Jejak Kata :
BARAKATAK (2) BUKU (1) CARPON (42) CATATAN (1) CERPEN (77) CERPEN ANAK (6) DIARI (5) DONGENG (7) DONGENG SUNDA (5) FIKMIN (3) info (1) JEJAK CERPEN (5) KOLOM (2) mengarang (2) MENGIRIM NASKAH (5) NOVEL (2) PUISI (39) RESENSI (1) tps (1)

SAYA ADA?

Written By Keluarga Semilir on Sabtu, 25 Februari 2017 | 04.30


Sampai di persawahan matahari baru terlihat semburat merahnya di langit timur. Tapi yang panen sudah menyelesaikan satu petakan besar. Tukang sabit maksudnya, yang sudah menyelesaikan satu petakan besar. Ibu-ibu yang akan ngagebot belum memulai. Mereka masih berkumpul di gubuk, menghabiskan sarapan nasi bungkus.
Tukang sabit itu yang didekati.
“Kang, saya ada?”
Tukang sabit menghentikan pekerjaannya. Di tangan kirinya segenggam rumpun padi, di tangan kanannya sebuah arit.
“Dari kemarin juga tidak ke sini lagi.”
“Berarti pernah ke sini?”
“Tentu saja. Dari mulai panen juga dia selalu ke sini. Kalau sudah duduk di pematang sawah, melihat kami yang panen, seperti yang melamun. Akhirnya mengeluh, entah kepada siapa. Katanya, kenapa panen sekarang mah tidak seramai dulu. Dulu sawah jadi tempat segalanya. Tempat bermain. Tempat harapan. Tempat mojang dan jajaka saling mengikat janji, lalu ka bale nyungcung setelah batu turun keusik naek. Tempat bercengkrama, berburu burung sawah, memancing belut dan ikan, kokoleceran, meniup seruling, sisindiran.
“Lalu?”
“Sekarang, panen teh seperti yang dikejar-kejar bayangan. Rumpun padi dibabat memakai sabit, lalu digebot. Pasti diarit dan digebot mah lebih cepat daripada memakai ani-ani dan diirik. Tidak masalah sebagian padi jatuh ke sawah. Tidak masalah yang gacong tidak merasakan lagi mengirik padi sambil mendengarkan dongeng radio sore-sore. Hasil gacongnya, sekarang mah kan sudah ditunggu oleh bandar di pinggir jalan. Jadi ke rumah hanya membawa uang. Buat makan sehari-hari, tetap saja beras raskin yang diperjualbelikan.”
Tukang sabit menarik nafas panjang, menyimpan sabit dan padi di tangannya.
“Kata-katanya selalu seperti yang melamun sampai jauh. Kata Mamang, sudah begini jamannya, Jang. Praktis kalau membawa uang ke rumah. Kebutuhan sehari-hari, sekarang ini bukan lagi hanya beras dan ikan asin saja. Tapi juga televisi, video player, telepon genggam, kulkas. Kalau tidak serba cepat, wah tidak terbeli kebutuhan itu. Suka melamun berkepanjangan kalau Mamang bicara begitu. Lalu katanya, ‘Yaitu, Mang, bukan tidak menerima dengan jaman yang berubah. Jaman itu seperti takdir, kita harus selalu menghadapinya. Tapi tidak menerima kenapa kita mesti berubah. Segala serba cepat, seperti yang sedang berlomba. Padahal, kita berlomba dengan siapa? Sementara yang hilang, yang hilang dari hati ini, tidak dianggap sama sekali. Kita ini pura-pura modern, pura-pura maju, padahal ada yang hilang dari hati, yang sangat berharga, kita pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak kehilangan.’ Setelah bicara begitu, lalu dia pergi.”
“Ke mana?”
“Entahlah. Tapi katanya mau demonstrasi.”
Tidak akan salah, kalau demonstrasi pasti ke kota. Di depan gedung DPR sekumpulan orang sedang demonstrasi. Katanya sedang mendemo tarif rumah sakit yang terlalu mahal. Waktu yang memimpin demo turun dari panggung, itu yang dihampiri.
“Saya ada?”
Juru bicara demo itu menatap, lalu memandang langit kelabu. Entah apa yang ada di pikirannya. Apalagi di hatinya. 
“Saya ada?”
“Yaitu yang membuat kemarin ramai di sini. Setiap hari yang demo itu kan ribuan orang jumlahnya. Mungkin tidak akan berkurang, karena masalah yang didemo juga selalu ada. Rumah sakit mahal, beas raskin diperjualbelikan, uang pajak milyar-milyar dikorupsi, proyek apapun selalu dipotong siluman,  penerimaan pegawai negeri disogok, dan masih berjejer masalah di negeri ini. Nah, dia ikut jadi juru bicara.”
Juru bicara demo itu diam.
“Apa katanya?”
“Katanya: ‘Mendemo orang lain itu gampang. Kesalahan orang lain itu jelas terlihat. Bagaimana kalau yang didemo itu diri kita sendiri, hati kita sendiri, pikiran kita sendiri. Ke gedung apa kita harus datang kalau yang didemo itu diri sendiri? Apa yang harus kita pidatokan kalau yang kita demo itu hati kita sendiri? Gampang sebenarnya menghitung kesalahan diri sendiri juga, karena kalau kita jujur setiap kesalahan itu terasa. Tapi apakah kita ikhlas mengakuinya? Apakah kita berani menunjuk hidung sendiri?’ Tentu saja ribuan orang yang berdemo terdiam, seperti jengkrik terkejut karena ada orang yang lewat. Lalu dia bicara lagi: ‘Sudah saatnya kita mendemo diri sendiri. Mari kita tunjuk hidung sendiri. Begitu banyak kelakuan yang tidak kita kehendaki, dan begitu banyak kehendak yang tidak kita lakukan. Itu semua harus kita demo. Harus terus-terusan kita demo!”
Juru bicara demo itu diam.
“Terusnya bagaimana?”
“Ribuan orang yang berdemo itu awalnya diam. Tapi kemudian ada yang mengomentari seorang dua orang. Katanya, siapa itu yang bicara? Mengapa berani-berani mendemo tukang demo? Kata yang lain, tidak salah lagi itu oknum. Atau penyusup yang sengaja disusupkan oleh musuh. Kata yang lain, turunkan! Turun...! Akhirnya dia pada narik, lalu dilemparkan ke pinggir jalan.”
“Sekarang ke mana?”
“Katanya terus mendemo, mendemo dirinya sendiri.”
“Ke mana?”
“Katanya ke surau di pinggir sawah.”
Waktu itu juga langsung disusul ke surau. Di teras surau yang ada seorang petani yang selesai mencangkul sawah.
“Mang, saya ada?”
“Amang juga kenapa istirahat di sini, siapa tahu dia ada lagi. Ternyata tidak ada. Kemarin-kemarin mah ada di dalam surau. Kelihatannya sedang merenung, menunduk. Tapi yang terdengar jelas suara tangisnya. Enak mendengarnya juga, yang menangis seperti yang begitu bersedih. Amang juga suka mendengarnya. Kalau bisa ingin menangis seperti itu. Ingin punya waktu untuk menangis seperti itu. Saat Amang sedang asyik mendengar yang menangis, dia berhenti lalu keluar surau. Katanya: ‘Bukan di sini... bukan di sini tempat saya yang sebenarnya. Tempat saya itu di alam ramai. Masih besar tanggung jawab yang mesti diselesaikan di alam ramai. Bukan di sini...’. Lalu dia pergi.”
“Ke mana?”
“Katanya ke pasar, mau berdagang.”
Disusul ke pasar, ternyata dia sudah pergi. Pedagang pindang yang menceritakan dia.
“Kemarin memang berdagang di sini. Tapi tidak lama. Dagangnya sih terlalu polos.”
“Polos bagaimana?”
“Kalau mau berdagang di sini, mestinya segala ilmu itu dipakai. Apakah itu ilmu yang kelihatan atau yang tidak kelihatan. Ilmu yang tidak kelihatan, para pedagang di sini memakai penajem segala macam. Ilmu yang kelihatan, kurangilah timbangan seons dari sekilo, kan jelas untungnya. Eh, dia berdagang polos, ya tentu dagangannya numpuk terus.”
“Rugi?”
“Tentu saja. Entah bagaimana terusnya karena dia juga tidak bicara lagi masalah dagang. Katanya mau beristirahat dulu.”
“Istirahat di mana?”
“Di rumahnya.”
Rumahnya di pinggir danau. Enak buat istirahat. Sejuk. Tapi sepertinya dia bukan sedang istirahat. Dia hanya melarikan diri dari kesumpekan.
Diketuk beberapa kali tidak ada yang menjawab. Eh, ternyata pintunya tidak terkunci.  Didorong, kepala masuk sambil mengucapkan salam.
“Hallooo... selamat siang...!”
Tidak ada yang menjawab.
 “Saya ada...?”
Suara yang perlahan. Tapi kalimat “saya ada?” tidak berhenti, bolak-balik di dalam rumah. Mantul ke sana ke mari, mantul ke gorden mantul ke plafon mantul ke jendela mantul ke tiang mantul ke meja mantul ke ubin mantul ke tembok... lalu menyelusup, menyelusup ke karpet menyelusup ke gelas menyelusup ke lemari menyelusup ke lampu menyelusup ke selimut menyelusup ke piring menyelusup ke baju menyelusup ke kasur... terus berdengung, berdengung di dalam rumah berdengung di dalam kamar berdengung di dalam galon berdengung di toilet berdengung di dalam dada.
Perasaan, iya perasaan, sudah berbulan-bulan saya di rumah. Sendirian.
***

Nopember-Desember 2012 / 2013
 
           
Ngagebot = melepaskan bulir-bulir padi dari tangkainya dengan cara memukulkan pohon padi ke kayu.
Teh, mah(Sunda) = kata yang menegaskan
Ka bale nyungcung = menikah
Batu turun keusik naek (pribahasa) = suka sama suka
Kokoleceran = bermain baling-baling
 Diirik = melepaskan bulir-bulir padi dengan diinjak-injak
Gacong = kuli memanen padi
Mamang, Amang = paman

BODOH

Written By Keluarga Semilir on Selasa, 07 Februari 2017 | 03.35

Orang-orang menyebutnya Si Iot. Entah kependekan dari ideot atau namanya memang seperti itu. Saya baru setahun belakangan ini mengetahui Iot ini menjadi bagian dari kampung saya, karena saya baru beberapa tahun tinggal di sini. Wajahnya yang mongoloid, berjalannya, ilernya yang kadang tidak bisa ditahan bibirnya, membuatnya khas dan gampang dikenali. Tapi yang selalu saya ingat adalah senyumnya. Mengatakan apapun orang, apakah bertanya atau mengejek atau mempermainkannya atau hanya ingin mengetahui pikirannya, Iot selalu tersenyum.
Suatu hari saya pulang menyusuri tepi hutan melalui jalan pesawahan. Di sebuah gubuk saya melihat Iot sedang memegang tali-tali yang dihubungkan dengan bebegig (orang-orangan sawah), kaleng-kaleng, dan potongan-potongan plastik dan koran. Ketika tali itu ditarik-tariknya maka bebegig dan potongan-potongan keretas itu bergerak, kaleng-kaleng berkelontangan nyaring. Dan burung-burung pun terbang menjauh. Katanya, itulah pekerjaan Iot hampir setiap hari, mengusir burung-burung yang mencuri bulir-bulir padi yang mulai menguning.
Saya ikut beristirahat di gubuknya. Saya minum air putih, tersenyum sambil menawarinya kue wafer. Serombongan burung pipit kemudian datang dan hinggap di rumpun-rumpun padi. Saya heran saat Iot mendiamkan burung-burung itu mematuki bulir-bulir padi. Setelah sekitar dua menit baru tali itu ditariknya dan burung-burung pun pergi. Kejadian serupa terjadi lagi beberapa saat kemudian. Saya pun bertanya dan Iot hanya tersenyum sambil mengangkat kue wafer pemberian saya dan menirukan burung-burung makan. Saya pun tersenyum, senyum terkejut dan berusaha mengerti.
Pulang melalui kebun-kebun ubi, saya teringat Forest Gump yang IQ-nya di bawah normal, dengan suara dan mimik wajah khas ia berujar yakin, “Bodoh itu bertindak bodoh....”. Saya mengulang kalimat itu seperti berzikir. Kalimat itulah yang menghentikan tangan saya saat melempar kucing yang mencuri ikan pindang.   “Bodoh itu bertindak bodoh... bodoh itu bertindak bodoh....” 

BERTAKWA-KAFIR-MUNAFIK-FASIK-ZOLIM

Anak saya yang baru kelas 4 SD begitu bersemangat khatam Al-Qur’an. Ketika berlibur ke pantai Pangandaran, saya baru tahu di penginapan bahwa anak saya membawa Al-Qur’an di tasnya. Dan dia memang membacanya sembarang waktu. Sebagai dukungan dan empati terhadapnya, saya membaca terjemah Al-Qur’an, asbabunnuzul ayat-ayatnya, tafsirnya minimal dari At-Tabari dan Ibnu Kasir, berusaha mencatatnya, dan tentu merenungkannya karena saya hanya membaca satu halaman satu hari.
Ayat-ayat awal surat Al-Baqarah banyak menyebut dan berkisah tentang manusia Bertakwa, Kafir, Munafik, Fasik, Zalim. Bertakwa adalah beriman kepada yang gaib, mengerjakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki. Kafir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah, rasul-rasulNya, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, dan hari Kiamat. Munafik yaitu orang yang di dalam hatinya ada penyakit ragu, tidak yakin akan kebenaran, dan tidak beriman. Fasik adalah orang yang melanggar ketentuan-ketentuan agama, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Zalim adalah orang yang melakukan perbuatan aniaya, yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
Yang mengerikan ketika menutup Al-Qur’an, pertanyaan itu bergaung di pikiran dan hati saya: masuk ke golongan mana dirimu? Masuk ke golongan mana perbuatanmu? Masuk ke golongan mana ucapanmu?....


TEMAN LAMA

Written By Keluarga Semilir on Senin, 06 Februari 2017 | 06.05

Pulang mengantar anak sekolah, di sudut alun-alun, saya bertemu teman lama. Teman yang sudah berpisah hampir tiga puluh  tahun lalu. Dia menyalami saya begitu hangat, mengguncang-guncang tangan saya. Lalu dia bercerita banyak hal: sekolahnya, merantaunya ke Jakarta dan kota-kota di Sumatera, keluarganya, ganti namanya yang menyebabkan saya tidak pernah melihatnya di akun medsos, dan keterkejutannya melihat saya (yang katanya sudah jauuuhh berubah) sedang baca koran di sudut alun-alun.
Hampir satu jam, sambil ditemani kopi dan roti, pembicaraan kami dikuasai olehnya. Setelah dia melambaikan tangan dari dalam bis jurusan Jakarta, saya tidak bisa melanjutkan membaca koran. Dulu, saya mengenal dia sebagai orang yang paling pendiam, punya kesulitan tersendiri untuk menyampaikan pendapat. Dan sampai sedetik sebelum bertemu dengannya, penilaian saya masih “tetap sama”. Begitu sulitnya menilai manusia. Penilaian kita seringkali “jalan di tempat”, sementara yang kita nilai sudah berubah entah kemana....  (4-2-2017)

SUATU HARI DI NEGERIKU

Written By Keluarga Semilir on Selasa, 24 Januari 2017 | 11.57

Cerpen Banjarmasin Pos
Banjarmasin Pos, 22 Januari 2017

Motor metik itu melaju dengan kecepatan sedang. Malam baru saja datang. Sekilas motor yang dikemudikan Amran tidak berbeda dengan motor-motor lainnya. Tapi tunggu dulu, motor Amran tidak setergesa motor-motor yang baru pulang kerja. Mereka ingin cepat sampai ke rumah, bercengkrama dengan anak istrinya dan istirahat.
Motor Amran melaju tenang. Saat ini kan bukan waktunya orang berjalan-jalan. Oh, rupanya Amran sedang galau. Pikirannya tidak tenang. Gelisah. Apa penyebabnya? Di belakang Amran ada tas besar. Talinya diselendangkan ke tubuh Amran. Tidak akan ada yang menyangka kalau di dalam tas besar itu tersimpan uang satu miliar rupiah. Wow!
Tentu saja tidak semuanya dalam bentuk rupiah. Kebanyakan malah dalam lembaran dollar Amerika. Amran sendiri tidak tahu jumlah uang di tas itu. Tadi pagi Amran hanya dikontak kenalannya untuk mengantarkan tas ini.
“Tugasmu hanya mengantarkan tas sampai ke Jalan Odol-odol. Di bawah pohon flamboyan sudah ada orang yang menunggu. Tanya kode sandinya. Kalau jawabannya betul, kasihkan,” kata kenalannya itu. “Upahmu sepuluh juta rupiah.”
Pekerjaan menjadi pengantar gelap itu sebenarnya sudah dilakukan Amran cukup lama. Tapi dia sempat berhenti. Dia takut. Istrinya selalu bilang itu dosa. Menjadi kaki tangan koruptor, apa bedanya dengan koruptor itu sendiri? Kenalannya seringkali membujuk. Amran cukup tabah menolaknya meski upahnya terus meningkat. Dia hanya mau melakukan pengantaran bila sedang kepepet saja.
Tadi pagi adalah awal hari yang kepepet. Amran tidak bisa menolak ketika kenalannya menghubungi. Kontrakan rumah harus segera dibayarkan. Kata anaknya yang baru kelas dua SD, hanya dia sendiri yang belum membayar uang iuran pembuatan toilet sehat.
Amran bertekad, ini adalah yang terakhir dia mau menjadi pengantar gelap. Itu yang membuat Amran gelisah. Dia harus memanfaatkan pengantaran yang terakhir ini.
“Setelah ini, Akang tidak akan menjadi kurir gelap lagi,” kata Amran kepada istrinya. “Akang akan menolak meski dibayar berapapun. Akang tahu, menjadi kaki tangan koruptor tidaklah berbeda dengan koruptor itu sendiri. Akang akan menjadi pegusaha, pengusaha yang sanggup membiayai kebutuhan keluarganya. Malah menjadi tumpuan saudara-saudara dan tetangga-tetangganya yang sekarang sama-sama susahnya.”
Istrinya yang sedang menggoreng ceplok telor tersenyum kecut, senyum yang bagi dirinya sendiri tidak enak.
Amran tidak meneruskan lagi kata-katanya. Dia tahu, istrinya tidak ingin diajak membicarakan pekerjaan serabutannya itu. Ah, Amran ingat, bukan istrinya yang tidak mau membicarakan itu sepertinya. Tapi hal itu sebenarnya sudah menjadi basi bagi mereka. Ya, karena pikiran ‘pengantaran yang terakhir’ itu sudah pernah dikatakannya, sejak dua tahun lalu, saat pengantaran baru dua kali dilakukan.
Maka Amran makan nasi dan ceplok telor dengan segera. Lalu mengambil jaket di gantungan paku, dan berlalu menemui kenalan pemberi pekerjaannya. Di sebuah kafe mereka bertemu.
“Pekerjaan kitu itu gampang,” kata kenalannya sambil minum kopi. “Tapi semakin hari semakin sulit. Lewat transfer rekening sudah tidak bisa. Diantar langsung seperti ini banyak mata-matanya. Makanya hati-hati, bila ada yang mengikuti, segera berbelok dan jangan sampaikan ke tempat tujuan.”
Berkali-kali Amran melihat ke kaca spion. Tidak ada motor atau mobil yang mengikuti. Semuanya melaju kencang. Di pinggir jalan yang agak gelap Amran mengerem motonya mendadak. Dia segera turun, membuka tas, mengambil beberapa gepok uang dari sebelah dalamnya, lalu dimasukkan ke pelastik yang sudah dipersiapkannya, dan memasukkan gepokan pengganti yang sudah dipersiapkannya. Pelastik berisi uang itu dilemparkannya ke semak-semak dekat tiang lampu merkuri yang padam. Setelah itu dia segera memacu motornya.


Itu yang membuat Amran gelisah. Dari dulu dia mengantar uang yang jumlahnya banyak. Tapi tidak pernah mendapat upah lebih dari sepuluh juta rupiah. Dia sendiri memang tidak tahu jumlah uang yang diantarkannya. Tapi setelah pengantaran sukses, kenalannya itu sering mengajaknya minum kopi.
“Tahu tidak, jumlah uang yang kamu antar tadi itu adalah 1,3 miliar rupiah,” kata kenalannya sekali waktu.
Tentu saja Amran bengong. Sebanyak itu? Makanya kali ini Amran ingin memanfaatkan kesempatan. Setelah sampai ke tempat yang dijanjikan, menyerahkan tas ke pengantar berikutnya, Amran segera pulang. Amran berdoa semoga uang di dalam pelastik yang dilemparkan ke semak-semak tidak ada yang menemukan, karena baru besok dia berniat mau mengambilnya.
Begitu sampai di jalan Odol-odol, di tempat yang sudah ditentukan, sudah ada orang yang menunggu. Tidak banyak percakapan yang dilakukan Amran. Dia hanya bertanya kata sandi, ketika dijawab tepat, maka tas besar itu pun diserahkan.
**

Pengantar kedua namanya Doni. Dia pun hanya bertugas mengantar tas ke depan super market Oncom. “Nanti akan ada orang yang habis belanja menghampirimu. Tanyakan saja kata sandinya. Bila jawabannya betul, kasihkan. Makanya kamu menunggu harus tepat di samping ATM.” Begitu instruksi dari pemberi tugasnya. “Upahmu sepuluh juta rupiah, ambil ke sini setelah pekerjaan selesai.”
Doni pun sama gelisahnya dengan Amran. Anaknya sedang dirawat di rumah sakit. Dia tidak punya asuransi atau BPJS. Sebagai pasien umum, pembayarannya pasti mahal. Belum lagi cicilan motor sudah hampir tiga bulan menunggak. Kolektor sudah beberapa kali menghubungi mau mengambil motornya. Wah, kalau tidak ada motor, bagaimana dia mau bekerja sebagai seles makanan ringan?
“Kita ini adalah golongan yang terjepit,” kata Doni kepada istrinya. “Pemerintah hanya memperhatikan pegawai negeri. Gaji PNS terus naik. Katanya agar korupsi bisa minimal. Nyatanya seleksi jadi pegawai negeri sendiri menjadi lahan korupsi yang sangat besar. Sudah menjadi pengetahuan umum, jalan belakang atau sogok menyogok untuk menjadi PNS seharga ratusan juta rupiah.”
“Maksud Akang gimana?” tanya istrinya tidak mengerti.
“Pemerintah juga katanya memperhatikan orang miskin dengan memberi Bantuan Langsung Tunai, kartu sehat, beras miskin. Tapi kita, dibilang miskin katanya tidak karena kita masih muda dan punya pekerjaan. Sementara Akang menjadi pekerja rendah di sektor swasta, meski sudah bekerja keras, tidak cukup hanya untuk hidup sederhana, membayar sekolah anak-anak, apalagi membayar BPJS.”
“Maksud Akang?” Istrinya tetap tidak mengerti.
“Ya, Akang akan mengambil lagi tawaran mengantarkan uang itu.”
Makanya di tempat gelap Doni pun menghentikan motornya, mengambil uang dari tas, memasukkannya ke dalam pelastik, dan melemparkannya ke gorong-gorong gelap. Pulang menyelesaikan pekerjaannya, Doni berdoa malam ini tidak turun hujan. Karena kalau hujan, usahanya sia-sia. Uang itu akan terbawa air.
**

Tujuan akhir kantong besar berisi uang satu miliar rupiah itu adalah rumah seorang pejabat legislatif. Begitu motor berhenti di depan gerbang, pintu gerbang itu langsung membuka. Rupanya satpam sudah diberitahu akan datang tamu istimewa itu. Tas besar berisi uang satu miliar rupiah dari seorang pejabat dinas yang meminta anggarannya disahkan dalam APBD, dibawa oleh pembantunya.
“Ayo siapkan semennya. Uang ini harus kita simpan di dalam tembok,” kata pak pejabat. “Saya mendengar kabar tidak enak, rumah kita katanya mau digeledah besok atau lusa.”

Pembantunya segera mengambil semen dan mengguyurnya dengan air. Pak pejabat itu pun membuka tas. Uang gepokan seratus ribuan yang berwarna merah berjajar rapi. Tapi begitu dikeluarkan satu per satu, pak pejabat terkejut. Di bawah gepokan uang berwarna merah itu... adalah gepokan kertas hvs putih. ***

KAKEK DAN BUNGA DAHLIA

Written By Keluarga Semilir on Senin, 16 Januari 2017 | 09.29

Cerpen Majalah Esquire
Majalah ESQUIRE, Desember 2016

Kakek itu hampir setiap pagi duduk di bangku taman kota. Matanya menatap hamparan rumpun bunga dahlia yang tertata rapi di depannya. Tatapan yang termasuk khusuk saya kira. Karenanya kakek itu tidak perduli dengan yang terjadi di sekitarnya. Orang-orang berjalan di paving blok yang membelah taman, seekor kucing liar kencing di kaki bangku taman, pedagang bubur ayam memukul-mukul mangkok, seekor lebah hinggap di kerah bajunya; luput dari perhatian kakek itu.

Populer

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni