu, istrinya tidak ingin diajak membicarakan pekerjaan serabutannya itu. Ah, Amran ingat, bukan istrinya yang tidak mau membicarakan itu sepertinya. Tapi hal itu sebenarnya sudah menjadi basi bagi mereka. Ya, karena pikiran ‘pengantaran yang terakhir’ itu sudah pernah dikatakannya, sejak dua tahun lalu, saat pengantaran baru dua kali dilakukan.
Maka Amran makan nasi dan ceplok telor dengan segera. Lalu mengambil jaket di gantungan paku, dan berlalu menemui kenalan pemberi pekerjaannya. Di sebuah kafe mereka bertemu.
“Pekerjaan kitu itu gampang,” kata kenalannya sambil minum kopi. “Tapi semakin hari semakin sulit. Lewat transfer rekening sudah tidak bisa. Diantar langsung seperti ini banyak mata-matanya. Makanya hati-hati, bila ada yang mengikuti, segera berbelok dan jangan sampaikan ke tempat tujuan.”
Berkali-kali Amran melihat ke kaca spion. Tidak ada motor atau mobil yang mengikuti. Semuanya melaju kencang. Di pinggir jalan yang agak gelap Amran mengerem motonya mendadak. Dia segera turun, membuka tas, mengambil beberapa gepok uang dari sebelah dalamnya, lalu dimasukkan ke pelastik yang sudah dipersiapkannya, dan memasukkan gepokan pengganti yang sudah dipersiapkannya. Pelastik berisi uang itu dilemparkannya ke semak-semak dekat tiang lampu merkuri yang padam. Setelah itu dia segera memacu motornya.


Itu yang membuat Amran gelisah. Dari dulu dia mengantar uang yang jumlahnya banyak. Tapi tidak pernah mendapat upah lebih dari sepuluh juta rupiah. Dia sendiri memang tidak tahu jumlah uang yang diantarkannya. Tapi setelah pengantaran sukses, kenalannya itu sering mengajaknya minum kopi.
“Tahu tidak, jumlah uang yang kamu antar tadi itu adalah 1,3 miliar rupiah,” kata kenalannya sekali waktu.
Tentu saja Amran bengong. Sebanyak itu? Makanya kali ini Amran ingin memanfaatkan kesempatan. Setelah sampai ke tempat yang dijanjikan, menyerahkan tas ke pengantar berikutnya, Amran segera pulang. Amran berdoa semoga uang di dalam pelastik yang dilemparkan ke semak-semak tidak ada yang menemukan, karena baru besok dia berniat mau mengambilnya.
Begitu sampai di jalan Odol-odol, di tempat yang sudah ditentukan, sudah ada orang yang menunggu. Tidak banyak percakapan yang dilakukan Amran. Dia hanya bertanya kata sandi, ketika dijawab tepat, maka tas besar itu pun diserahkan.
**

Pengantar kedua namanya Doni. Dia pun hanya bertugas mengantar tas ke depan super market Oncom. “Nanti akan ada orang yang habis belanja menghampirimu. Tanyakan saja kata sandinya. Bila jawabannya betul, kasihkan. Makanya kamu menunggu harus tepat di samping ATM.” Begitu instruksi dari pemberi tugasnya. “Upahmu sepuluh juta rupiah, ambil ke sini setelah pekerjaan selesai.”
Doni pun sama gelisahnya dengan Amran. Anaknya sedang dirawat di rumah sakit. Dia tidak punya asuransi atau BPJS. Sebagai pasien umum, pembayarannya pasti mahal. Belum lagi cicilan motor sudah hampir tiga bulan menunggak. Kolektor sudah beberapa kali menghubungi mau mengambil motornya. Wah, kalau tidak ada motor, bagaimana dia mau bekerja sebagai seles makanan ringan?
“Kita ini adalah golongan yang terjepit,” kata Doni kepada istrinya. “Pemerintah hanya memperhatikan pegawai negeri. Gaji PNS terus naik. Katanya agar korupsi bisa minimal. Nyatanya seleksi jadi pegawai negeri sendiri menjadi lahan korupsi yang sangat besar. Sudah menjadi pengetahuan umum, jalan belakang atau sogok menyogok untuk menjadi PNS seharga ratusan juta rupiah.”
“Maksud Akang gimana?” tanya istrinya tidak mengerti.
“Pemerintah juga katanya memperhatikan orang miskin dengan memberi Bantuan Langsung Tunai, kartu sehat, beras miskin. Tapi kita, dibilang miskin katanya tidak karena kita masih muda dan punya pekerjaan. Sementara Akang menjadi pekerja rendah di sektor swasta, meski sudah bekerja keras, tidak cukup hanya untuk hidup sederhana, membayar sekolah anak-anak, apalagi membayar BPJS.”
“Maksud Akang?” Istrinya tetap tidak mengerti.
“Ya, Akang akan mengambil lagi tawaran mengantarkan uang itu.”
Makanya di tempat gelap Doni pun menghentikan motornya, mengambil uang dari tas, memasukkannya ke dalam pelastik, dan melemparkannya ke gorong-gorong gelap. Pulang menyelesaikan pekerjaannya, Doni berdoa malam ini tidak turun hujan. Karena kalau hujan, usahanya sia-sia. Uang itu akan terbawa air.
**

Tujuan akhir kantong besar berisi uang satu miliar rupiah itu adalah rumah seorang pejabat legislatif. Begitu motor berhenti di depan gerbang, pintu gerbang itu langsung membuka. Rupanya satpam sudah diberitahu akan datang tamu istimewa itu. Tas besar berisi uang satu miliar rupiah dari seorang pejabat dinas yang meminta anggarannya disahkan dalam APBD, dibawa oleh pembantunya.
“Ayo siapkan semennya. Uang ini harus kita simpan di dalam tembok,” kata pak pejabat. “Saya mendengar kabar tidak enak, rumah kita katanya mau digeledah besok atau lusa.”

Pembantunya segera mengambil semen dan mengguyurnya dengan air. Pak pejabat itu pun membuka tas. Uang gepokan seratus ribuan yang berwarna merah berjajar rapi. Tapi begitu dikeluarkan satu per satu, pak pejabat terkejut. Di bawah gepokan uang berwarna merah itu... adalah gepokan kertas hvs putih. ***

KAKEK DAN BUNGA DAHLIA

Written By Keluarga Semilir on Senin, 16 Januari 2017 | 09.29

Cerpen Majalah Esquire
Majalah ESQUIRE, Desember 2016

Kakek itu hampir setiap pagi duduk di bangku taman kota. Matanya menatap hamparan rumpun bunga dahlia yang tertata rapi di depannya. Tatapan yang termasuk khusuk saya kira. Karenanya kakek itu tidak perduli dengan yang terjadi di sekitarnya. Orang-orang berjalan di paving blok yang membelah taman, seekor kucing liar kencing di kaki bangku taman, pedagang bubur ayam memukul-mukul mangkok, seekor lebah hinggap di kerah bajunya; luput dari perhatian kakek itu.

CARA MENGUTAK-ATIK JALAN CERITA CERPEN

Written By Keluarga Semilir on Minggu, 15 Januari 2017 | 23.06


“Saya tahu, semakin banyak menulis cerpen, cerpen semakin menjadi sosok yang misterius”

Begitu kira-kira pembelaan saya bila ada yang bertanya mengenai “jalan cerita, plot, karakter, konflik” dalam cerpen. “Dalam menulis cerpen, apakah kita harus memperkuat jalan cerita atau karakter tokoh atau konflik?” kata yang bertanya. Saat menulis cerpen, tentu saja saya tidak mengindahkan pertanyaan seperti itu. Saya hanya perduli dengan “apa yang ingin disampaikan” melalui cerpen itu. Kadang saya hanya ingin berkisah karena kisahnya menarik, atau ingin berkisah karena kisahnya simbolik dan bisa dicapai dengan banyak kemungkinan tafsir, kadang hanya ingin menggambarkan suasana yang saya rasa mencekam dan penting (bagi saya) saat itu, kadang hanya ingin bermain atau merespon bacaan atau situasi atau apapun yang sangat kuat mendorong untuk menulis, dan banyak kemungkinan lainnya.
Tentu saja sejak awal menulis saya membaca buku-buku teori bercerpen. Meski harus diakui saya tidak begitu serius membacanya. Kadang malah hanya semacam ingin tahu saja menurut pengarang yang ini atau akademisi yang itu. Saya punya istilah sendiri untuk yang dipersoalkan oleh yang lain. Misalnya tentang “jalan cerita, karakter, konflik” saya lebih suka mempersoalkannya sebagai “logika cerita”. Karena jalan cerita, karakter, konflik, dan mungkin unsur lainnya, adalah suatu perpaduan.  
Cerita itu harus logis. Tentu saja, meski cerpen mempunyai logika tersendiri. Misalnya, dalam sebuah cerpen, dikisahkan sebuah keluarga miskin yang karena miskinnya hp-nya pun butut, motornya pun butut, mobilnya pun butut. Jangan dulu tertawa, karena ada cerita seperti itu. Bagi saya, pernyataan miskin di cerpen ini sudah bermasalah. Mungkin pengarangnya harus surpai dulu, orang miskin kebanyakan tidak punya mobil, tidak punya motor, hp-butut bisa jadi masih memaksakan membeli atau dikasih orang. Contoh lain, “Orang gendut itu berlari sangat kencang”. Kalimat itu juga bermasalah. Orang gendut itu biasanya karena sedikit bergerak, gerakannya tidak cepat, larinya tidak kencang. Kalau kalimat itu ingin menjadi logis, harus ditambah. Misalnya: “Orang gendut itu berlari sangat kencang. Baru saja dua ratus meter, dia sudah terjatuh saking lelahnya.” Jadi orang gendut itu berlari kencang karena memaksakan diri.
Sori, sori, terlalu panjang kalau kita ngobrol dari situ.
Begini saja, salah satu yang menarik dalam menulis cerpen adalah mengutak-atik jalan ceritanya. Dulu saya sering mendapat contoh seperti ini: Ada seorang nenek penjual kue serabi yang sangat ingin naik haji. Dia menabung setiap hari. Tentunya untuk ongkos naik haji dia harus menabung selama bertahun-tahun. Artinya harus sangat sabar. Tentunya selama menunggu itu si nenek rajin beribadah dan berdoa. Saat uangnya sudah memungkinkan untuk naik haji, ada masalah lain. Di kampungnya ada bencana, banyak saudara dan kenalannya yang menderita. Akhirnya uang yang ditabung untuk naik haji itu disumbangkannya.
Kisah itu bisa menjadi tidak logis. Bila sejak awal dikisahkan bahwa si nenek itu adalah orang yang kikir, keinginan naik hajinya hanya karena ingin meninggikan derajat sosialnya, keputusan menyumbangkan tabungan hajinya itu menjadi tidak logis. Tapi bisa menjadi sangat logis bila sejak awal digambarkan bagaimana ikhlasnya nenek itu, inginnya naik haji karena ghirah yang begitu besar di dalam hatinya. Tentu keputusan menyumbangkan tabungan haji itu adalah sesuatu yang berat. Tapi dengan ghirah beribadah keputusan menyumbangkan tabungan haji itu bisa menjadi konflik yang sangat bagus.
Jadi “jalan cerita, karakter, konflik” itu menyatu. Jalan cerita yang bagus didukung oleh karakter yang bagus dan konflik yang bagus. Juga sebaliknya. Pertanyaannya, bagaimana membuat “jalan cerita” yang menarik?
Tentu sudah jutaan cerpen yang ditulis orang. Karenanya kalau kita tidak mengikuti cerpen yang ditulis orang hari ini, bulan lalu, tahun lalu, abad lalu, kita akan ketinggalan. Kalau kita tidak mengikuti cerpen yang ditulis oleh bangsa lain, bahasa lain, tentu juga akan ketinggalan. Jadi cari tahu untuk tema seperti ini, orang lain membuat jalan cerita seperti apa. Dan kita, sebaiknya membuat jalan ceritanya bagaimana?
Saya masih ingat, setelah contoh “nenek yang ingin naik haji dan menyumbangkan tabungan hajinya” itu, teman saya Arief Gustaman (almarhur) menulis cerpen dengan ending (kira-kira) seperti ini: Ada orang yang berangkat naik haji dan di sana dia melihat si nenek begitu khusuk dan menikmati ibadah hajinya.
Apakah itu logis atau tidak? Tidak dong kan si nenek itu tidak jadi berangkat. Logis dong kan ghirah si nenek begitu hebatnya. Bagi saya ending cerpen itu sangat bagus. Logika di dalam cerpen bukan logika “orang tidak mungkin terbang seperti burung” atau “hewan tidak mungkin bicara bahasa manusia”. Ending di atas menjadi sangat menyentuh karena sejak awal sudah dibangun penggambaran (karakter) si nenek yang ghirah beribadahnya sangat hebat.
Ending lain bisa jadi seperti ini: akhirnya si nenek pergi berhaji karena ada orang kaya yang bernazar ingin membiayai orang lain berhaji dan dia memilih si nenek penjual kue serabi itu. Begitu kira-kira cerpen Asma Nadia yang kemudian difilmkan dengan judul Emak Ingin Naik Haji.

Ok, sudah terlalu panjang tapi bahasannya masih ngambang ya. Nanti kita ketemu lagi deh. Selamat mengutak-atik jalan cerita saja…. (14-1-2017) 

Populer

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni