Jejak Kata :
BARAKATAK (2) BUKU (1) CARPON (38) CATATAN (1) CERPEN (66) CERPEN ANAK (4) DIARI (2) DONGENG (8) DONGENG SUNDA (5) FIKMIN (4) info (1) JEJAK CERPEN (5) KOLOM (2) MENGIRIM NASKAH (3) NOVEL (2) PUISI (26) RESENSI (1) tps (1)

PIKIRAN

Written By Mang Yus on Jumat, 12 Agustus 2016 | 14.14


Cerpen Yus R. Ismail
Apa yang sedang dipikirkan naga ini, ya?
Seringkali kita ingin tahu apa yang dipikirkan orang lain. Apalagi bila kelakuan orang lain itu dianggap aneh. Cerpen Ayahku Duduk Di Dalam Gelap (My Father Sits In The Dark: Jerome Wiedman) menceritakan kepenasaran aku akan kebiasaan aneh ayahnya. “Apa yang ada di pikiran Ayah?” tanya aku. “Tidak ada,” jawab Ayah. Lucu, karena seringkali kita pun ingin tahu apa yang ada di pikiran orang lain. Melihat orang lain begini atau begitu, pikiran kita lalu sibuk bertanya: mengapa, ada peristiwa apa, bagaimana, dsb. Syukur kalau hanya menerka sendirian, bahaya kalau terus bergosip beramai-ramai, lebih bahaya lagi karena media massa atau medsos sekarang ini sangat mendukung untuk bergosip itu. Sementara apa yang ada di pikiran sendiri pun seringkali tidak bisa dimengerti. Mengapa melakukan ini sementara yang diinginkan itu, mengapa keinginan-keinginan tidak juga dilakukan....
Sifat dasar manusia, sehari-hari, kita kenali dengan akrab. Tapi membaca cerpen Ayahku Duduk Di Dalam Gelap terasa segar, saya seperti menemukan sesuatu yang lama hilang, berharga, dan saya tidak berusaha mencarinya. Tentu setelah diingatkan saya akan mencarinya. Maksudnya, ikut memikirkan kekonyolan kita “ingin mengetahui pikiran orang lain itu”, sementara pikiran sendiri pun banyak yang tidak dimengerti.
Memikirkannya, ya mencerpenkannya....   

12-8-2016

PLAGIAT

Cerpen Yus R. Ismail
Cerpen ini pernah dimuat Tribun Jabar 8-6-2014. Kisah Sangkuriang diambil dari cerita rakyat terkenal: Asal-mula Tangkuban Perahu. Legenda ini sudah ratusan kali ditulis orang. Tapi bahkan ceritanya pun berbeda dengan versi manapun. Tentu ini sangat jauh untuk disebut plagiasi. 

Seorang teman bertanya: mengapa menulis Jejak Cerpen? Dengan menulis asal-usul cerpenmu, artinya kamu sudah membukakan aibmu sendiri.
Tentu saya berpikir sejenak. Apa benar ini adalah sebuah aib? Baik, begini awal pikiran saya:
1.      Saya baru memulai lagi menulis cerpen dua-tiga tahun belakangan ini. Saya serius melakukannya. Artinya, setiap hari pikiran dan perasaan saya siap untuk cerpen. Saya membuka diri untuk dimasuki sinyal-sinyal cerpen. Saya membaca cerpen, puisi, berita koran, status facebook, kicauan twitter, nonton film, merasakan dingin subuh, berhujan-hujanan; dengan kesiapan menangkap sinyal cerpen. Jadi ini adalah langkah kerja saya.
2.      Saya yakin bahwa tidak ada seorang cerpenis pun yang menulis dengan baik tanpa membaca cerpen-cerpen orang lain. Dalam ilmu surat ini malah ada peribahasa lucu tapi sarkas: Penulis besar adalah pencuri besar. Bagi yang tidak mengerti, itu menjadi berbahaya. Pencuri di sini tidak sama dengan plagiat. Jadi pencuri ide adalah mengembangkan satu titik ide menjadi bola besar ide milik kita sendiri. Bisa jadi cerpen yang ditulis ternyata sangat berlainan, sangat jauh, dari sinyal ide asal cerpen ini bermula. Tidak masalah, karena dalam menulis cerpen, apapun bisa saja terjadi. Pikiran, perasaan, jari-jemari, saat menulis cerpen, jadi semacam tuhan yang punya kehendaknya sendiri.
3.      Jadi ini semacam contoh bagaimana menghindari plagiasi yang saat ini semakin banyak ditemukan.


12-8-2016

Cerpen Jawa Pos: SUNYI JUGA DAN BAHKAN SUNYI

Written By Mang Yus on Selasa, 09 Agustus 2016 | 15.52

Cerpen Yus R. Ismail
Jawa Pos, 7 Agustus 2016

Saya sedang di kantor ketika kabar itu datang. Ayah sakit. Teh Aisyah, kakak tertua saya, yang menelepon.
“Kamu harus datang!” kata Teh Aisyah seperti yang penting harus mengatakan kalimat perintah seperti itu. “Kalau mau bareng, sekarang ditunggu di sini.”
“Saya nyusul aja, Teh. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”
“Tapi harus datang, ya?”
“Iya Teh, pasti datang.”
Teh Aisyah dan saya memang tinggal dan bekerja di Bandung. Sementara tiga kakak saya yang lainnya: Aa Akbar dan Teh Zenab tinggal dan bekerja di Jakarta, Aa Lukman tinggal dan bekerja di Kalimantan.
Hari sabtu sore, tiga hari setelah Teh Aisyah mengabari Ayah sakit, saya pulang. Semua kakak sudah ada di rumah. Hanya Teh Aisyah yang datang bersama suaminya, Kang Soleh. Kakak lainnya datang sendiri-sendiri. Rumah besar Ayah di kampung Cinenggang, sebuah kampung terpencil di kabupaten Sumedang, masih terasa lengang. Ya, karena kehadiran mereka berbeda dengan saat Hari Raya Idul Fitri. Mereka datang bersama suami, istri, anak-anak, dan cucu-cucunya.
Semua kakak saya tentu saja marah. “Kamu ini tinggal paling dekat dengan Ayah, tapi datang paling telat! Dasar, anak durhaka!” kata Aa Lukman. Saya menganggap biasa mendengar kalimat-kalimat seperti itu. Makanya saya tidak membantahnya.
Ayah sedang duduk di tempat tidur ketika saya masuk ke kamarnya. Matanya begitu berbinar ketika melihat saya. Saya bersujud di kaki Ayah, memeluknya, dan mengucapkan kata-kata maaf dan penyesalan datang terlambat. Tapi Ayah seperti yang tidak mendengarnya. Ayah mengusap-usap rambut saya, punggung saya, lalu mencium kening saya. Sesuatu yang sangat menakjubkan. Sesuatu yang sanggup menghentikan kata-kata penyesalan saya yang keluar tidak dari hati, menghentikan pelukan saya sebagai seremonial yang menunjukkan rasa kangen padahal tidak sama sekali. Ya, karena Ayah mengusap-usap rambut saya, punggung saya, apalagi mencium kening saya, baru kali itu dilakukannya.
“Maafkan Ayah, Su. Ayah yang salah, kamu yang benar,” kata Ayah seperti berbisik.
“Tentang apa, Ayah?” tanya saya tidak mengerti.
Tapi Ayah tidak mengatakan apapun lagi. Ayah hanya memandang tembok kamar.
**
Ayah baru setahun pensiun sebagai pegawai negeri. Meski pensiun, kegiatan Ayah sebenarnya tidak berkurang. Ayah mempunyai beberapa bisnis bersama teman-temannya. Meski Ibu sudah meninggal dua tahun yang lalu, tapi semangat Ayah untuk bekerja tidak pernah melemah.
Awalnya Ayah mendapatkan daging kecil menggantung di gusi atasnya. Ayah menganggapnya sepele. Daging itu ditariknya dengan harapan hanya meninggalkan perih. Nyatanya daging itu adalah salah satu akar kanker mulutnya. Darah mengucur deras ketika daging kecil itu ditarik. Ayah terkejut, lalu berteriak.
Teh Aisyah yang pertama datang sudah mendapatkan Ayah dirawat di rumah sakit. Teh Aisyah menjadi wakil keluarga yang menyetujui operasi kecil pemotongan gusi. Meski prediksi dokter menyatakan kanker itu sudah menyebar, tapi operasi kecil itu membuat Ayah lebih baik. Jadwal Ayah selanjutnya adalah kemoterapi berjadwal. Tapi Ayah menolaknya. Ayah lebih memilih pengobatan herbal secara tradisional. Karena itu dokter mengatakan kepada Teh Aisyah, “Bila tanpa kemoterapi, usia Bapak diperkirakan hanya bisa bertahan sekitar dua bulan.”
Saya dan kakak-kakak pulang pada hari minggu sore. Selama kami di Cinenggang, Ayah tidak mengatakan apapun kepada anak-anaknya. Setiap ditanya hanya memandang sebagai jawabannya. Setiap diajak bicara tidak pernah merespon apapun.
Meski begitu, hampir setiap hari Ayah keluar rumah. Dia duduk berlama-lama di hadapan taman kecil. Ayah hanya merubah posisi duduknya bila Mang Asip datang membawa makanan dan obat herbalnya. Ya, untungnya ada Mang Asip dan Bik Konah, suami istri yang sejak saya kecil sudah tinggal di rumah Cinenggang itu, mengurus rumah, taman kecil, kebun dan kolam.
Teh Aisyah pernah bertanya kepada Mang Asip, apakah Ayah suka menceritakan sesuatu? Tapi Mang Asip menggeleng.
**
Teh Aisyah dan Kang Soleh sengaja datang ke rumah kontrakan saya sore hari jum’at. Mereka meminta saya menemani hari-hari Ayah. “Karena Ayah hanya menyebut namamu, Su. Hanya menyebut namamu,” kata Teh Aisyah.
“Teteh ini bagaimana. Kan semuanya juga tahu, Ayah itu sudah lama tidak suka dengan saya.” Saya mengelak.
Kemudian Aa Lukman menelepon. “Kamu yang harus menemani hari-hari Ayah. Kamu banyak dosa kepada Ayah!” katanya kasar. “Jangan pikirkan pekerjaanmu. Gajimu akan Aa ganti!”
Saya tidak suka dengan kalimat Aa Lukman. Dia memang yang paling kaya diantara anak-anak Ayah. Selain kerja di Perhutani, kabarnya dia juga punya bisnis lainnya. Tapi tidak semestinya dia mengatakan itu kepada saya. Pekerjaan saya mungkin dianggapnya yang paling tidak mapan. Saya ini marketing di sebuah perusahaan percetakan. Sementara kakak-kakak saya semuanya pegawai negeri sipil. Kebijakan pemerintah sejak lima belas tahun lalu ketika SBY berkuasa berpihak kepada pegawai negeri. Gaji mereka terus dinaikkan dengan harapan budaya korupsi menjadi minimal. Sementara kemapanan swasta terus menurun digerus inflasi.
Saya akan balik marah bila Teh Aisyah tidak memeluk saya. “Jangan dengarkan dia,” kata Teh Aisyah dengan mata berkaca-kaca. “Kamu dipilih bukan karena pekerjaanmu dan hanya kamu yang belum menikah,” katanya. “Tapi karena Ayah hanya menyebut namamu, Su. Hanya menyebut namamu.”
**
Saya anak bungsu Ayah yang berbeda usia cukup jauh dengan kakak-kakak lainnya. Saya baru empat tahun lulus kuliah dari salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Usia saya dua puluh tujuh tahun. Sementara Teh Zenab, kakak terdekat saya, sudah tiga puluh tujuh tahun.
Perselisihan saya dengan Ayah, kalau itu harus dibilang perselisihan, bermula ketika saya akan kuliah. Saya memilih jurusan bahasa, sementara Ayah memaksa saya masuk jurusan ekonomi atau kehutanan. “Selesai kuliah ekonomi atau kehutanan itu lebih menjamin masa depanmu!” kata Ayah. “Mumpung Ayah belum pensiun, Ayah bisa membantumu jadi pegawai negeri. Lulus kehutanan, kakakmu bisa membantumu!” Tapi saya memilih jurusan bahasa sesuai minat saya.
Perselisihan kedua terjadi ketika saya lulus kuliah. Ayah meminta saya jadi ahli matematika. “Jalur belakang memang harganya seratus juta rupiah. Tapi uang sejumlah itu jadi kecil bila melihat gaji dan jaminan jadi pegawai negeri saat ini,” kata Ayah. “Ayah bisa mengeluarkan uang sejumlah itu dan mencari jalur belakangnya. Tapi ini tidak gratis!”
Saya tidak menanggapi apa yang dikatakan Ayah. Saat itu saya bersiap ikut tes CPNS. Tapi saya lebih memilih bekerja di sebuah percetakan kecil. Ayah marah dan menganggap saya bodoh, tidak tahu perubahan jaman.
Saat Ibu meninggal dua tahun yang lalu, saya merasa hanya akan pulang ke Cinenggang setahun sekali saat Hari Raya Idul Fitri tiba.
**
Saya mengikuti keinginan Teh Aisyah dan kakak-kakak lainnya untuk menemani Ayah bukan karena merasa bekerja paling tidak mapan. Tapi karena ada semacam penasaran, katanya Ayah hanya menyebut nama saya. Hanya menyebut nama saya.
Hampir setiap pagi menjelang pukul tujuh Ayah keluar rumah. Ayah duduk di kursi yang menghadap taman. Seharian dia memandangi taman. Siapapun tamu yang datang menengoknya, tidak pernah ada yang sanggup membuatnya bicara walau sepatah kata.
Ketika saya datang Ayah hanya melirik dan sedikit tersenyum. Saat siang Mang Asip datang membawa makanan dan obat herbal, Ayah belum mengatakan apapun. Senja sebelum masuk ke dalam rumah, Ayah baru melirik kepada saya. “Kamu yang benar, Su. Ayah yang salah,” katanya seperti berbisik, mengulang apa yang dulu pernah dikatakannya.
“Mengenai apa, Ayah?” tanya saya cepat.
“Semakin mendekati akhir usia, harta itu semakin tidak berguna. Kamu pasti bangga, Su. Sementara Ayah semakin menyesal. Tapi Ayah bangga kepadamu.”
“Maksud Ayah?”
Tapi Ayah tidak lagi mengatakan apapun. Sampai seminggu saya menanti Ayah bicara. Tapi hanya tatapan dan sedikit senyum yang membuat saya yakin, Ayah memerlukan kehadiran saya di sampingnya.
Menjelang senja di hari kedelapan, Ayah melirik saya. “Ulat itu begitu rakus makan hanya untuk mati,” katanya seperti berbisik. Saya tidak siap memahami apa yang dikatakan Ayah. Tapi begitu saya ikuti apa yang dilihat Ayah, di sebuah pohon talas hias ada kepompong menggantung. Hari-hari lalu mungkin kepompong itu adalah seekor ulat.
“Besok ulat itu mungkin akan menjalani hidup baru sebagai kupu-kupu,” bisik Ayah. “Ayah ingin bermetamorfosis seperti ulat itu. Hanya kupu-kupu yang bisa melihat indahnya taman.”
Saya ini sarjana bahasa, belajar sastra dari masa lampau sampai yang terkini, tapi saya tidak punya kata-kata menanggapi pernyataan Ayah.
**
Suatu pagi Ayah mengajak saya pergi untuk membeli bibit pohon mangga. Bibit pohon mangga itu saya tanam di halaman rumah. Ayah memandangi saya yang mencangkul dan menimbun pohon dengan tatapan yang baru kali itu saya lihat.
“Ayah ingin bermetamorfosis menjadi sebatang pohon, Su,” katanya seperti berbisik. “Pohon itu seperti tidak hidup, tapi ternyata dia tumbuh menjadi sangat kuat, berkali-kali lipat lebih kuat dari kita, dari makhluk terkuat sekalipun. Peliharalah pohon mangga itu. Ayah ingin bermetamorfosis menjadi sebatang pohon.”
Imajinasi saya belum sanggup menangkap apa yang ada di pikiran Ayah. Saya hanya merasa, Ayah sedang belajar lagi melihat, belajar lagi mendengar, dan belajar lagi merasa. Tapi saat perkiraan saya itu ingin dikatakan, Ayah sudah tidak kuat. Ayah pingsan. Dan saat di jalan menuju rumah sakit, di pangkuan saya, Ayah meninggal.
Kakak-kakak kemudian berdatangan. Hari kedua setelah penguburan Ayah, kakak-kakak saya berniat pulang. “Sebaiknya kamu sekarang ikut Aa ke Kalimantan,” kata Aa Lukman. “Aa mau buka usaha percetakan di sana. Kamu yang harus menjalankannya. Berapapun modal yang kamu minta, Aa akan mengusahakannya.”
Tapi saya lebih memilih memelihara pohon mangga yang tingginya baru selutut. **

Cilembu, 16 Maret 2016

carpon Tribun Jabar: DONGENG ENTENG

Written By Mang Yus on Jumat, 05 Agustus 2016 | 19.07

carpon Yus R. Ismail

Tribun Jabar, 26-29 Juli 2016

Dongéng Nanang
Taun 1986 moal kapopohokeun dina hirup uing. Umur nincak 25 taun téh maké dipéstakeun sagala. Henteu ramé-ramé ngondang sobat, aya acara niup lilin jeung motong kuéh. Henteu. Cukup dipéstakeun ku duaan jeung kabogoh uing anu geulis, Euis Moémanéh téa.
Mimitina mah jajan di hiji-hijina KFC (kentucky fried chicken) anu aya di Bandung harita, di gedong Miramar, wétaneun alun-alun. Euis Moémanéh ngahuapan uing, huap munggaran saméméh dahar séwang-séwangan. Rarasaan téh asa hayang ngesun. Tapi basa luak-lieuk, pinuh ku anu dalahar. Kakara Euis Moémanéh ngahuapan ogé sababaraha urang mah marelong. Pantesna téh bari patinggerendeng jeung baturna, ngomongkeun uing jeung Euis Moémanéh.
Tangtu waé uing reuwas. Henteu kanyahoan galagatna, celengok téh Euis Moémanéh ngesun pipi uing. Basa uing ngalieuk ka sakuriling, enya waé mingkin loba anu marelong.
“Ih, isin,” ceuk uing ngaharéwos.
“Wios atuh, apan dinten anu bersejarah,” témbal Euis Moémanéh bari nyimpen kado anu dibeungkeut ku pita beureum. “Ieu hadiahna.”
“Wah, nuhun pisan. Pastina mah buku,” ceuk uing nebak. Euis Moémanéh apaleun uing mah resep maca. Sakapeung osok kutak-ketik ngarang, ngirimkeun ka koran atawa majalah, enya ogé can kungsi aya karangan anu dimuat.
“Buka wé hoyong terang mah,” cenah bari imut. Imut ngirut anu matak uing bébéakan marebutkeun Euis Moémanéh. Puguh atuh aya limaanana anu bogoheun ka Euis Moémanéh téh.
Tangtu waé uing reuwas deui waé. Buku téh judulna Bumi Manusia, novel karangan Pramudya Ananta Tour. Apan éta téh buku anu dieureunkeun distribusina. Buku-buku anu kapanggih terus diduruk. Ari kituna apan Pramudya téh ruruntuk PKI anu makar taun 1966. Entong boro ruruntukna saperti Pramudya, apan anak-incuna ogé geus dianggap dosa ti mimiti di jero kandungan.
“Mésér di mana?” ceuk uing bari ngabulak-balik buku, dibukaan salambar-salambar ati-ati pisan.
“Ah, henteu kedah terang. Anu jelas mah Euis hoyong masihan anu sangat berharga.”
Henteu katahan deui, celengok wé pipi Euis Moémanéh disun.
Réngsé jajan di KFC terus lalajo film India di bioskop Palaguna. Bubar lalajo Euis Moémanéh mah aya jangji cenah rék nganteur lanceukna latihan tembang di Cibiru. Sanggeus Euis Moémanéh ngageuleuyeung kana bémo, uing mah terus ka masjid agung ngadon solat ashar anu kaliwat. Réngsé solat terus diuk di teras bari mimiti maca buku. Puguh geus lila pisan hayang maca buku éta teh.
Kakara ogé salambar dibaca, basa mukakeun lambaran saterusna, karérét di kajauhan, dina bangku alun-alun, ngan kahalangan ku kakayon kekembangan, aya ogé anu keur maca buku. Kuring imut. Nénéng Cingut. Henteu pati wawuh ka manéhna téh. Sababaraha kali kungsi panggih dina acara sastra di IKIP jeung Rumentang Siang. Kaasup familiar dina acara sastra mah manéhna téh. Puguh wanteran. Unggal diskusi sok pangheulana waé nanya.
“Sayah téh ampir unggal minggu ngirim puisi, tapi naha can kungsi aya anu dimuat?” Nénéng Cingut kungsi nanya kitu ka Pa Saini KM dina acara diskusi di ASTI. Ari Pa Saini KM, salain sastrawan kawentar téh apan ngasuh rubrik puisi ogé di salah sahiji koran.
Tangtu waé pananya kitu téh ngondang piseurieun anu haladir. Kaasup uing milu seuri. Sabubar diskusi kungsi ngobrol jeung Nénéng Cingut, pangpangna lantaran pangalaman manéhna téh pangalaman uing ogé.
Nepi ka harita, basa réngsé maca salambar novel Bumi Manusia, basa karérét Nénéng Cingut keur maca di bangku alun-alun anu kahalangan ku kakayon kekembangan; henteu aya anu anéh dina pikiran uing. Tapi basa karérét aya anu nyampeurkeun ka Nénéng Cingut, terus diuk di gigireunana, ngadadak aya anu curinghak. Buku Bumi Manusia téh hideng ditutup. Nénéng Cingut ogé nutup bukuna. Terus ngalayanan ngobrol anu anyar datang.
Moal kasamaran enya ogé geus ampir tujuh taun henteu panggih. Si Dudung manéhna téh. Ngaran anu henteu bener-bener kapupus dina haté uing. Najan uing neger-neger manéh. Najan uing aya dina kasadaran. Najan uing kakara réngsé solat. Ari kituna, ngaran Dudung téh nempatan bagéan anu pangmongkléngna dina haté uing. Geuning basa ningali deui mah bebengok si Dudung, katugenah téh némbongan deui.
Duh Gusti, hapunten abdi. Geuning solat téh henteu aya kakiatan ari haté masih kasawur ku kokotor mah. Apan abdi solat téh hoyong nyieuhkeun sagala katugenah, sagala pangalaman pait-peuheur, nenangkeun pikir, nenangkeun haté. Astagfirullah. Astagfirullah. Astagfirullah....
Uing peureum sababaraha detik mah. Tapi barang beunta, rasa dengdem téh mingkin karasa. Enya ogé kajadianana geus sakitu lilana. Mangsa sakola SMP nepi ka SMA, tujuh taun kaliwat. Harita bapa uing kalibet kajahatan korupsi di kantorna. Dipecat mah puguh deui, dibui, malah imah, kebon, katut rajakaya séjénna ogé dijabel ku nagara. Ceuk indung uing, bapa téh jadi korban kateumbleuhan. Apan bapa mah saukur karyawan biasa anu dititah ngetik susuratan. Ari Kepala Dinas jeung Kepala Bagian, apan saralamet.
Harita mah kajadian siga kitu téh saukur jadi berita koran. Tapi sakabéh murid jeung guru di sakola jadi nyaho lantaran si Dudung anu ngucah-ngacéhna. Apan uing sababaraha kali dipanggil ku kepala sakola. Basa uing keur bingung lantaran henteu bisa mayar SPP, si Dudung anu ngaliarkeun béja ka unggal kelas. Basa uing ceurik lantaran sirah dibutakan basa kapanggih ku ronda keur néwak hayam uwa, si Dudung anu ngawawarkeun kagoréngan uing. Ari kituna, si Dudung téh apan budakna Kepala Dinas.
Harita, basa uing nutupkeun buku novel Bumi Manusia, basa uing neuteup anu keur ngobrol dina bangku alun-alun; bet jorojoy aya pikiran séjén ka Nénéng Cingut. Dua poé ti harita basa ningali Nénéng Cingut keur maca buku di bangku alun-alun, uing nyampeurkeun terus ngajak ngobrol. Basa panggih deui keur lalajo drama Tukang Asahan anu dipagelarkeun ku Teater Sunda Kiwari, der deui ngobrol, malah balikna ogé dianteurkeun.
Tangtu waé jeung Nénéng Cingut téh jadi deukeut. Meureun pedah sakaresep kana maca jeung seni téa. Malah terusna mah mingkin sering heureuy aya pikir kadua leutik.
“Mémangna upami janten sareng Nénéng, moal aya anu nyeuseulan?” pokna téh basa tumpak béca balik lalajo sastrawan Godi Suwarna maca sajak di Rumentang Siang.
“Anu nyeuseulan saha?” témbal téh males nanya bari ngarapetkeun diuk.
“Euis, Euis Moémanéh.”
“Ah, Euis Moémanéh mah da saukur réréncangan. Puguh Nénéng anu sapertos aya anu gaduh mah.”
“Anu gaduh saha?”
“Dudung Surudung.”
“Ah, Kang Dudung mah saukur réréncangan.”
Nepi ka tempat indekosna di Cicadas, der deui ngobrol. Sagala diobrolkeun. Tapi léokna mah kana pikir kadua leutik deui waé.
“Tangtos waé ku Nénéng ditampi, da Nénéng ogé sami bogoh, sami nyaah,” pokna bari terus tungkul, bari imut. Uing milu imut. Hmm, kukumaha ogé imutna mah éléh kareueut ku imut Euis Moémanéh. Ari imut uing, apan saukur sinis: Dahar tah Dudung nyeri haté manéh!
“Tapi saméméh nampi téh, aya tanjakan anu kedah ditedunan,” ceuk Nénéng deui.
“tanjakan naon?”
“Nénéng hoyong dipangdongéngkeun. Tapi henteu kénging ngarang. Kedah aya panalungtikan sakedik mah.”
“Dongéng naon?”
“Sasakala. Di lembur Nénéng, di Jawa Tengah, aya wahangan anu ngamuara ka Kali Brantas. Di wahangan éta, lebah anu hieum ku dapuran awi, aya leuwi anu nelahna mah Leuwi Hanyir. Nénéng téh hoyong terang sasakala Leuwi Hanyir.”
**

Dongéng Nunung
Taun 1965 moal kapopohokeun dina hirup kuring. Umur nincak 25 taun téh dipéstakeun sagala. Ronggéng sapeuting jeput ngahudangkeun karuhun Dukuh Nenggang. Geus lila pisan, geus puluhan taun, Dukuh Nenggang kaleungitan pamor ronggéngna. Nya harita, basa umur kuring nincak 25 tahun, ronggéng Dukuh Nenggang hudang deui. Ronggéng Nenggang henteu saukur ngitung lembur ngadon ngamén deui. Nyai Sari Saridon, béntang Ronggéng Dukuh Nenggang anu ogé pamajikan kuring, ngagéol deui, ngagiplek deui, ngondang surak jeung alok cawokah.
Puguh atuh peuting harita téh Ronggéng Dukuh Nenggang anu dipingpin ku kuring mitembeyan maké spiker. Kendang ronggéng, alok cawokah, surak anu lalajo, mancawura di langit, parat nepi ka lembur-lembur tatangga anu pangeusina patingtorojol milu ngabagéakeun. Lampu cempor marakbak nyaangan jalan nepi ka tungtung lembur.
Kukumaha ogé hirupna Ronggéng Dukuh Nenggang téh alpukahna Kang Rinta, sobat anyar anu katarik ati ku bakat kuring kana seni. Ari geus ngobrolkeun seni téh geuning mani sok uplek sapeuting jeput. Kang Rinta jeung sobat-sobatna di kota neundeun nyaah kana kasenian rahayat. Nya Kang Rinta anu terus ngogan Ronggéng Dukuh Nenggang manggung di puseur dayeuh kabupatén. Nya Kang Rinta anu terus nyumbang spiker katut alat-alat ngaronggéng. Kang Rinta anu muji-muji kuring ku sebutan multitalénta. Apan kuring ogé anu dipercaya nulisan témbok imah, kenténg, plang, gapura, ku aksara: Manipol-Usdek, Tanah Oentoek Rakjat, Kasenian Rakjat....
Tapi bet jauh tina sangkaan. Harita téh geuning lain awal tina kasinugrahan. Tapi awal kanyeri jeung kapeurih. Apan henteu lila ti harita kuring ningali Kang Rinta unggal waktu ngabandungan radio anu ampir sajam sakali ngawartakeun kajadian di Jakarta. Bari pameunteu katingali marudahna. Bari roko beuki kerep dikenyot jeung digégélna.
“Aya kajadian naon, Kang?” ceuk kuring harita.
“Bancangpakéwuh di Jakarta,” témbalna pondok.
Hiji soré aya sababaraha treuk ngabudalkeun tentara samagreng pakarang. Sakabéh pangeusi Dukuh Nenggang digusur ka lapang. Kolot-budak, awéwé-lalaki, euweuh anu diiwalkeun. Untungna, budak kuring anu kakara sataun, Cingut ngaranna, kaburu dibawa ngalolos ku akina. Puguh waé matak reuwas matak ketir da puguh bari ditodong bedil jeung sautak-saeutik dibabuk ku popor bedil. Tuluy didata. Anu aya dina daptar anu teuing meunang saha, terus diangkut kana treuk. Puguh waé treuk anu mawa leuwih ti satengah pangeusi urang Dukuh Nenggang téh ninggalkeun rasa ketir. Anu ceurik jeung anu midangdam kababawa sapanjang treuk ajrug-ajrugan di jalan renjul.
Nyai Sari Saridon duka dibawa ka mana. Kuring sabatur-batur terus diturunkeun di sisi wahangan. Ditanya itu-ieu. Anu ngajawabna henteu sapagodos jeung kahayang anu nanya, terus didangheuakeun, gérésél dipeuncit, terus dijejek ka walungan. Sawaréh dipangkék nepi ka adug-lajer, terus bangké anu ngaluarkeun getih tina sakabéh palawanganana téh dialungkeun ka walungan.
Ari kuring, bari keueung henteu bisa dicaritakeun, didedetkeun sirah sina deku bari tungkul. Sababaraha lila henteu aya anu ngagunasika. Ngan anu maréntah anu beuki atra jeung tarik.
“Ayo lakukan! Kamu harus berani!” cenah.
Kuring cengkat lalaunan. Gebeg, anu ngajanteng di hareup téh geuning Kang Dadang, lanceuk kuring anu aya kana lima taunna ngumbara ti lembur. Leungeunna anu nodongkeun péstol ngadégdég. Rarasaan kuring beuki henteu puguh da apan péstol téh nodong kana tarang kuring. Dor!
Henteu sakara-kara. Bari nalangsa kuring neuteup raga ngalayang kana cai walungan anu geus salin rupa jadi beureum. Bau hangru, bau hanyir, nyambuang ka satungtung walungan. Harita kuring bisa ningali jin korin anu salila ieu maturan bari henteu kadeuleu, ngalangeu di sisi walungan. Meureun sarua nalangsana jeung kuring, apan manéhna mah nurut kuring. Kuring soléh manehna milu soléh, kuring wangkelang manéhna milu wangkelang.
“Keun korin, tong dipaké dengdem. Geus kuduna kieu jalan hirup urang. Keun nyerina entong diteundeun dina haté. Tugas urang mah ngaberesihan haté pikeun ngahampura. Keun da sakabéh kalakuan ogé aya balitunganana. Urang sanggakeun anu kitu mah ka Anjeunna anu Mahaadil sareng Mahawijaksana,” haréwos kuring ka jin korin.
Dua puluh taun ti harita jin korin kuring anu masih sok ngalangeu di sisi walungan, ningali saurang pamuda diuk cindukul sisi leuwi. Waktu disampeurkeun jeung ditanya, cenah hayang apal sasakala Leuwi Hanyir. Atuh derekdek jin korin kuring téh ngadongéngkeun kajadian harita.
“Kitu sasakalana Leuwi Hanyir mah,” ceuk jin korin kuring. “Nepi ka ayeuna ogé sok aya anu kawénéhan ngambeu bau hanyir jeung ningali giblegna getih di leuwi. Tuh, saperti itu, geuning aya sirah tuh ngambang.” Jin korin kuring téh terus leumpang ka tengah leuwi rék ngajungjungkeun sirah anu ngambang.
Acan ogé ditingalikeun sirah saha, éta pamuda geus lumpat tibabaranting bari walahwah-weuleuhweuh henteu puguh déngékeuneunanan.
**

Dongéng Nénéng
Tangtu waé pilihan kuring téh henteu salah. Kuring leuwih milih Kang Nanang. Rarasaan téh asa leuwih resep, asa leuwih bogoh. Meureun pedah sakaresep. Ari geus ngobrol téh apan mani sok uplek, mani sok hanjakal lamun manggih tungtung. Ari jeung Kang Dudung henteu kitu. Najan Kang Dudung ampir unggal panggih méré hadiah. Najan unggal panggih Kang Dudung ngumbar jangji.
Tangtu waé kuring reuwas basa apal saha ari Kang Nanang. Reuwas anu leuwih ti reuwas. Lain, lain saukur reuwas basa apal yén Kang Nanang, enya ogé bibit-buitna mah urang Ciamis, tapi kolotna kungsi matuh di Jawa Tengah. Percis pisan jeung kuring atuh. Lain, lain ogé reuwas basa nganjang ka kolot Kang Nanang, horéng Kang Nanang téh putra uwa Dadang. Ari uwa Dadang apan lanceuk bapa kuring. Reuwas anu leuwih reuwas mah basa aya anu mudigdig ngagedéan dina haté kuring. Rasa anu mimiti aya basa ngadangu dongéng Aki téh terus tiwikrama saperti Arjuna Sasrabahu dina carita wayang. Padahal kuring kungsi mopohokeunana, malah nganggap dongéng Aki téh saukur dongéng biasa.
“Indung manéh mah da puguh ronggéng, ari ronggéng apan geulis, basa dibawa ka hiji tempat teuing di lebah mana, terus dipergasa, digadabah ku puluhan lalaki unggal poé, terus disiksa nepi ka hanteuna. Ari bapa manéh, apan didor di sisi Leuwi Hanyir,” ceuk Aki basa kuring ngaéh teuing anu kasabaraha puluh kalina hayang apal nasib kolot anu cenah bobor karahayuan dina jaman paciweuh.
Rasa éta, rasa anu kungsi dipohokeun ku nganggap dongéng Aki téh dongéng énténg, anu henteu katahan ngagédéan deui, mudigdig jadi buta ranggéténg sihungan dina diri kuring. Terus bet jadi imut basa nyanghareupan Kang Dudung anu unggal panggih ceurik pedah henteu kapilih ku kuring.
“Masih aya kasempetan, Kang, upami urang hoyong ngahiji, tapi aya tanjakanana,” ceuk kuring bari ngaharéwos.
Isukna, hawa Bandung harita keur meujeuhna tiris. Girimis turun ti soré mula. Jam tujuh peuting girimis masih ngeprul. Tapi anu ngantri lokét karcis misbar Cicadas angger ngaléor siga oray. Kang Nanang ogé sarua ngantri. Ari kuring pesen martabak. Di jero misbar anu lalajo pinuh saperti biasa. Kang Nanang jeung kuring diuk dina bangku panjang pangtukangna. Resep di tukang téh leuwih laluasa lalajo. Bisa bari jajan emih kocok. Bisa bari silihtangkeup. Da puguh poék di tukang mah.
Kakara satengahna film India téh, kakara mucunghul Amitabh Bachan jadi jagoan sanggeus salila-lila disiksa, basa kuring kaluar misbar. Terus meuntas jalan, ngadon jajan sangu goréng.   
“Hoyong ditambihan ceplok telor?” ceuk Kang Dudung ngaharéwos, terus bangor ngesun pipi.
Kuring unggeuk basa ti jero misbar aya anu ngagorowok. “Ayyaaa... mmaayyiitt...! Ayyaaa annuuu diippangngkkéékk...!” cenah, terus ngaburudul anu lalajo papada hayang kaluar misbar. Kuring api-api menerkeun samléh baju, padahal ngusap anu ngamalir henteu katahan tina juru panon. ***

 26-29 Juni 2016
    


Carpon Mangle : UYUT LODAYA


carpon Yus R. Ismail

Mangle No. 2583, 23-29 Juni 2016
Nepi ka Cinangka téh pukul hiji peuting. Pajero sport parkir laluasa di buruan lega bumi Aki Haji. Aki Haji nyalira sapertos anu ngantosan. Basa kuring turun tina mobil, Aki Haji tos aya di téras. Nangkeup bari ngusapan mani lami.
“Henteu sataun sakali panggih téh, Sujang. Sono Aki téh,” saur Aki Haji.
Torojol Ma Haji, mani siga anu ngagabrug. Nangkeup téh bari ngagalentoran.
“Rumaos abdi téh tambelar, Aki, Ma. Padamelan téh atuh da henteu aya réngséna. Lebaran kamari mah apan, bujeng-bujeng ka dieu, ka bumi ogé dinten kadua.”
“Enya kaharti ari kituna mah. Keun, kudu sukur ka Gusti, hésé dipercaya siga kitu téh.”
“Kumaha Sujang, bisi rek reureuh heula, da kamar mah kakara dirarapih,” saur Ma Haji. “Tapi ke Ema manaskeun heula cai, urang ninyuh entéh manis.”
“Enya, engké wé ka Uyut mah bada subuh. Atawa lamun nyalsé mah geus caraang gé henteu nanaon,” saur Aki Haji.
“Disebat nyalsé mah henteu, Ki. Saé bada subuh waé atuh,” pok téh bari ngadayagdag. “Ieu ogé ka dieu téh pedah waé sanés mung kahoyong abdi, tapi dijurungan ku komandan.”
“Aringeteun kénéh kitu ka Uyut?”
“Puguh waé atuh, Aki. Dina database mah apan masih aya, enya ogé tos henteu kalebet DPO.”
Aki Haji unggut-unggutan.
“Dupi ayeuna saha anu nyarengan Uyut?”
“Apan Bapa manéh, Sujang. Keun bada subuh mah sina ka dieu. Da Uyut téh saukur hayang panggih jeng si Sujang. Sugan wé jadi sarat pikeun nyampurnakeun. Karunya....”
**

Anu disebut-sebut Uyut téh lengkepna mah Uyut Lodaya. Kitu nelahna. Kuring sorangan kakara engeuh uyut téh masih kénéh aya dikieuna sanggeus rumaja, kelas dua SMP. Saméméhna mah, boh Apa boh Aki (anu disebut Aki Haji ayeuna), can kungsi ngadongéngkeun uyut. Basa poé saptu kuring balik sakola aya anu megat, bapa-bapa duaan. Mimitina mah ngolo-ngolo, ngajakan kuring ulin. Lamun daék cenah dibéré duit keur bekel sakola atawa keur meuli sapatu. Tapi kuring embung, da puguh nyurigakeun, bisi jelema anu rék mergasa. Tungtungna anu saurang néwak kuring, anu saurang deui ngabekem ku lamak baseuh.
Inget-inget téh geus aya di rohongan tengah hiji imah. Kuring ngahuleng. Henteu apal saeutik-eutik acan, éta téh imah saha. Imah panggung, palupuhna hérang, sigana mindeng dikepel. Aya alketif di tengah rohangan. Kasur ngan hiji-hijina anu dipaké saré ku kuring. Sigana kasur ngadadak diamparkeun.
Teu kungsi lila ngahuleng, nyidik-nyidik jeung nginget-nginget, kaburu aya anu asup. Bapa-bapa, diiket coréléng, kumisna baplang.
“Tah, geuning si Sujang geus nyaring,” pokna handaruan. Sorana agem. Kuring mépéd kana bilik. “Tong sieun, Sujang. Da lain di imah batur. Bisi manéh teu nyaho, ieu téh uyut manéh.”
Kuring saukur molohok. Henteu kungsi ngaréka-réka saha ari uyut téh. Enya, harti uyut ogé anu saenyana apan harita mah henteu nyaho. Arék ngawanikeun tunyu-tanya, si kumis baplang anu ngaku uyut kuring téh kaburu ngaléos deui. Kadangu téh sorana waé anu agem. “Bi, akutan ayeuna ka tengah imah, urang madang bareng,” cenah.
Teu lila aya awéwé kolot mawa boboko gedé, sambel, bakakak hayam, goréng lauk emas, beuleum asin sepat, jeung lalab-lalaban. Dahar téh ngariung; kuring, si kumis baplang anu ngaku uyut kuring, duaan deui bapa-bapa anu tadi beurang mergasa kuring. Tadina mah ngarengkog mundur nempo duaan bapa-bapa anu barusekel téh. Tapi ceuk si kumis baplang anu ngaku uyut kuring, tong sieun da Si Gajah jeung Si Codét mah bageur. Tadi maksa sotéh da bongan kuring embung diajak ulin.
Réngsé dahar kakara si kumis baplang anu ngaku uyut kuring téh ngadongéng.
“Uyut téh bapa aki manéh, Sujang,” cenah, terus nyedot padudan gedé, serebung-serebung haseupna mulek nepi ka kuring batuk. Jadi uyut téh dulur kuring kénéh, dulur deukeut. Uyut ngadon seuri nempo kuring batuk téh.
“Naha manéh tara udud, Sujang?” pokna deui, terus nyedot padudan, serebung serebung haseupna ka lebah jandéla ayeuna mah.
“Teu acan kéngingeun ku Bapa,” ceuk kuring.
“Haha... Bapa manéh mah siga Aki manéh, sagala henteu meunang. Ngeunah udud téh!” pokna deui.
“Ari tadi, naha abdi bet diculik, Uyut?” ceuk kuring ngawanikeun manéh.
“Hampura, Si Gajah jeung Si Codét téh memang kitu dititahna ku Uyut. Uyut téh hayang panggih jeung manéh, Sujang. Meungpeung Uyut aya di dieu. Aki manéh jeung Bapa manéh mah da moal ngidinan lamun Uyut bébéja hayang panggih. Geuning manéh téh geus gedé, kasép siga Uyut baheula hahaha. Ari geus panggih kieu mah Uyut téh henteu panasaran.”
Uyut téh terus ngadongéngkeun, nelahna mah cenah Si Lodya. Matak kuring kudu nyebutna téh Uyut Lodaya. Henteu surti harita mah kunaon uyut téh dilandi Si Lodaya. Saur Uyut Lodaya, anjeunna cenah lain jelema bener.
“Uyut mah tukang tarok tukang bobok...,” cenah.
“Tukang nyingkabkeun anderok.” Si Gajah ngéngklokan. Terus anu tiluan téh sareuri mani ngagakgak.
Balikna kuring dibéré duit sagepok. Reuwas ogé da henteu nyangka bakal dibéré duit, komo lobana sakitu.
“Tong bébéja ka si Bapa jeung si Aki ku Uyut dibéré duit. Tong bébéja panggih jeung Uyut deui ka sasaha ogé,” cenah basa kuring bébéja rék balik. “Sujang, lamun manéh aya pangabutuh, atawa boga karerepet, ku Uyut hayang dibéré ajian, panggihan waé Si Gajah di alun-alun, atawa Si Codét di terminal.”
“Ajian naon, Uyut?” ceuk kuring jadi panasaran.
“Sagala ajian ogé Uyut mah boga. Hayang kuat diteunggeul, hayang teu teurak dikadék, hayang nyirep jelema, hayang....”
“Mélét awéwé,” ceuk Si Gajah ngéngklokan.
“Ah, anu kitu mah ajian gampang. Jung ayeuna mah geura balik. Wayahna rada capé, da leumpang heula. Urang téh ayeuna aya di tengah leuweung.”
**
Éta ogé kuring henteu bébéja, boh ka Apa boh ka Aki, kungsi panggih jeung Uyut Lodaya. Tapi kuring ogé henteu manggihan deui. Keur mah henteu apal béh mana lebahna imah Uyut Lodaya téh, jalan satapak anu rembet jeung pungkal-péngkolna matak sasab, asa horéam ogé manggihan Si Gajah atawa Si Codét mah.
Najan kitu, Uyut Lodaya sering némbongan, ngalangkang dina lelembutan kuring. Utamana mah lamun kuring manggihan karerepet. Keur sélon, ditolak cinta ku Anita Moe, atawa pagétréng jeung sobat. Lamun geus kitu téh kuring sok ngabrangbrangkeun manéh ku maca buku atawa miluan kagiatan di gelanggang rumaja.
Tapi aya kalana inget ka Uyut Lodaya henteu bisa dibrangbrangkeun. Harita téh kuring geus kuliah. Balik lalajo film di bioskop kuring aya anu nodong ku péso belati. Tiluan anu nodong téh. Dompét, hp jeung jam tangan dirampas. Jekuk anu saurang mah nonjok sagala saméméh kalabur téh. Cer getih tinu irung. Tapi anu parah mah ieu haté, nyeri kabina-bina.
Nya kuring manggihan Si Codét di terminal. Dianteurkeun wé ka Uyut Lodaya. Di hiji imah di kota, lain di leuweung deui. Kuring bébéja hayang diwirid ajian gelut. Uyut Lodaya ngagakgak. Tapi keuheulna, Uyut Lodaya téh henteu méré ajian nanaon.
“Mikir deui siah, Sujang. Ajian-ajian Uyut téh aya pameulina.”
“Abdi sanggem, Uyut. Naha puasa atawa naon?”
“Lain anu kitu pameuli anu hésé mah. Tapi bakal aya anu datang kana diri manéh jeung bakal aya anu leungit tina diri manéh.”
Tangtu waé kuring henteu ngarti. Matakna ku Uyut Lodaya kuring dititah balik. Keur ngupahan, kuring dibéré deui duit. “Mikir deui siah, Sujang. Bobogaan anu kitu téh henteu gampang,” pokna deui basa kuring amitan.
Ti harita henteu panggih deui nepi ka kuring lulus kuliah. Gawé téh mimitina mah di bank kantor cabang kecamatan. Ari hiji poé aya bapa-bapa cetuk huis ngajak makan siang. Kuring dibawa ka réstoran hotél. Keur makan siang téh si bapa ningalikeun dua makalah anu dijilid keretas biru ngora. Éta téh duanana ogé makalah tugas-tugas kuliah kuring.
“Ieu téh leres, Ayi anu nulisna?” pokna téh.
“Muhun,” témbal kuring pondok.
“Ieu makalah ngeunaan program komputer anu pangcerdasna anu kungsi ditulis kalangan akademisi. Sakitu pinterna, naha kalah gawé jadi teller di bank kantor cabang kecamatan?”
Kuring ngahéhé. “Da kasempetan éta anu ayana,” ceuk kuring.
“Tah, Bapa nawaran pagawéan anyar. Gajih mimitina tilu puluh juta rupiah. Gawéna nyieun data-base jelema-jelema anu kungsi ngalakukeun kajahatan. Ieu téh badan intelegen, lain kepolisian....”
Kuring ngajenghok ngadangu gajihna. Apan pangasilan kuring ayeuna ngan saukur dua juta rupiah. Terusna mah kuring milu ka Jakarta. Unggal poé ngadata kajahatan-kajahatan anu kungsi kajadian. Ti mimiti copét nepi ka korupsi anu kabokér, ku kuring didata-basekeun. Harita kuring apal pisan, Si Lodaya alias Uyut Lodaya téh karaman nomer hiji dina daptar anu ditéangan. Rampog, preman bayaran, pembunuh, bandar narkoba, jeung loba deui kajahatanana.
Tangtu waé kuring henteu ngabéjakeun di mana Uyut Lodaya nyumputna. Tapi terus kuring babadamian jeung komandan. Kuring ngaku Si Lodaya téh uyut kuring. Kuring ménta Si Lodaya entong ditéangan deui, karunya, da puguh geus kolot ayeuna mah. Minangka pameulina, kuring sanggup ngolo Si Lodaya sangkan ulah ngaluluguan deui kajahatan. Geus mupakat mah, kuring terus néangan Uyut Lodaya. Diobrolkeun wé naon anu kajadian di Jakarta. Uyut satujueun. Harita balikna kuring henteu dibéré duit, tapi jimat isim anu diwadahan kana kaén bodas. “Babawa ieu bisi aya anu ngarogahala ka manéh, Sujang,” saur Uyut Lodaya.
Saenyana kuring embung nampanan. Ngan sajorélat bet kapikir, lamun seug enya isim téh aya maunatna, boa kahareupna mah dibutuhkeun. Isim téh disakuan, enya ogé kuring apal Uyut téh moal bisa eureun ngalakukeun kajahatan. Saukur nyenangkeun kuring wungkul satuju jeung enya-enya téh. Nyatana Uyut Lodaya leuwih pinter. Ngabandar narkobana masih, preman bayaranna masih, tapi Uyutna mah henteu némbongkeun manéh.
Hiji waktu kuring paséa jeung batur sapagawéan. Biasa, parebut pamor di hareupen komandan. Di tempat parkir manéhna megat kuring. Henteu loba omong, jekut-jekuk manéhna nonjok. Kuring ngabangkieung. Anéhna bet henteu karasah nanaon. Jekuk-jekuk wé dibales ku kuring. Cer getih tina irungna. Manéhna nungkup irungna bari ampun-ampunan.
Tangtu waé kuring bingung. Naha henteu nyeri sakitu diperekpek ditonjokan? Nepi ka imah kakara inget, apan kuring nyakuan isim paméré Uyut Lodaya. Isukna kuring mapay Uyut Lodaya, tapi henteu kapanggih laratanana. Si Codét jeung Si Gajah geus sababarahan bulan ngaringkuk di jero bui.
**
Sababaraha taun sanggeus kajadian éta, Apa anu mimiti nelepon téh, ngabéjaan Uyut Lodaya teu damang parna. Tapi lantaran riweuh ku pagawéan, kuring henteu bisa ngalongok. Terusna Aki Haji nélépon sangkan kuring datang sagancangna. “Uyut Lodaya téh hayang panggih jeung manéh heula, Sujang. Gancang ka dieu, sugan wé jadi sarat pikeun sampurna,” saur Aki Haji.
Peuting-peuting kuring indit ka Cinangka. Saur Aki Haji, Uyut Lodaya téh aya di panyumputanana, di tengah leuweung. Cenah hayang panggih heula jeung kuring. Henteu panasaran cenah paéh ogé ari geus paggih jeung kuring mah.
“Uyut téh da puguh geus leuwih saratus taun, teu damangna téh parna. Teu émut-émut aya kana samingguna, saukur rénghapna anu katingali, henteu aya emameun anu lebet. Tapi barang ngadangu sora cai, komo dieueutan mah, kajeun sakeclak, curinghak deui, jagjag deui,” saur Aki Haji. “Teu émut deui aya samingguna. Barang lilir, ngalindur, hayang paéh, hayang paéh, cenah. Salirana kantun tulang dibungkus kulit téh lain heureuy.”
Bada subuh kuring sareng Aki Haji ka tempat panyumputan Uyut Lodaya. Apa anu nuju ngantosan téh. Barang ngadangu kuring datang, Uyut Lodaya lilir. Hayang duaan cenah jeung kuring. Atuh Aki Haji sareng Apa kalaluar. Sanggeus duaan, Uyut Lodaya neuteup kuring aya ku anteb.
“Ka dieu singdeukeut, Sujang,” cenah halon. Kuring maju deui leuwih deukeut. “Tulungan Uyut, geus teu kuat hayang geura reureuh.”
“Kumaha carana, Uyut?”
“Da bongan manéh ogé anu hayang. Sok calangap.”
Siga anu henteu sadar kuring ngabuka baham. Crot! Uyut Lodaya nyiduh, pas pisan kana elak-elakan kuring, terus kateleg.
“Sakabéh ajian Uyut geus dibikeun,” pokna. Basa kuring neuteup, terus ngaguyah-guyah, Uyut Lodaya tos teu aya.
**
Sabada ngurebkeun Uyut Lodaya kuring balik ka Jakarta. Pabeubeurang nepi ka jalan tol téh. Jalan kosong, bisa ngebut. Tapi dina pikiran kuring mah asa ramé, pabaliut. Aya anu anyar datang dina diri. Ah, sigana lain anu anyar. Tapi anu ngadadak mudigdig lir buta anu ngawasa alam pikiran kuring.
Anu kapikiran teh henteu saukur kumaha carana ngagejrétkeun saingan sapagawéan, tapi kumaha carana ngaganti komandan. Bandar narkoba kelas wahid, sigana atoheun lamun diajak kerja sama. Pamajikan Ketua Mahkamah Agung aya ku geulis, geus lila hayang mah, sigana daékeun lamun diajak jalan-jalan. Koruptor tilu trilyun téh sigana atoh lamun dibéla jeung kumaha carana sangkan kasusna dibekukeun. Tatangga anu sok parkir mobil di hareupeun garasi kuring, bari ari digeunggeureuhkeun kalah kukulutus, asa hayang nonjok nepi ka ngajehjer mah.
Kitu anu pabaliut dina pikiran téh. Tapi kuring mah asa senang. Enya, aya anu lengit dina haté. Rasa karunya, sieun dosa, henteu karasa deui. Di jalan téh bari ngebut bari nyetél lagu Queen. “We are the champion....”

14 Mei 2016 



Puisi Suara Karya: SAJAK DARI PEMATANG SAWAH

Puisi Suara Karya
Suara Karya, 1 Oktober 1995

SAJAK DARI PEMATANG SAWAH

mengikuti langkah anak-anak di pematang sawah
berjilbab dan berkopiah menenteng Qur’an
aku terluka oleh waktu yang jadi hinis
dan menorehkan luka demi luka.
airmata dihembuskan cuaca. dan pengakuan
jadi kubah yang membasuh setiap hadas.
aku rindu, ya Tuhan, memandang bulan
yang tersenyum setiap nadoman dinyanyikan tergesa
oleh mulut-mulut kecil dari tajug.

tapi rindu tak cukup jadi air pancuran
untuk mengompres jiwa yang gerah dan lelah
bersujud di sajadah tak menuntaskan
penyesalan yang memborok di sepanjang perjalanan.

anak-anak seperti belaian angin sawah
atau bening air kolam
hanya milik masa lalu, ya masa lalu.

Februari 1995

hinis = sembilu
tajug = surau



RUMAH SAKIT

geletar tembok dingin mengabarkan kepadaku
bahwa jarak ke ruang mayat tidak ada ukuran
setiap tarikan nafas hanya tanda dari kefanaan
ketenangan seperti apa yang dipunyai Ismail?

di kepalaku masa lalu menjadi televisi
yang menyetel film sadis atau film biru
aku dikejar gadis-gadis yang menawarkan mimpi
sambil membuka paha dan dada
airmata siapa yang membeku di diskotik dan lokalisasi?

kereta mayat yang baru mengantarkan tumpangannya
membeku dalam pikiranku. lorong-lorong senyap
mengabarkan waktu yang selalu bergerak
sunyi siapa yang mencekam
dan menebar seperti udara?

1994/1995



AKU MABUK 2

: kukeringkan laut tapi tak kutemukan birunya

menenggak dua botol anggul di musim dingin
hanya mempertegas sunyi. hati yang gelisah
telah dibawa berjuta reklame. dan airmata
membeku di etalase. sesungguhnya
hidup hanya menimbun kekalahan dengan kemenangan,”
kata orang-orang.

maka perih dan derita tak ada di kamus-kamus
luka jadi semacam rajah yang dipertontonkan
lewat orang-orang terpinggir dan dipinggirkan
tergusur dan digusur, tercampak dan dicampakkan

menenggak dua botol anggur musim dingin
hanya mempertegas sunyi. mempertegas
ketidakberdayaan yang jadi slogan kepahlawanan


Desember 1994  

Populer

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni