Jejak Kata :
Home » » CARA MENGIRIM CERPEN KE MAJALAH BOBO

CARA MENGIRIM CERPEN KE MAJALAH BOBO

Written By Keluarga Semilir on Selasa, 04 April 2017 | 06.56

Cerpen "Kambing Mang Obing" dimuat Bobo setelah setahun sejak tanggal dikirim.

Bagi yang belajar menulis cerita anak, majalah Bobo adalah media yang utama untuk dikirim naskah. Tapi kemudian banyak yang mundur teratur. Kenapa? Saya merasa sudah siap mental untuk urusan menulis. Tahun 2012 saya memulai belajar menulis cerita anak. Awalnya hanya menemani anak yang sedang belajar menulis. Cerita anak saya dimuat di Kompas Anak, Permata-Ummi, Solo Pos, Lampung Pos, Analisa, koran anak Berani, dsb. Naskah yang diterbitkan juga ada beberapa buku. Tapi untuk majalah Bobo, ada catatan tersendiri hehe....
Saya dapat bocoran dari penulis top Bobo seperti Ali Muakhir, Benny Ramdhani, masa tunggu di Bobo sekitar 5-6 bulan. “Kirim saja 4-5 naskah, nanti juga bisa dimuat satu-satu,” kata Mas Ali.
Maka saya pun mengirim dengan kesiapan mental 5-6 bulan itu. Tidak hanya empat naskah, tapi belasan, kemudian puluhan. Sudah setahun sejak tanggal pengiriman (nah, tanggal pengiriman harus selalu dicatat, ya....) belum juga ada yang dimuat. Setelah lebih dari setahun baru ada yang dimuat, satu judul. Tentu saya punya harapan baru, yang lainnya pasti nyusul nih. Eh, ternyata tidak ada lagi. Setahun kemudian baru ada yang dimuat lagi. Wah, ini ajaib secara mental. Nunggu tulisan dimuat sampai bertahun-tahun....
Kesimpulan sementara saya: cerpen anak / dongeng yang saya tulis terlalu jadul tema-temanya, terlalu panjang naskahnya, dan entah apa lagi. Untungnya, majalah Bobo termasuk yang enak dalam berkomunikasi. Dikirim lewat pos dan tidak bisa dimuat, dikembalikan. Ditanya lewat email, dijawab. Jadi ini catatan saya, bila ingin mengirim naskah ke Bobo :
1.      Kirim boleh lewa pos (alamatnya cari di majalah ya, saya sudah posisi enak di kursinya hehe...) boleh lewat email : naskahbobo@gramedia-majalah.com . 
2.      Font Arial, dengan  ukuran 12, spasi 1.5, sekitar 600-700 kata, untuk cerita dua halaman, kalau untuk satu halaman, 250-300 kata. (Jangan ikuti jejak saya, mengirim cerpen dengan panjang rata-rata 900 kata....)
3.      Kirim, catat tanggal pengiriman, dan kembali berpikir menulis cerita baru. Jangan kirim satu lalu menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Nanti kamu lumutan hehe....
4.      Kirimlah secara berkala, misalnya sebulan satu judul. Kalau bisa seminggu satu. Yang istikomah ya. Jangan minggu ini kirim dua judul, setahun berikutnya tidak kirim-kirim.
5.      Belajar yang keras, baca cerpen / dongeng yang pernah dimuat Bobo (dan media lainnya)
6.      Isi saja sendiri-sendiri, jangan nyontek hehe....
Oh, iya, ini cerpen saya yang pernah dimuat Bobo. KOLECER BARALAKKAMBING MANG OBING dan PANEN UBI MADU.



Share :

4 komentar:

Dinda Ayu Sekarnurani mengatakan...

Permisi mau tanya, saat cerita dimuat di majalah bobo, apakah dapat email konfirmasi?

Keluarga Semilir mengatakan...

Tidak. Sekarang ini bila dimuat langsung dimuat saja. Media cetak sekarang juga sudah banyak berubah. Bobo dulu memuat 5-7 cerpen tiap terbit. Sekarang hanya dua. Media cetak mungkin benar sedang krisis. Beberapa koran/majalah malah tidak bayar honor penulis.

Ahn Hyanggi mengatakan...

Saya mau tanya, kalo kirim ke bobo, data diri ap aja yg perlu disertakan dan kira2 honornya berapa? Apa masih sama dengan yg dulu? Dan apa ada konfirmasi nanti kalo honornya diberikan? Makasiih

Keluarga Semilir mengatakan...

Di biodata ada alamat rumah, no tlp, no.rekening. Setahun lalu honornya Rp 250.000. Tidak ada konfirmasi. Media cetak sekarang terasa "turun terus". Cerpen anak/dongeng di Bobo juga seringnya tidak terlalu banyak sekarang. Dari belasan cerpen yang dikirim hanya 1 yang dimuat, itu juga waktunya sampai 2 tahun sejak dikirim. Saya sendiri sudah lama tidak kirim cerpen ke Bobo, mengalihkannya ke penerbitan buku anak....

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni