Jejak Kata :
BARAKATAK (2) BUKU (1) CARPON (38) CATATAN (1) CERPEN (68) CERPEN ANAK (4) DIARI (2) DONGENG (8) DONGENG SUNDA (5) FIKMIN (3) info (1) JEJAK CERPEN (5) KOLOM (2) MENGIRIM NASKAH (4) NOVEL (2) PUISI (26) RESENSI (1) tps (1)

Cerpen Tribun Jabar: DEWI

Written By Mang Yus on Rabu, 31 Agustus 2016 | 09.23

Cerpen Tribun Jabar
Tribun Jabar, 20-12-2016

Saya berangkat berdua bersama Dewi ke kota kabupaten. Maksudnya mau mengikuti Pelatihan Kurikulum Bagi Guru Sasaran selama lima hari. “Lumayan, ada uang sakunya,” kata bapak Kepala Sekolah sambil tersenyum. Ya, saya dan Dewi adalah guru honor yang gaji sebulannya hanya dua ratus ribu rupiah. Makanya maklum saja kalau bapak Kepala Sekolah mengatakan ada uang saku sambil tersenyum.
Hari pertama, setelah istirahat dan makan, Dewi bilang mau ke toilet. Tapi sampai jam masuk pelatihan berikutnya Dewi tidak datang lagi. Tentu saja saya penasaran. Saya minta ijin ke toilet. Di toilet ternyata tidak ada siapa-siapa. Kemana Dewi?
Sambil mengikuti pelatihan saya terus bertanya kepada diri sendiri. Apakah Dewi pulang? Sejak awal dia selalu bilang malas sebenarnya mengikuti pelatihan ini. Tapi harus diakui, sayang juga melewatkan mendapatkan uang saku seratus ribu rupiah per hari dan seratus ribu rupiah pengganti ongkos. Seandainya Dewi pulang, tentu menjadi mubajir uang saku dan pengganti ongkos itu. Karena uang itu belum bisa diambil.
Atau Dewi jalan-jalan? Ada kemungkinan seperti itu. Kadang pikiran Dewi itu nakal. Pelatihan ini sebenarnya tidak dia perlukan. Dewi itu orang pintar. Membaca buku petunjuk pelaksanaan saja dia sudah mengerti apa yang mesti dilakukan dengan metode kurikulum terbaru itu. Jadi, daripada mendengarkan orang bicara apa yang sudah dimengertinya, dia lebih baik jalan-jalan. Tapi kenapa dia tidak memberitahu dan mengajak saya? Kemana dia jalan-jalan?
Karena sampai malam pun Dewi tidak pulang saya mulai cemas. Ibunya bicara khusus kepada saya sebelum kami berangkat.
“Tolong Dewi diperhatikan dan diperingati ya. Dewi itu kadang-kadang nakal,” kata ibunya Dewi.
Dengan begitu saja saya sudah merasa bertanggung jawab. Karenanya semalaman saya tidak bisa tidur. Pagi-pagi saya dibangunkan dengan suara-suara ribut di halaman. Kebetulan kamar tempat saya menginap paling depan, dekat dengan halaman depan. Saya melongokan kepala melalui jendela.
“Lima belas ribu saja dua bungkus ya, Bu. Saya beli empat bungkus deh,” kata seorang peserta pelatihan sambil menimang-nimang bungkusan ranginang.
“Saya juga mau beli empat bungkus buat oleh-oleh kalau boleh segitu, Bu,” kata yang lain.
Saya terpesona. Saat si ibu penjual oleh-oleh itu menengok kepada saya, beberapa jenak kami saling memandang. Wajah si ibu itu mirip Dewi. Begitu saya sadar saya langsung keluar kamar. Tapi si ibu penjual oleh-oleh itu sudah berlalu. Bakul bawaannya belum diikat selendang ketika dia berlari. Saya mengejarnya.
“Bu, Bu, mengapa berlari?” tanya saya sambil memotong langkahnya.
Si ibu terkejut.
“Mengapa Ibu berlari? Ibu tahu dimana Dewi?” tanya saya langsung ke tujuan.
Ibu itu menggeleng. “Tidak. Tidak tahu,” katanya gugup.
Tapi saya tahu, Ibu itu menyembunyikan sesuatu.
“Kalau begitu, saya ikut kepada Ibu. Saya harus menemukan Dewi.”
Ibu penjual ranginang itu tidak bisa menolak. Kami pun lalu berjalan beriringan. Rumahnya ternyata di pinggiran kota kabupaten. Melalui jalan desa yang berlubang-lubang, persawahan dan pinggiran sungai.
“Kenapa mesti mencari Dewi?” tanya si ibu.
“Karena saya bertanggung jawab kepada anak-anak...,” kata saya tidak melanjutkan kalimat. Ya, saya baru ingat, Dewi sangat dicintai murid-muridnya. Dewi itu pintar, menerangkan pelajaran gampang dimengerti murid-muridnya. Apa yang mesti saya bilang kepada anak-anak bila saya pulang tanpa Dewi?
“Bilang saja Dewi pergi bersama pacarnya.”
Saya terkejut. Saya jadi teringat pacar Dewi. Dewa namanya. Seorang lelaki yang tampan dan bertanggung jawab. Dia sangat mencintai Dewi. Seperti juga Dewi sangat mencintainya. Sebentar lagi mereka merencanakan menikah. Bagaimana jadinya percintaan mereka bila saya pulang tanpa Dewi?
“Takut ya?” tanya si ibu lagi.
“Oh, saya bukan takut. Tapi saya bertanggung jawab. Saya harus menemukan Dewi.”
“Tanggung jawab kepada orang lain? Ibunya Dewi, pacarnya, muridnya. Apa bila tidak ada mereka kamu tidak mencari Dewi?”
Saya termenung. Ya, harus diakui, saya tidak akan tenang bila saya tidak menemukan Dewi. Dewi adalah teman bermain sejak kecil. Kami tidak pernah berantem. Bila Dewi mempunyai makanan, katanya saya adalah yang paling diingatnya. Saya pun begitu. Bahkan saya berani bilang, barang apapun milik saya, setengahnya adalah milik Dewi.
Dewi itu pencinta lingkungan. Halaman rumahnya, depan dan belakang, penuh dengan bebungaan dan bibit tetumbuhan. Dewi akan menanam bibit tetumbuhan itu di tanah kosong mana pun. Saya adalah sahabatnya yang dengan senang hati menanam bibit tetumbuhan itu di pinggir jalan, bantaran sungai, atau pinggir hutan yang gersang. Harus diakui, saya bukan hanya mengantar, saya pun mendapatkan kepuasan yang indah setiap menanam bibit tetumbuhan itu. Tapi terus terang juga, saya tidak akan bisa melakukannya tanpa Dewi.
Dewi juga pencinta binatang. Mata Dewi akan berkaca-kaca bila melihat kucing liar yang kurus dan tubuhnya penuh luka atau anjing liar yang terduduk lemas kehausan dan kelaparan. Saya bisa membersihkan luka binatang dan mengeringkannya berkat Dewi. Jadi harus diakui, saya tidak bisa melakukannya tanpa Dewi.
Dewi adalah sosok yang bangga dengan hidup yang bersih. Berkali-kali hasil ujian pns ada kemungkinan Dewi itu masuk hitungan sebagai yang lulus. Sudah tiga orang yang mendatangi Dewi setelah ujian pns itu dilakukan. “Dewi itu sebenarnya bisa diterima, hasil ujiannya termasuk ke dalam kuota yang diterima,” kata orang itu. “Tapi kami tidak menjamin bila ada permainan di belakang. Jadi saya beritahukan, melalui jalan belakang, karena saya kasihan kepada Dewi, pertahankan posisinya dengan uang pengaturan. Hanya sekedarnya saja, untuk uang lelah yang mengatur. Dua puluh juta saja cukup, dibayarkan nanti setelah ada pengumuman. Dewi sendiri kan tahu, saat ini tarif jalan belakan untuk jadi pns sampai seratus juta rupiah.” Tapi Dewi tidak pernah mendengar penawaran seperti itu. Dia lebih memilih mengajar dengan uang honor dua ratus ribu rupiah saja. Sikap itulah yang membuat saya bangga kepadanya.
“Harus diakui, Dewi adalah segalanya bagi saya,” kata saya kepada ibu pedagang oleh-oleh itu. “Karenanya saya ikut ke sini. Karena saya tidak yakin Ibu tidak tahu apa-apa tentang Dewi. Bicaralah terus terang, Bu, ke mana Dewi pergi?”
Si ibu pedagang oleh-oleh itu balik terkejut. Beberapa jenak dia memandang saya.
“Ya, Dewi memang pernah ke sini. Tapi tidak lama. Hanya mampir. Selanjutnya dia pergi lagi.” Si ibu itu menarik napas panjang, seolah-olah berat mengatakannya. “Dia ingin mencari sesuatu yang selama ini dicarinya.”
“Apa yang dicarinya?” tanya saya cepat.
“Sebuah hiasan dinding. Hiasan degan huruf kaligrafi.”
Saya pun pergi ke kampung pengrajin kaligrafi. Sebuah perjalanan yang tidak mudah. Melalui tepi hutan, menyeberang sungai, menuruni jurang. Pantas saja si ibu penjual oleh-oleh itu menyarankan saya membawa nasi dan ikan sebagai bekal. Tapi saya menolaknya. Pikiran dan perasaan saya terlalu penuh oleh keinginan segera bertemu Dewi.
Di sebuah kampung saya terpesona dengan seorang wanita yang sedang menjemur kertas-kertas daur ulang. Rambutnya yang sepunggung teruray indah. Tatapan matanya sangat teduh. Senyumnya bersahabat. Itu semua milik Dewi. Dewi yang punya kelebihan seperti itu.
“Maaf numpang tanya,” kata saya. “Apa tahu dengan yang namanya Dewi?”
“Dewi yan rambutnya sepunggung dan selalu terurai indah?”
“Ya, betul sekali.”
“Dewi yang matanya begitu indah dihiasi dengan bulu-bulu mata yang lentik?”
“Ya, betul.”
“Dewi yang selalu tersenyum bersahabat?”
“Ya.”
“Kemarin dia memang ke sini. Dia memesan hiasan dinding kaligrafi. Tapi setelah selesai, dia pergi dan lupa membawa hiasan pesanannya.”
Saya memandang hiasan pesanannya. Pigura memanjang itu pinggirnya diukir indah. Warna emas peliturnya memantulkan cahaya gemerlap. Dan huruf kaligrafinya tertulis indah: “Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu”
Waktu itu juga saya pamitan. Perhiasan dinding bertuliskan huruf kaligrafi itu saya bawa. Saya harus secepatnya mencari Dewi. Dia akan senang bila tahu saya membawa pesanannya yang tertinggal. Tapi perjalanan pulang tidaklah mudah. Melalui jalan setapak di pinggir hutan, menyusuri pinggir sungai, menuruni jurang, jalan kampung berbatu yang seperti tanpa ujung. Saya baru ingat sudah beberapa hari selama mencari Dewi saya makan seadanya. Di pinggir sebuah desa saya terjatuh. Beberapa saat saya tidak ingat apa-apa.
Ketika siuman sudah banyak orang mengelilingi saya. Sayup-sayup saya mendengar seseorang berkata.
“Ini ada KTP-nya. Asalnya dari luar kota. Namanya Dewi....”
**

Pamulihan 8 Juli 2015


CARA MENGIRIM CERPEN KE TRIBUN JABAR

Cerpen Tribun Jabar

TRIBUN JABAR adalah sebuah harian yang terbit di Bandung. Tapi meski terbit di daerah, TRIBUN JABAR tidaklah bersifat kedaerahan. Banyak cerpenis dari pelosok seluruh Indonesia berlomba mengirimkan cerpennya ke TRIBUN JABAR. Makanya kalau kita perhatikan setiap minggunya, selalu bergiliran cerpenis dari berbagai daerah di Indonesia.
TRIBUN JABAR termasuk selektif dalam memilih cerpen. Mungkin karena redakturnya, Hermawan Aksan, adalah sastrawan yang sudah berpengalaman. Nah, bagaimana kalau kita ingin mengirim cerpen ke TRIBUN JABAR?
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah panjang halaman. Di TRIBUN JABAR halaman untuk cerpen berbagi dengan ulasan buku dan kolom dari wartawan (redaktur). Ruangan untuk cerpen sendiri sekitar 7.500 karakter (dengan spasi). Sekitar empat tahun lalu saat pertama saya mengirim cerpen ke TRIBUN JABAR, mendapat balasan seperti ini: Wah, belum dibaca pun ini cerpen tidak bisa dimuat, kepanjangan. Tentu saja, karena cerpen yang saya kirim waktu itu sekitar 12.000 karakter.
Syarat lainnya, buatlah cerpen sebagus mungkin (minimal menurut penulis masing-masing). Meski penulis hebat selalu berpendapat: cerpen bagus itu belum dituliskan; tapi kirimlah cerpen yang bagusnya nomor dua, tiga, dan seterusnya. Bagaimana standar cerpen yang bagus? Nah, bacalah sebanyak-banyaknya cerpen dan belajarlah secepat-cepatnya. Minimal pelajari cerpen-cerpen yang pernah dimuat TRIBUN JABAR. Googling... Googling... itu tahapan wajib untuk saat ini.
Bila sudah merasa ok, panjangnya sudah ok, tinggal kirim ke email : cerpen@tribunjabar.co.id , atau hermawan_aksan@yahoo.com. Empat tahun yang lalu cerpen saya dimuat TRIBUN JABAR sekitar tiga minggu setelah pengiriman. Setahun belakangan ini rata-rata dua bulan setelah pengiriman baru dimuat. Cerpen yang ditolak? Wah, jangan diceritain soal yang itu. Pasti setiap penulis punya daftar panjang naskah-naskahnya yang belum bisa dimuat atau ditolak itu. Jadi...
Saran saya, kirimlah terus, minimal satu cerpen setiap bulan. Pantau juga korannya, baca cerpen yang dimuatnya. Bila tidak memungkinkan, gabung di grup facebook Sastra Minggu atau Sastra Koran Majalah. Biasanya selalu ada informasi pemuatan cerpen di koran/majalah di grup itu. Kalau mau lihat langsung, buka saja: http://jabar.tribunnews.com. Hari Minggu sore, sekitar pukul 17.00 WIBB, biasanya TRIBUN JABAR sudah bisa dibaca e-pappernya.
Satu lagi informasi, mengenai honornya. TRIBUN JABAR termasuk media cetak terdepan dalam pembayaran honor. Seminggu setelah pemuatan, sekitar hari Selasa-Rabu, honor langsung ditransfer. Bila pertama kali cerpenmu dimuat, biasanya bagian keuangan akan menghubungi melalui telepon, meyakinkan nomor rekeningmu. Bila sudah berkali-kali dimuat, honor biasanya langsung ditransfer. Besarnya Rp 300.000.
Jadi, selamat mencoba....
Ini contoh cerpen-cerpen saya yang pernah dimuat TRIBUN JABAR:
1.       WASIAT MAMA
2.       SANGKURIANG
3.       ORANG GILA
4.       DONGENG BUNGA MAWAR
6.       AIRMATA AYAH
7.       SEBUTIR KURMA DI PIRING WALI
8.       LUKISAN
9.       DEWI

10.   SI PENGKOR

Cerpen Tribun Jabar: HARI PALING ANEH DALAM HIDUP SAYA

Written By Mang Yus on Selasa, 30 Agustus 2016 | 11.16

Tribun Jabar, 28-8-2016

Tidur saya tentu terganggu. Teriakan minta tolong itu melengking pluit kereta. Saya keluar dari gubuk. Di sekeliling, persawahan dan perkebunan, tidak ada yang mencurigakan. Orang-orang bekerja di sawah. Di sebelah kanan dua orang, di sebelah kiri empat orang, di depan lima orang, di belakang tiga orang.
“Toolllooongng...! Ammppuunn...! Toollooongng...!” teriak pluit kereta itu terdengar lagi.
Saya berlari ke arah kebun jagung. Teriakan itu semakin jelas. Saya terus berlari melewati kebun jagung, kebun singkong, dan akhirnya ke perkampungan.
“Toollooongng...! Ammppuunn...! Toolloongng...!” Suara melengking itu berasal dari seekor ular yang sedang dikepung dan dilempari anak-anak.
Tentu saja saya terpana. Orang-orang tidak ada yang terganggu dengan teriakan minta tolong itu. Pedagang bakso menunggu langganannya setelah memukul-mukul mangkoknya. Seorang ibu belanja sayuran di warung kecil. Petani mengangkut hasil panennya ke pinggir jalan. Seorang tukang kridit mengetuk rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya sejak pagi.
“Kamu itu mendengar, tapi tuli! Saya minta tolong dari tadi, badan sudah mau hancur, masih diam saja!” teriak ular yang kepayahan itu.
Saya segera menghampiri anak-anak dan membubarkannya. Setelah anak-anak pergi, saya berjongkok.
“Awalnya saya tidak tahu kamu yang meminta tolong,” kata saya sepelan angin semilir.
“Sudahlah, tolonglah saya sekarang. Saya haus dan badan penuh luka. Sakit dan perih,” rintih ular itu.
“Dari tadi saya mau nolong, tapi tidak tahu caranya, saya tidak mengenal dunia ular.”
“Bawa saya ke sungai di pinggir sawah itu dan segera celupkan ke air.”
Saya membawa ular belang itu dengan sebilah bambu bekas pagar rumah. Orang-orang hanya melirik, yang berpapasan hanya menghindar sedikit takut terkena ular yang sudah tidak berdaya itu. Rupanya ular belang sebesar ibu jari tidak menarik perhatian orang.
Setelah dicelupkan ke air, ular belang itu manarik napas panjang. Ekornya mulai bergerak. Lidah bercabangnya yang dari tadi menjulur sudah tenang di dalam mulutnya. “Saya kapok ke perkampungan manusia lagi,” keluhnya. “Manusia mudah main siksa siapapun yang tidak berkomunikasi dengannya.”
“Lagian, siapa yang suruh main ke perkampungan manusia?” bela saya. Ya, bagaimanapun saya ini kan manusia. Tidak bisa dong disalahkan begitu saja, apalagi hanya oleh seekor ular.
“Saya tidak main! Saya sedang mencari bayangan!” bentak ular itu.
“Bayangan? Maksudnya?”
“Ya, bayangan saya hilang waktu sedang berjemur di atas batu. Kata dongeng, bayangan saya itu dicuri manusia.”
Saya tertawa. “Lagian, siapa yang suruh percaya dengan dongeng?”
“Bangsa ular tidak punya sejarah! Adanya dongeng! Jadi dongeng adalah panduan!”
Saya mundur selangkah mendengar nada bentakan halilintar itu. Ular belang itu berdiri dan mendekati saya.
“Kamu mau apa? Mau matuk saya?” Saya mundur lagi selangkah. Ular itu pun maju lagi. “Saya tidak mencuri bayanganmu!”
“Kalian manusia sama saja, pembuat onar di bumi ini!”
Saat mundur selangkah lagi, kaki saya terantuk batu. Saya jatuh. Ular itu maju sampai dua puluh senti lagi di wajah saya. Tentu saya menyesal menolongnya. Saya memejamkan mata. Saya pasrah kalau dia.mematuk saya. Tapi yang terdengar suara gelisirnya. Waktu saya membuka mata, ular itu sudah masuk setengah badan ke dalam semak-semak.
Huh! Saya mengeluarkan napas berat.
**
Hari yang aneh. Tadi pagi saya pergi ke pabrik tempat saya bekerja. Langkah saya begitu berat. Saya tidak bawa apa-apa, tapi beban yang menindih dua puluh karung batu. Pabrik menuntut ini dan itu. Rumah kurang ini dan itu. Entah langkah ke berapa, beban itu mulai berkurang dan menghilang sama sekali. Tapi kaki saya melangkah ke arah yang tidak terkirakan sebelumnya.
Lima jam lebih saya berjalan tanpa berhenti. Memasuki keramaian kota, pinggir jalan tol, dan akhirnya ke perkampungan demi perkampungan. Akhirnya sampai ke sebuah gubuk di pinggir sawah. Saya beristirahat dan tertidur. Begitulah, tidur saya tidak lama karena terganggu teriakan ular belang kurang ajar itu.
Saya kembali ke arah gubuk mau meneruskan kembali tidur yang belum tuntas. Tapi baru tiga langkah ada yang memanggil saya.
“Hey hey hey...! Jangan marah jangan bingung. Kemarilah, kamu perlu mendengar kegembiraan saya.”
Saya berkeliling mencari yang bicara. Selembar daun flamboyan melambai-lambai. Sialan! Tadi ular, sekarang selembar daun? Sakit apa saya ini? Tapi kaki melangkah juga mendekati pohon flamboyan yang sedang berbunga itu.
“Jangan marah dong. Kalau kamu tidak tahu, jangan nebak-nebak semabarangan dong. Ular itu berterima kasih kepadamu. Kenapa kamu jengkel?” kata selembar daun itu.
“Ya iyalah, ular itu mengancam, lalu pergi begitu saja, tanpa mengatakan apapun. Brengsek itu namanya!”
“Begitulah cara ular berterima kasih.” Daun itu malah mengejek. “Ketahuan, sudah lama kamu tidak mendengar kami bicara. Lihat dong ke langit! Dunia ini luas! Bumi ini tidak hanya dihuni manusia!”
Saya memandang langit. Langit yang luas. Awan berarak. Matahari sembunyi. Kemana bulan? Kemana bintang? Angin terasa tapi tidak terlihat. Apa iya saya tidak memperhatikan mereka?
“Lihat dong, pohon padi merunduk diberati isi, pepohonan menari, air pergi mengembara, batu semedi dalam sunyi. Bicara dong dengan mereka. Dunia ini indah. Dunia ini mencerahkan.”
Saya tidak bicara sepatah pun.
“Dan saya sendiri, lihat begitu gembiranya saya, kamu tahu warna apa tubuh saya?”
“Kuning.”
“Haha... tubuh tua ini menyenangkan. Tinggal menunggu hempasan angin kencang, saya gugur ke bumi, menjadi busuk makanan cacing, dan tanah subur diserap akar menjadi tunas yang hijau yang segar yang muda yang....”
“Iya, kamu tidak usah bekerja, tidak usah mengumpulkan kekayaan!”
“Hoho... nyantai aja, Kawan. Kamu datang ke bumi ini tidak membawa apapun, kenapa pulang mesti membawa sesuatu? Kenapa mesti meninggalkan sesuatu? Cukup meninggalkan hati. Hati kita yang akan mewarnai dunia ini setelah kita pulang. Dan hati, seperti angin terasa tapi tidak terlihat. Dan hati, seperti matahari menghangatkan menerangi tapi tidak terlihat.”
“Ah, kalian itu bangsa nomer dua. Tetap saja kami manusia yang nomor satu.”
“Hohoho, sombong sekali. Ya, manusia bisa nomor satu, tapi bisa juga nomor terakhir. Hanya manusia yang tidak pernah kenyang. Lihat, para penjelajah pencari kekayaan yang kemudian menjajah itu adalah orang-orang kaya. Lihat, para pencuri besar itu adalah orang-orang kenyang. Lihat....”
Saya berbalik dan melangkah lagi menuju gubuk di pinggir sawah itu.
“Hohoho... lihat, saya gugur, saya gugur, saya melayang, hohoho. Dunia yang indah, dunia yang indah.”
Saya berbalik lagi, melihat daun gugur itu menari-nari di udara. Ketika saya meneruskan langkah, ada senyum yang tumbuh di hati saya.
**
Saat menuruni undakan dari perkebunan ke persawahan, saya mendengar suara-suara bercakap. Saya melihat ke sekeliling. O, rupanya para petani yang sedang memanen padi itu.
“Tuh, lihat orang yang turun dari kebun jagung itu. Dia yang ngomong sendiri, tersenyum sendiri itu,” kata yang seorang.
“Bukan ngomong sendiri. Dia itu bicara sama ular,” balas temannya.
“Ah, kata siapa?”
“Iya, tadi ada yang memergoki. Kemudian juga berbincang dengan pohon flamboyan.”
“Wow, apa katanya yang dibicarakannya?”
“Ya, tidak tahu.”
“Apa dia gila?”
“Sepertinya bukan. Dia itu sufi.”
“Sufi? Apaan tuh?”
“Orang yang ngaji diri, sehingga dia bisa bicara sama binatang, tetumbuhan, bebatuan, dan sama apapun yang ada di dunia ini.”
“Wow, keren.”
“Tapi sufi jarang menampakkan diri. Kalau betul dia seperti itu, kampung kita mendapat berkah kedatangan orang pintar.”
Perbincangan itu berhenti ketika saya semakin dekat. Mereka tersenyum dan mengangguk ketika saya berhenti di pinggir sawah.
“Kata burung pipit yang hinggap di pohon padi itu, kalau sedang bekerja jangan sambil ngomongin orang lain,” kata saya sambil tersenyum. “Oh iya, saya ini bukan sufi, hanya orang biasa yang tersesat.”
**
Di depan gubuk saya berdiri. Manarik napas panjang sambil memandang sekeliling. Dunia begitu indah, gumam saya sambil tersenyum. Saya harus pulang dan memperbaiki diri. Tapi sebelumnya tidur sebentar mengistirahatkan badan yang lelah.
Di depan pintu gubuk yang didorong saya terpana. Tempat tidur saya sudah ada yang menempati. Saya dekati orang itu, saya berjongkok, saya tatap wajah yang lelap itu. Saya semakin bingung. Orang itu adalah tubuh saya.
Entah berapa lama saya menatap wajah sendiri. Kemudian terdengar langkah kaki mendekat, langkah kaki yang banyak. Dan seseorang bicara, “Mumpung orang itu datang kemari, kita harus meminta berkatnya lewat air yang didoai. Orang sakit ingin sembuh, melahirkan lancar, pintar sekolah, berdagang laku, pasti gampang bagi orang pintar itu.”
Saya melihat ke luar gubuk, orang-orang berjalan beriringan, puluhan orang, sambil menjinjing air dalam botol. **
  
Pamulihan, 13 April 2016

Catatan:
Cerpen ini aslinya saya tulis dengan panjang 8.805 karakter. Tapi untuk kepentingan pemuatan media, saya mengeditnya. Waktu dimuat Tribun Jabar panjangnya menjadi 7.613 karakter. Karena begitulan, ketentuan tempat di Tribun Jabar sekitar 7.500 karakter. Di blog ini saya tayangkan yang versi pertama (belum diedit). Saya sendiri lebih menyukai versi yang ini.... 


PIKIRAN

Written By Mang Yus on Jumat, 12 Agustus 2016 | 14.14


Cerpen Yus R. Ismail
Apa yang sedang dipikirkan naga ini, ya?
Seringkali kita ingin tahu apa yang dipikirkan orang lain. Apalagi bila kelakuan orang lain itu dianggap aneh. Cerpen Ayahku Duduk Di Dalam Gelap (My Father Sits In The Dark: Jerome Wiedman) menceritakan kepenasaran aku akan kebiasaan aneh ayahnya. “Apa yang ada di pikiran Ayah?” tanya aku. “Tidak ada,” jawab Ayah. Lucu, karena seringkali kita pun ingin tahu apa yang ada di pikiran orang lain. Melihat orang lain begini atau begitu, pikiran kita lalu sibuk bertanya: mengapa, ada peristiwa apa, bagaimana, dsb. Syukur kalau hanya menerka sendirian, bahaya kalau terus bergosip beramai-ramai, lebih bahaya lagi karena media massa atau medsos sekarang ini sangat mendukung untuk bergosip itu. Sementara apa yang ada di pikiran sendiri pun seringkali tidak bisa dimengerti. Mengapa melakukan ini sementara yang diinginkan itu, mengapa keinginan-keinginan tidak juga dilakukan....
Sifat dasar manusia, sehari-hari, kita kenali dengan akrab. Tapi membaca cerpen Ayahku Duduk Di Dalam Gelap terasa segar, saya seperti menemukan sesuatu yang lama hilang, berharga, dan saya tidak berusaha mencarinya. Tentu setelah diingatkan saya akan mencarinya. Maksudnya, ikut memikirkan kekonyolan kita “ingin mengetahui pikiran orang lain itu”, sementara pikiran sendiri pun banyak yang tidak dimengerti.
Memikirkannya, ya mencerpenkannya....   

12-8-2016

PLAGIAT

Cerpen Yus R. Ismail
Cerpen ini pernah dimuat Tribun Jabar 8-6-2014. Kisah Sangkuriang diambil dari cerita rakyat terkenal: Asal-mula Tangkuban Perahu. Legenda ini sudah ratusan kali ditulis orang. Tapi bahkan ceritanya pun berbeda dengan versi manapun. Tentu ini sangat jauh untuk disebut plagiasi. 

Seorang teman bertanya: mengapa menulis Jejak Cerpen? Dengan menulis asal-usul cerpenmu, artinya kamu sudah membukakan aibmu sendiri.
Tentu saya berpikir sejenak. Apa benar ini adalah sebuah aib? Baik, begini awal pikiran saya:
1.      Saya baru memulai lagi menulis cerpen dua-tiga tahun belakangan ini. Saya serius melakukannya. Artinya, setiap hari pikiran dan perasaan saya siap untuk cerpen. Saya membuka diri untuk dimasuki sinyal-sinyal cerpen. Saya membaca cerpen, puisi, berita koran, status facebook, kicauan twitter, nonton film, merasakan dingin subuh, berhujan-hujanan; dengan kesiapan menangkap sinyal cerpen. Jadi ini adalah langkah kerja saya.
2.      Saya yakin bahwa tidak ada seorang cerpenis pun yang menulis dengan baik tanpa membaca cerpen-cerpen orang lain. Dalam ilmu surat ini malah ada peribahasa lucu tapi sarkas: Penulis besar adalah pencuri besar. Bagi yang tidak mengerti, itu menjadi berbahaya. Pencuri di sini tidak sama dengan plagiat. Jadi pencuri ide adalah mengembangkan satu titik ide menjadi bola besar ide milik kita sendiri. Bisa jadi cerpen yang ditulis ternyata sangat berlainan, sangat jauh, dari sinyal ide asal cerpen ini bermula. Tidak masalah, karena dalam menulis cerpen, apapun bisa saja terjadi. Pikiran, perasaan, jari-jemari, saat menulis cerpen, jadi semacam tuhan yang punya kehendaknya sendiri.
3.      Jadi ini semacam contoh bagaimana menghindari plagiasi yang saat ini semakin banyak ditemukan.


12-8-2016

Cerpen Jawa Pos: SUNYI JUGA DAN BAHKAN SUNYI

Written By Mang Yus on Selasa, 09 Agustus 2016 | 15.52

Cerpen Yus R. Ismail
Jawa Pos, 7 Agustus 2016

Saya sedang di kantor ketika kabar itu datang. Ayah sakit. Teh Aisyah, kakak tertua saya, yang menelepon.
“Kamu harus datang!” kata Teh Aisyah seperti yang penting harus mengatakan kalimat perintah seperti itu. “Kalau mau bareng, sekarang ditunggu di sini.”
“Saya nyusul aja, Teh. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”
“Tapi harus datang, ya?”
“Iya Teh, pasti datang.”
Teh Aisyah dan saya memang tinggal dan bekerja di Bandung. Sementara tiga kakak saya yang lainnya: Aa Akbar dan Teh Zenab tinggal dan bekerja di Jakarta, Aa Lukman tinggal dan bekerja di Kalimantan.
Hari sabtu sore, tiga hari setelah Teh Aisyah mengabari Ayah sakit, saya pulang. Semua kakak sudah ada di rumah. Hanya Teh Aisyah yang datang bersama suaminya, Kang Soleh. Kakak lainnya datang sendiri-sendiri. Rumah besar Ayah di kampung Cinenggang, sebuah kampung terpencil di kabupaten Sumedang, masih terasa lengang. Ya, karena kehadiran mereka berbeda dengan saat Hari Raya Idul Fitri. Mereka datang bersama suami, istri, anak-anak, dan cucu-cucunya.
Semua kakak saya tentu saja marah. “Kamu ini tinggal paling dekat dengan Ayah, tapi datang paling telat! Dasar, anak durhaka!” kata Aa Lukman. Saya menganggap biasa mendengar kalimat-kalimat seperti itu. Makanya saya tidak membantahnya.
Ayah sedang duduk di tempat tidur ketika saya masuk ke kamarnya. Matanya begitu berbinar ketika melihat saya. Saya bersujud di kaki Ayah, memeluknya, dan mengucapkan kata-kata maaf dan penyesalan datang terlambat. Tapi Ayah seperti yang tidak mendengarnya. Ayah mengusap-usap rambut saya, punggung saya, lalu mencium kening saya. Sesuatu yang sangat menakjubkan. Sesuatu yang sanggup menghentikan kata-kata penyesalan saya yang keluar tidak dari hati, menghentikan pelukan saya sebagai seremonial yang menunjukkan rasa kangen padahal tidak sama sekali. Ya, karena Ayah mengusap-usap rambut saya, punggung saya, apalagi mencium kening saya, baru kali itu dilakukannya.
“Maafkan Ayah, Su. Ayah yang salah, kamu yang benar,” kata Ayah seperti berbisik.
“Tentang apa, Ayah?” tanya saya tidak mengerti.
Tapi Ayah tidak mengatakan apapun lagi. Ayah hanya memandang tembok kamar.
**
Ayah baru setahun pensiun sebagai pegawai negeri. Meski pensiun, kegiatan Ayah sebenarnya tidak berkurang. Ayah mempunyai beberapa bisnis bersama teman-temannya. Meski Ibu sudah meninggal dua tahun yang lalu, tapi semangat Ayah untuk bekerja tidak pernah melemah.
Awalnya Ayah mendapatkan daging kecil menggantung di gusi atasnya. Ayah menganggapnya sepele. Daging itu ditariknya dengan harapan hanya meninggalkan perih. Nyatanya daging itu adalah salah satu akar kanker mulutnya. Darah mengucur deras ketika daging kecil itu ditarik. Ayah terkejut, lalu berteriak.
Teh Aisyah yang pertama datang sudah mendapatkan Ayah dirawat di rumah sakit. Teh Aisyah menjadi wakil keluarga yang menyetujui operasi kecil pemotongan gusi. Meski prediksi dokter menyatakan kanker itu sudah menyebar, tapi operasi kecil itu membuat Ayah lebih baik. Jadwal Ayah selanjutnya adalah kemoterapi berjadwal. Tapi Ayah menolaknya. Ayah lebih memilih pengobatan herbal secara tradisional. Karena itu dokter mengatakan kepada Teh Aisyah, “Bila tanpa kemoterapi, usia Bapak diperkirakan hanya bisa bertahan sekitar dua bulan.”
Saya dan kakak-kakak pulang pada hari minggu sore. Selama kami di Cinenggang, Ayah tidak mengatakan apapun kepada anak-anaknya. Setiap ditanya hanya memandang sebagai jawabannya. Setiap diajak bicara tidak pernah merespon apapun.
Meski begitu, hampir setiap hari Ayah keluar rumah. Dia duduk berlama-lama di hadapan taman kecil. Ayah hanya merubah posisi duduknya bila Mang Asip datang membawa makanan dan obat herbalnya. Ya, untungnya ada Mang Asip dan Bik Konah, suami istri yang sejak saya kecil sudah tinggal di rumah Cinenggang itu, mengurus rumah, taman kecil, kebun dan kolam.
Teh Aisyah pernah bertanya kepada Mang Asip, apakah Ayah suka menceritakan sesuatu? Tapi Mang Asip menggeleng.
**
Teh Aisyah dan Kang Soleh sengaja datang ke rumah kontrakan saya sore hari jum’at. Mereka meminta saya menemani hari-hari Ayah. “Karena Ayah hanya menyebut namamu, Su. Hanya menyebut namamu,” kata Teh Aisyah.
“Teteh ini bagaimana. Kan semuanya juga tahu, Ayah itu sudah lama tidak suka dengan saya.” Saya mengelak.
Kemudian Aa Lukman menelepon. “Kamu yang harus menemani hari-hari Ayah. Kamu banyak dosa kepada Ayah!” katanya kasar. “Jangan pikirkan pekerjaanmu. Gajimu akan Aa ganti!”
Saya tidak suka dengan kalimat Aa Lukman. Dia memang yang paling kaya diantara anak-anak Ayah. Selain kerja di Perhutani, kabarnya dia juga punya bisnis lainnya. Tapi tidak semestinya dia mengatakan itu kepada saya. Pekerjaan saya mungkin dianggapnya yang paling tidak mapan. Saya ini marketing di sebuah perusahaan percetakan. Sementara kakak-kakak saya semuanya pegawai negeri sipil. Kebijakan pemerintah sejak lima belas tahun lalu ketika SBY berkuasa berpihak kepada pegawai negeri. Gaji mereka terus dinaikkan dengan harapan budaya korupsi menjadi minimal. Sementara kemapanan swasta terus menurun digerus inflasi.
Saya akan balik marah bila Teh Aisyah tidak memeluk saya. “Jangan dengarkan dia,” kata Teh Aisyah dengan mata berkaca-kaca. “Kamu dipilih bukan karena pekerjaanmu dan hanya kamu yang belum menikah,” katanya. “Tapi karena Ayah hanya menyebut namamu, Su. Hanya menyebut namamu.”
**
Saya anak bungsu Ayah yang berbeda usia cukup jauh dengan kakak-kakak lainnya. Saya baru empat tahun lulus kuliah dari salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Usia saya dua puluh tujuh tahun. Sementara Teh Zenab, kakak terdekat saya, sudah tiga puluh tujuh tahun.
Perselisihan saya dengan Ayah, kalau itu harus dibilang perselisihan, bermula ketika saya akan kuliah. Saya memilih jurusan bahasa, sementara Ayah memaksa saya masuk jurusan ekonomi atau kehutanan. “Selesai kuliah ekonomi atau kehutanan itu lebih menjamin masa depanmu!” kata Ayah. “Mumpung Ayah belum pensiun, Ayah bisa membantumu jadi pegawai negeri. Lulus kehutanan, kakakmu bisa membantumu!” Tapi saya memilih jurusan bahasa sesuai minat saya.
Perselisihan kedua terjadi ketika saya lulus kuliah. Ayah meminta saya jadi ahli matematika. “Jalur belakang memang harganya seratus juta rupiah. Tapi uang sejumlah itu jadi kecil bila melihat gaji dan jaminan jadi pegawai negeri saat ini,” kata Ayah. “Ayah bisa mengeluarkan uang sejumlah itu dan mencari jalur belakangnya. Tapi ini tidak gratis!”
Saya tidak menanggapi apa yang dikatakan Ayah. Saat itu saya bersiap ikut tes CPNS. Tapi saya lebih memilih bekerja di sebuah percetakan kecil. Ayah marah dan menganggap saya bodoh, tidak tahu perubahan jaman.
Saat Ibu meninggal dua tahun yang lalu, saya merasa hanya akan pulang ke Cinenggang setahun sekali saat Hari Raya Idul Fitri tiba.
**
Saya mengikuti keinginan Teh Aisyah dan kakak-kakak lainnya untuk menemani Ayah bukan karena merasa bekerja paling tidak mapan. Tapi karena ada semacam penasaran, katanya Ayah hanya menyebut nama saya. Hanya menyebut nama saya.
Hampir setiap pagi menjelang pukul tujuh Ayah keluar rumah. Ayah duduk di kursi yang menghadap taman. Seharian dia memandangi taman. Siapapun tamu yang datang menengoknya, tidak pernah ada yang sanggup membuatnya bicara walau sepatah kata.
Ketika saya datang Ayah hanya melirik dan sedikit tersenyum. Saat siang Mang Asip datang membawa makanan dan obat herbal, Ayah belum mengatakan apapun. Senja sebelum masuk ke dalam rumah, Ayah baru melirik kepada saya. “Kamu yang benar, Su. Ayah yang salah,” katanya seperti berbisik, mengulang apa yang dulu pernah dikatakannya.
“Mengenai apa, Ayah?” tanya saya cepat.
“Semakin mendekati akhir usia, harta itu semakin tidak berguna. Kamu pasti bangga, Su. Sementara Ayah semakin menyesal. Tapi Ayah bangga kepadamu.”
“Maksud Ayah?”
Tapi Ayah tidak lagi mengatakan apapun. Sampai seminggu saya menanti Ayah bicara. Tapi hanya tatapan dan sedikit senyum yang membuat saya yakin, Ayah memerlukan kehadiran saya di sampingnya.
Menjelang senja di hari kedelapan, Ayah melirik saya. “Ulat itu begitu rakus makan hanya untuk mati,” katanya seperti berbisik. Saya tidak siap memahami apa yang dikatakan Ayah. Tapi begitu saya ikuti apa yang dilihat Ayah, di sebuah pohon talas hias ada kepompong menggantung. Hari-hari lalu mungkin kepompong itu adalah seekor ulat.
“Besok ulat itu mungkin akan menjalani hidup baru sebagai kupu-kupu,” bisik Ayah. “Ayah ingin bermetamorfosis seperti ulat itu. Hanya kupu-kupu yang bisa melihat indahnya taman.”
Saya ini sarjana bahasa, belajar sastra dari masa lampau sampai yang terkini, tapi saya tidak punya kata-kata menanggapi pernyataan Ayah.
**
Suatu pagi Ayah mengajak saya pergi untuk membeli bibit pohon mangga. Bibit pohon mangga itu saya tanam di halaman rumah. Ayah memandangi saya yang mencangkul dan menimbun pohon dengan tatapan yang baru kali itu saya lihat.
“Ayah ingin bermetamorfosis menjadi sebatang pohon, Su,” katanya seperti berbisik. “Pohon itu seperti tidak hidup, tapi ternyata dia tumbuh menjadi sangat kuat, berkali-kali lipat lebih kuat dari kita, dari makhluk terkuat sekalipun. Peliharalah pohon mangga itu. Ayah ingin bermetamorfosis menjadi sebatang pohon.”
Imajinasi saya belum sanggup menangkap apa yang ada di pikiran Ayah. Saya hanya merasa, Ayah sedang belajar lagi melihat, belajar lagi mendengar, dan belajar lagi merasa. Tapi saat perkiraan saya itu ingin dikatakan, Ayah sudah tidak kuat. Ayah pingsan. Dan saat di jalan menuju rumah sakit, di pangkuan saya, Ayah meninggal.
Kakak-kakak kemudian berdatangan. Hari kedua setelah penguburan Ayah, kakak-kakak saya berniat pulang. “Sebaiknya kamu sekarang ikut Aa ke Kalimantan,” kata Aa Lukman. “Aa mau buka usaha percetakan di sana. Kamu yang harus menjalankannya. Berapapun modal yang kamu minta, Aa akan mengusahakannya.”
Tapi saya lebih memilih memelihara pohon mangga yang tingginya baru selutut. **

Cilembu, 16 Maret 2016

Populer

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni