Jejak Kata :

GUBUK DI PINGGIR KOLAM

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Kamis, 13 Desember 2012 | 12.05


Cerpen ini pernah dimuat HU Media Indonesia 24 Desember 2000.


dimuatkan majalah Horison edisi April 2001

Di bawah jendela tumbuh bunga sedap malam dan mawar. Setiap kali saya membuka jendela malam-malam untuk melihat bulan, harum sedap malam menyelusup ke dalam dada. Selalu begitu lama kami saling memandang, saling tersenyum. Kami memang saling merindukan setelah bertahun-tahun tidak saling perhatikan. Bulan memang ada setiap malam di langit, sedap malam dan mawar memang tumbuh di taman-taman, saya memang mengunjungi banyak tempat setiap hari; tapi kami selalau tak acuh, seolah tidak saling mengenal.
Sejak beberapa hari yang lalu, pertemuan yang mengharukan itu terjadi. Saya membuka jendela dan sedap malam yang tumbuh di bawah jendela memanggil-manggil dengan harumnya. Saya memandangnya, saling tersenyum. Diperhatikan seperti itu, mawar yang tumbuh di sebelah sedap malam, bergoyang-goyang memperlihatkan keindahan tubuhnya. Kata sedap malam, mawar memang centil dan sudah lama menanti pertemuan itu. Mawar tersipu malu. Saya tersenyum, geli, tapi juga terharu masih ada yang merindukan. Saat itulah bulan yang bulat penuh menyapa kami.
Setiap malam kami bertemu, bercakap-cakap tentang apa saja. Kami saling bergantian bercerita. Hanya bulan yang selalu enggan membuka mulut. Rupanya dia pemalu, pikir saya. Tapi setelah mawar yang centil menggodanya, bulan mau juga bercerita. Dia tidak pernah mengerti, katanya, mengapa setiap yang memandang selalu menganggapnya cantik dan abadi.
“Karena memang kamu cantik,” kata saya.
Bulan tersipu malu. Dan katanya, “Barangkali karena kita memang berada di alam yang berbeda, dipisahkan jarak yang jauh. Dan cantik, dan indah, adalah sesuatu yang jauh, sesuatu yang hanya ada di negeri impian, di negeri yang tidak bisa terjangkau. Coba seandainya saya bisa dipetik seperti mawar, saya pasti sudah dibudidayakan dan hanya indah semusim saja.”
“Tapi kan tetap indah.”
“Ya, indah, tapi cepat layu karena memang terjangkau.”
Mawar yang mendengarkan percakapan kami dan menyadari kesementaraannya, menunduk sedih. Sedap malam mengusap-usap kelopaknya, membesarkan hatinya. Saya dan bulan yang menyadari bahwa percakapan tadi telah membuat sedih mawar, ikut bersedih. Tapi kenapa mesti bersedih, karena kesementaraan adalah bagian dari hidup. Semuanya adalah fana, kecuali yang Abadi itu. Kenapa mesti bersedih kalau selama hidup telah memberikan keindahan yang dimiliki masing-masing.
Mawar tersenyum kembali. Kami menggodanya. Lalu percakapan pun beralih pada hal-hal yang menyenangkan, pengalaman yang lucu-lucu. Saat seperti itulah, kadang angin yang baru pulang dari pengembaraannya, ikut bercakap-cakap. Dia mengabarkan bahwa di wilayah-wilayah lain pertempuran terus berlangsung, penindasan dengan beragam warna dan corak menjadi peradaban umum. Kami selalu diam setelah mendengar berita seperti itu. Kami punya pikiran masing-masing dan cara bersedih yang berbeda.
Angin pamitan dan mengatakan kapan-kapan akan singgah. Kalau ingin tahu lebih banyak, kata angin, dia punya foto-foto dari wilayah-wilayah yang telah dikunjunginya. Setelah angin pergi, tidak ada lagi percakapan di antara kami. Bulan melambaikan tangan setelah memberitahukan dengan nada sedih bahwa sebentar lagi tanggal tua dan dia tidak bisa menemui secara sempurna. Saya pun menutup jendela setelah mengucapkan selamat malam kepada mawar dan sedap malam.
**
Pagi hari saya membuka jendela, menyapa matahari yang baru datang, dan duduk di pematang kolam. Ikan-ikan menyapa saya sambil menari-nari. Mereka selalu bergembira dalam keadaan bagaimanapun.
“Kami memang menguasai banyak tarian,” kata mereka sekali waktu. “Setiap saat kami menari. Kesedihan pun ada tariannya. Jadi tampaknya memang gembira terus, padahal tidak seperti itu.”
”Kamu pernah bersedih juga?”
“Namanya hidup, ya berpasangan.”
Tarian ikan-ikan itu semakin menjadi saat burung kutilang bernyanyi. Suaranya nyaring, kadang begitu bersedih, kadang begitu bersemangat. Saya memejamkan mata, menikmati nyanyian yang aneh dan asing itu. Saya seperti dibawa ke tempat yang begitu jauh, tempat yang memutuskan hubungan saya dengan apa saja. Di sana hanya ada saya sendirian, menari seperti ikan-ikan dengan gerakan-gerakan yang saya kehendaki sendiri, berteriak dengan tinggi-rendah suara semau saya. Inilah barangkali dunia keindahan itu, dunia kesedihan itu, dunia amarah itu, dunia kesunyian itu.
Saya menghentikan semua lamunan setelah burung kutilang menghentikan nyanyiannya. Burung itu terbang berkeliling, menyapa ranting, matahari, ikan-ikan, dan hinggap di samping saya.
“Ikut berjemur,” katanya.
Saya tersenyum tanda menyambutnya. “Suara kamu indah sekali,” kata saya. “Begitu ekspresif. Kamu rupanya bisa melepaskan seluruh beban hidup.”
“Beban bagaimana? Justru suara saya, hati saya, merupakan campur aduk dari beban hidup, akumulai dari pengalaman di bumi yang selalu bergolak ini.”
“Maksud saya, lepas dari berbagai tekanan.”
“Oh, saya kan  bukan burung di dalam sangkar.”
Saya memandang ke jauhnya. Lepas dari segala tekanan, apa bukan sesuatu yang berlebihan? Telah begitu lama rupanya hidup saya tidak mengalami hidup seperti itu. Hidup saya banyak terisi dengan kepentingan-kepentingan aneh yang kemudian dianggap biasa. Kenapa semuanya menjadi begitu terbalik tanpa disadari. Nyanyian burung kutilang yang semestinya hal biasa dalam hidup, menjadi begitu aneh dan asing.
“Begitu aneh dan asing nyanyian kamu,” kata saya.
“Lho, kok aneh? Setiap pagi kan saya bernyanyi?”
“Barangkali karena saya kurang memperhatikan. Barangkali karena seluruh indera saya telah rusak. Berbagai keperluan telah membuat telinga saya tidak mendengar semua suara, cukup yang merdu-merdu saja. Mata saya tidak bisa melihat semuanya, cukup yang indah-indah saja. Hidung saya tidak bisa menghirup semuanya, cukup yang harum-harum saja.”
“Apa bisa hidup ala robot seperti itu?”
Saya berkerut-kening. Apa selama ini pun saya bukan robot?
**
Tempat indah yang jauh ke mana-mana ini sebenarnya saya temukan tidak sengaja. Saya sedang mengadakan penelitian tentang binatang-binatang langka saat tersesat ke sini. Setelah beberapa jam mengikuti arah sungai, saya menemukan gubuk ini. Kecil tapi indah dan bersih. Halamannya luas dan banyak ditumbuhi bunga-bunga. Di depan gubuk ada kolam, juga tidak begitu besar. Ikan-ikannya selalu berenang setiap pagi.
Penghuni gubuk ini, seorang kakek, menyambut saya. Dia menyuguhkan air teh hangat dan harum. Makanannya bakar singkong dan gula aren. Lahap saya menyantap makanan yang telah lama tidak saya temukan itu. Setelah melepaskan lelah, saya mandi di pancuran dan merasa begitu segar.
“Tinggallah di sini sehari dua hari kalau masih lelah,” kata kakek itu. Saya pun tinggal. Malam-malam membuka jendela, menyapa mawar dan sedap malam, menyapa bulan, bercakap-cakap dengan mereka. Paginya melihat ikan-ikan menari sambil merasakan belaian matahari, menunggu burung kutilang bernyanyi. Agak siangnya mengambil segala keperluan sarapan di kebun, tidak begitu jauh dari kolam. Segala sayuran dan buah-buahan ada.
Setelah bertahun-tahun saya tinggal di pusat keramaian, di wilayah penipuan, penindasan, penodongan, di wilayah peperangan abdi: tempat ini seperti surga bagi saya. Saya jatuh cinta kepadanya.
“Bagaimana kalau saya tinggal agak lama di sini, Kek? Saya betah di sini,” kata saya.
Kakek tertawa. “Mau tinggal sampai kapan pun boleh. Kakek ini sudah tua, sebentar lagi mungkin tidak di sini lagi. Kakek tidak punya saudara atau siapapun.”
“Jadi, kalau tempat ini dibeli, Kakek mau melepaskannya?” Pikiran saya untuk membeli tempat ini tiba-tiba saja datang. Terbayang kalau tempat ini menjadi peristirahatan. Begitu indah, tanpa gangguan dari apapun dan siapapun; dari koran, dari televisi, dari orang-orang yang selalu kesusahan, dari para bandit, dari siapa saja.
“Tidak usah dibeli. Kalau mau tinggal, tinggal saja. Kakek kan sudah tua. Sebentar lagi mungkin....”
Kakek itu memang meninggal beberapa hari setelah saya tinggal. Saya menguburkannya di pinggir kolam. Tidak banyak yang saya ketahui tentangnya. Menurut ceritanya, bertahun-tahun dia tinggal di sini. Dulunya dia adalah seorang pengarang yang cukup terkenal. Karangannya tersebar di media massa, buku, dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.
“Tapi Kakek lelah. Bertahun-tahun Kakek menulis karena didesak keadaan. Bertahun-tahun dada ini hampir meledak. Akhirnya Kakek menemukan tempat ini, menyepi, melepaskan segala beban.”
**
Saya pun pernah berpikir untuk tinggal di sini selamanya. Merasakan yang indah-indah, bercakap dengan teman-teman yang saling mencintai, tanpa punya pikiran jelek, tanpa saling menyakiti. Tapi saat angin singgah, mengabarkan peristiwa-peristiwa dari tempat yang jauh, memperlihatkan foto-foto yang katanya tanpa disensor itu, seluruh tubuh ini serasa ditusuk-tusuk. Dada ini bergolak seperti mau pecah.
Malamnya saya tidak bisa tidur. Saya selalu bermimpi buruk. Dalam mimpi itu orang-orang berdatangan dari segala penjuru. Gubuk ini menjadi begitu ramai, begitu ribut, begitu polutif, begitu tanpa keramahan. Mereka adalah orang-orang yang kalah perang.
Mereka berteriak-teriak, memaki-maki saya sebagai orang yang tidak bertanggungjawab. Waktu itu saya tidak melihat teman-teman yang saling mencintai, mawar dan sedap malam, ikan-ikan, burung kutilang. Mungkin mereka telah dibunuh.
Diam-diam saya meloloskan diri, berjalan tanpa tujuan. Bahkan di tempat sesunyi ini pun ketentraman tidak abadi.Baru malam ini saya melihat bulan begitu pucat. ***

Bandung, 21 April 1998 / Rancakalong, 2000


PERJALANAN MENUJU CAHAYA

Cerpen ini pernah dimuat majalan Matra edisi Januari 2001, sayang dokumentasinya hilang....


 Orang itu lewat begitu saja di depan kami. Mulanya kami tak mengacuhkannya. Tapi setelah kelelahan karena terus-terusan bertikai tidak lagi tertuntaskan dengan mengekspresikan seluruh dendam dengan cara apapun, kami melihat orang itu seperti magnet yang mempunyai daya tarik tersendiri.
Kami tidak tahu daya tarik itu dari mana datangnya dan berupa apa. Melihatnya, pelan-pelan kami terdiam, merasakan tarikan nafas dan detak jantung dengan kenikmatan tersendiri seolah-olah itu semua adalah kenikmatan yang tidak pernah kami dapatkan. Mata kami tidak berkedip melihat orang yang berjalan pelan seolah melayang itu dengan perasaan ingin tahu yang besar apa sebenarnya yang menjadikan daya terik orang itu sehingga kami terhipnotis seperti anak kecil yang takjub dengan penemuan barunya.
Entah berapa kali orang itu pernah lewat di depan kami. Kami tidak ingat dan tidak tahu serta tidak berani menerka. Kami hanya tahu kali itulah orang itu lewat dan pesonanya mencuri perhatian kami hingga tidak ada lagi persoalan dalam hidup ini selain dia yang berjalan dengan tenang seperti melayang dan anggun.
Kami tidak tahu apakah pesona orang itu ada dalam cara berjalannya yang tenang atau pada kain putihnya yang menyapu tanah hingga jalan yang dilaluinya begitu bersih dan kainnya yang sepertinya paling lembut dari setiap kelembutan yang pernah kami tahu dan rasakann atau dari cahaya yang diam-diam kami lihat keluar dari tubuhnya dan menerangi jalan yang pernah dilaluinya serta jalan lurus yang akan dilaluinya.
Kami tidak bisa menerjemahkan ketertarikan kami itu kecuali keinginan yang sanggup memusatkan konsentrasi untuk membuat mata terus memperhatikannya dan nafas ditarik pelan sepenuh perasaan seolah membaui harum orang itu. Saat itulah kami yakin bahwa dalam hidup memang banyak hal yang tidak bisa dimengerti oleh logika, karena itulah kami tidak memfungsikan pikiran seperti biasanya saat kami menjalani hari-hari penuh persaingan dan permasalahan yang kompleks.
Saat itu kami seperti mumi yang tanpa gairah, berdiri begitu saja dan berjalan pelan-pelan mengikuti orang itu dengan mata tidak berkedip dan konsentrasi tidak terpecah. Padahal di dalam hati kami ada gairah yang entah untuk apa begitu bergejolak menerjang-nerjang seluruh elemen tubuh kami seperti ombak tidak berhenti membanting-banting perahu dengan hasrat yang kami sendiri tidak tahu dari mana datangnya dan apa namanya.
Kami yang entah berapa jumlahnya ini tiba-tiba saja sudah memenuhi jalan dan memanjang seperti marathon terpanjang yang pernah terjadi di belahan manapun. Kami mengikuti orang itu dengan gairah yang terus meninggi meski detik-detik terus mengalir seperti jarum menusuk-nusuk tubuh kami. Kami memang luka-luka, tapi rasa sakit ini kami rasakan sebagai kenikmatan tiada terperi sehingga seluruh elemen tubuh kami begitu berbahagia.
Kami tidak tahu sudah berapa lama berjalan karena waktu tidak lagi ada dalam catatan hidup kami. Kami hanya tahu bahwa berjalan yang semakin memanjangkan barisan ini adalah hidup kami yang sebenarnya yang kami impikan entah sejak kapan. Kami tidak ingin kehilangan hidup kami, karena kami tidak ingat apa-apa lagi dan memang tidak ingin ingat apa-apa selain berjalan terus-menerus sampai seluruh elemen tubuh ini tidak bisa lagi berjalan.
**
Cahaya yang dipancarkan orang itu semakin memukau kami. Cahaya yang entah keperakan atau keemasan atau apa warnanya itu menyebar ke seluruh penjuru, diterbangkan angin, hinggap di batu-batu dan pohon-pohon dan tembok-tembok dan seluruh benda yang ada di sekeliling kami dan menjadikan benda-benda itu memancarkan cahaya pantulan. Cahaya yang menyebar dibawa angin itu begitu harum dan  membuat kami bernafas pelan sekali seolah seluruh harum yang baru kami rasakan itu ingin masuk seluruhnya ke dalam rongga dada ini dan menyebar ke seluruh tubuh menjadi penggerak tangan dan kaki dan mulut dan seluruh elemen tubuh kami sampai pori-pori halusnya.
Memperhatikan barisan yang mahapanjang ini timbul rasa sayang di hati kami, rasa untuk saling memperhatikan dan menjaga dan memahami bahwa kenikmatan berjalan mengikuti orang berkain putih hanya ada dalam kedamaian. Maka kami pun saling tersenyum dan menerbangkan indahnya dibawa angin berputar-putar di antara kami. Saat kami menyadari bahwa pohon-pohon dan air yang mengalir di sepanjang sungai yang kami lalui dan tanah yang kami pijak mengabarkan keindahan yang sudah lama tidak kami rasakan, kami yakin bahwa bumi ini memang betul diciptakan karena cinta dan untuk cinta.*1
Di antara kami, jutaan pejalan yang terpesona dengan orang yang berkain putih itu, tidak ada yang bicara sepatah pun. Bukan karena kami bisu, tapi diam telah kami rasakan seperti jutaan kata-kata indah yang sanggup menggetarkan hati dan seluruh elemen tubuh ini. Kami menemukan bahwa diam adalah bahasa yang lebih kaya dengan makna, komunikatif, saling dipahami, bernuansa kasih sayang.
Kami pun seperti mendengar nyanyian tanpa suara yang dinyanyikan hati kami, seperti nyanyian yang dinyanyikan burung-burung yang kami temui sepanjang perjalanan. Siapapun yang kami temui menyapa kami dengan nyanyian yang kami rasakan begitu indah. Pepohonan melambai-lambai memanggil-manggil kami untuk mengikuti dunianya yang pelan tapi pasti. Kami pun merasakan pucuk yang berubah menjadi daun tua dan gugur ke tanah menjadi pupuk. Kami tidak terpesona dengan akhir perjalanan atau tujuan keindahan karena perjalananlah akhir dan tujuan sebuah perjalanan.
**
Di mana akhir sebuah perjalanan? Pertanyaan itu pelan-pelan hadir di hati kami saat di sebuah padang kami memperhatikan bulan yang begitu bulat dan besar, melayang-layang seperti memayungi kemanapun kami melangkah. Cahayanya menyebar memasuki apa saja yang kami lihat dan rasakan sehingga udara yang kami hirup bunga yang kami tatap dan jalan yang kami pijak suara yang kami dengar angin yang menyisir kulit tak lepas dari kelembutan cahayanya.
Kami  merasa orang yang berjalan seperti melayang yang dari tubuh dan pakaiannya memancar cahaya yang menjadi pemimpin kami dalam perjalanan tak bertujuan ini pun terpesona dengan kelembutan dan keanggunan bulan yang semakin membesar. Pelan-pelan kami mengerti, bukanlah bulan yang memayungi perjalanan kami tapi kami yang mengikuti perjalanan bulan. Kami naik gunung turun lembah memasuki kota-kota menyusuri desa-desa agar tidak tertinggal oleh bulan yang mencari-cari pagi. Karena kami ikuti ke manapun bulan melayang maka tidak ada siang dalam hidup kami. Setiap bulan menghampiri pagi kami sudah sampai di bawahnya sehingga pagi itupun menjadi malam kembali dan kami mulai lagi perjalanan sepanjang malam.
Berabad-abad kami berjalan dengan pertanyaan sama: di mana akhir sebuah perjalanan? Saat kami bertemu burung-burung yang kemalaman kami melihat mereka terburu-buru menuju sarangnya. Bahkan burung pun punya rumah, punya tempat beristirahat, punya akhir setelah perjalanan seharian tadi. Pertanyaan itu semakin lama semakin memenuhi pikiran kami sehingga kemudian kami merasa bahwa tangan pun kaki pun mata pun dan seluruh elemen tubuh kami ikut bertanya-tanya.
Awalnya kami saling memandang, saling bertanya lewat tatapan mata. Lama-lama kami berkomunikasi dengan seluruh gerak perjalanan kami sehingga perjalanan ini terganggu. Sambil menikmati bulan yang semakin cemerlang di langit tanpa bintang, kami berkesimpulan bahwa bulanlah tujuan perjalanan kami. Untuk meyakinkannya kami ramai-ramai bertanya lewat bahasa kami yang tanpa kata-kata dan suara ini kepada orang yang berjalan seperti melayang yang kain putihnya berkibar-kibar memancarkan cahaya ke sekelilingnya yang menarik kami mengikuti perjalan ini.
Orang yang berjalan seperti melayang itu seperti yang mengerti apa yang kami pertanyakan dan apa yang kami maui. Tapi dia tetap tidak perduli. Dia terus berjalan, seperti angin, entah ke mana. Saat keinginan kami untuk menuju bulan semakin berdebur-debur seperti ombak, orang yang berjalan seperti melayang itu memenuhi keinginan kami. Dia melayang meniti cahaya yang entah dipancarkan bulan atau tubuh atau kainnya yang berkibar-kibar. Kami pun ikut terbang, seperti jutaan kupu-kupu, dengan gairah yang lain, gairah yang baru kami rasakan kembali. Mata kami tidak lepas dari bulan yang tersenyum dan melambai dan memanggil-manggil kami dengan cahaya yang begitu indah. Barangkali bulan memang tempat berkumpulnya segala keindahan.
Semakin lama kami semakin jauh dari bumi. Kami hampir memasuki angkasa yang keluasannya tidak terkirakan karena baru kali itulah kami melihat dan merasakannya. Jutaan bintang dan benda-benda lainnya melayang-layang, seperti juga kami, entah menuju ke mana. Saat itulah kami merasa telah tersesat. Kami telah terperdaya oleh tujuan yang mempesona seperti bulan. Semestinya kami tidak terpesona dengan akhir perjalanan dan tujuan keindahan karena perjalananlah akhir sebuah perjalanan. Kami menangis dengan kedalaman yang tidak terkira sehingga seluruh elemen tubuh kami ikut menangis dan kami rasakan seluruh benda di angkasa ikut menangis dan teman-teman kami di bumi meratapi.
Awalnya airmata kami menyusuri pipi dan seluruh lekuk tubuh kami, lalu berjatuhan menjadi rintik yang semakin menderas. Dari airmata itulah diam-diam kami menyusun bumi, membuat jalan-jalan dan gedung-gedung dan benda-benda keperluan sehari-hari dan tempat-tempat peristirahatan.
Di angkasa bulan semakin membesar. Tapi kami tidak lagi perduli karena perhatian kami, pikiran kami, mata kami, telinga kami, dan seluruh indera kami tercurah ke bumi, tempat kenangan menandai ketersesatan dan kesedihan kami. ***
      
                                                           Bandung-Rancakalong, 15-2/21-12, 1999

Catatan:
1        =  Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah menulis: Dengan cinta dan untuk cintalah langit serta bumi diciptakan. Kalimat itu berkali-kali melintas di pikiran saya saat membaca berbagai kerusuhan atau missunderstanding dan misscomunication di antara para petinggi negara.



POHON TUMBUH TiDAK TERGESA-GESA


Cerpen ini pernah dimuat HU Suara Pembaruan 16 Pebruari 1997, kemudian menjadi judul kumpulan cerpen yang diterbitkan Asy-Syaamil, 2003


       “Lihatlah matanya,” kata seseorang ketika saya turun dari gunung untuk belanja ke kota. Maka saya memperhatikan mata lelaki yang mencangkung di trotoar sambil menatap bulan itu. Saya mendapatkan berbagai metamorfosa terjadi di sana: Seorang anak menyilet lidah kucing, membiarkannya tercekik dan sekarat, lalu menghantam dan menggerus kepalanya.2* Seorang perempuan kecil dididik bapaknya, pamannya, suaminya, para lelaki lain, untuk menjadi pelacur. (“Oleh karena dunia penuh dusta, ia harus membayar harganya dengan kematian,” kata Nawal. “Tapi dari keadaan seperti ini perlawanan dimulai,” kata saya).3*
Saya pernah melihat dan merasakan kekhawatiran seperti itu. Metamorfosa seperti itu pernah hadir di pikiran dan hati saya. Tapi saya lupa kapan dan di mana itu terjadi
“Kamu pasti melihatnya di mata orang-orang,” kata seseorang.
“Ya, barangkali,” jawab saya.
“Kamu pasti melihatnya di cermin.”
“Ya, barangkali.”
Di mata orang itu saya melihat kejadian lain: para pelajar berangkat sekolah dengan membawa clurit dan belati, mereka berkelahi dan saling membunuh, para perampok menggasak harta benda dan memperkosa, suara bisik-bisik dari balik meja (saya tahu itu korupsi), demonstrasi di jalan-jalan, semua orang berteriak, antrian panjang tidak terlihat ujungnya.  (“Saya ingin jadi polisi atau tentara atau pejabat agar bisa berkuasa,” kata mereka.)
Saya cepat pergi. Saya ingin ketenangan. Tapi seseorang mencegat saya.
“Mau ke mana?” tanyanya.
“Saya mau pulang. Saya ingin ketenangan.”
“Pulang ke mana?”
“Ke gunung.”
“Saya baru pulang dari sana. Gerah sekali hidup di sana.”
Saya tidak percaya.
**
Sekali waktu saya melihat ‘instalasi tumbuh’ Tisna Sanjaya.4* Di sana berulang-ulang saya mendengar seseorang, berkumis, berbicara: “Tanamlah pohon apapun sebagai rasa syukur atas kelahiran anak-anak kita (atau rasa syukur atas apapun – yus), supaya negeri ini ditumbuhi sikap menghargai proses hidup, belajar dari pohon yang setiap pagi kita sirami, supaya setiap pagi kita belajar dari falsafah pohon, tidak tumbuh tergesa-gesa.”
Saya pulang ke kampung tempat saya dilahirkan. Saya melihat kebun yang sewaktu saya kecil, setiap pagi dan sore, kakek selalu mengajak saya mendatanginya, menyiram pohon kecil atau sekedar mengontrol. Saya duduk di bawah pohon durian. Pohon yang dulu setiap sore saya siram ini akarnya kokoh, batangnya keras, daunnya rindang, kalau lagi musim berbuah kakek selalu mengirim saya buahnya yang manis.
Dulu saya pernah ingin hidup seperti elang (saya terpesona begitu bebasnya elang melayang) yang hampir setiap sore mendatangi kebun kakek. Tapi sekarang saya ingin seperti pohon yang tidak tumbuh tergesa-gesa tapi jadi kokoh dan kuat. Dulu saya sering memperhatikan bagaimana pohon tumbuh: bagaimana pucuk membesar, akar memanjang, batang menguat. Tapi saya tidak pernah tahu kapan itu terjadi. Pohon tidak pernah sombong memperlihatkan kekuatannya.
Di kampung inilah saya ingin menghabiskan hidup, saat ini. Saya ingin ketenangan. Saya menata kembali pohon-pohon yang tumbuh di kebun kakek. Saya menanam pohon mahoni, melinjo, rambutan, mangga, dan menyiraminya setiap pagi dan sore. Hampir setiap sore, sehabis menyiram dan membersihkan pohon, saya duduk-duduk di bawah durian. Saya melihat (menikmati) pemandangan pedesaan: kehijauan pegunungan, kebun-kebun, hamparan sawah, sungai yang berkelok. Saya menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.
Suatu hari, ketika panen tiba, saya melihat orang-orang memetik padi dengan tergesa-gesa: para perempuaan tidak lagi memakai ani-ani tapi menggunakan sabit membabat padi, mengirik tidak lagi dengan kaki tapi memakai mesin, menumbuk padi yang biasanya dipakai kesempatan oleh mojang dan jajaka saling mengikat janji diganti mesin giling yang cukup menyuruh ojek untuk mengantarkannya, para lelaki mengangkut padi berlari-lari.
Saya ingat bagaimana proses itu terjadi. Suatu kali, ketika saya dan anak-anak lainnya sedang berenang di sungai, seorang teman berlari dan berkata: “Wa Uke membeli televisi. Mang Warja memasang antenanya dengan sebatang bambu. Mari kita nonton.” Sejak itu hampir setiap sore anak-anak melihat film kartun. Bila ada tayangan bagus (seperti wayang golek) para tetangga ikut nonton sambil tidak lupa membuat makanan khusus. Sejak itu hidup tidak lagi makan dan minum. Tapi hidup juga berarti tape recorder, kompor gas, kosmetik, baju mode terbaru, shampo, tamasya ke kota dan pulang membawa donat atau apel New Zealand atau Kentucky Fried Chicken, televisi berwarna, parabola, motor, mobil, dan teman-teman mereka lainnya.
Malamnya, ketika diputar layar tancap, saya melihat para mojang tersipu malu melihat adegan seks di film nasional, para jajaka mengantar mereka sambil menggoda berani, sebagian remaja membeli minuman keras dan mabuk di pinggir-pinggir jalan. Di mata mereka saya melihat ... Ah, sudahlah, saya tidak mau lagi memperhatikan hal seperti itu. Saya hanya ingin menikmati kesegaran udara kebun dan pemandangan pedesaan. Saya tidak perduli dengan berbagai metamorfosa yang terjadi di mata orang-orang.
**
“Karena kita menghargai proses,” kata saya ketika ada seseorang yang datang dan bertanya kenapa saya setiap pagi dan sore menyiram pohon.
“Ya, kita memang harus menghargai proses, tapi proses terjadi di mana-mana,” kata orang itu, lalu pergi begitu saja tanpa pamitan. Keramhan desa pun sudah mengalami proses, pikir saya.
Pucuk mahoni dan melinjo yang saya tanam dan sirami setiap pagi dan sore sedikit membesar, akarnya sedikit memanjang, batangnya sedikit mengeras. Entah sudah berapa lama saya memperhatikan semua itu. Entah seminggu, sebulan, setahun, berabad-abad, atau baru beberapa detik saja terjadi di kepala saya. Saya tidak hapal lagi. Hal yang sama ketika saya memperhatikan awan berarak di atas gunung. Awan itu sedikit menghitam dan semakian menghitam, sedikit menggumpal dan semakin menggumpal, sedikit mendekat dan semakin mendekat. Lalu pohon-pohon yang saya tanam dan sirami setiap pagi dan sore itu ditelannya. Daun-daun pohon saya sedikit melayu dan semakin melayu, sedikit mengering dan semakin mengering, sedikit berguguran dan  semakin berguguran. Lalu udara sedikit sesak dan semakin meyesakkan, sedikit berbau dan semakin berbau.
Saya terkejut. Saya lari kesana kemari dan berteriak: “Pohon saya, pohon saya semuanya kering! Udara saya, udara saya semakin bertuba!” Orang-orang tidak  memperhatikan. Saya tidak tahu, apakah kejadian ini baru terjadi, sudah seminggu, sebulan, setahun, berabad-abad, atau sebenarnya bayangan yang akan terjadi.
“Kenapa mesti terkejut, karena semuanya juga mengalami proses,” kata kakek ketika saya mengadu. “Kita sendiri yang harus mengarahkan proses itu.”
Saya pun semedi di bawah pohon-pohon yang mengering, di bawah mega-mega yang menyengat. Saya ingat, saya pernah ingin menjadi elang. Saya terpesona dengan kebebasannya melayang. Tiba-tiba – atau mungkin sudah lama terjadi, saya tidak tahu – seekor elang entah dari masa lalu atau masa mana, datang dan mengajak saya melayang. Saya pun terbang. Saya menyusuri mega-mega hitam yang menjadikan pohon-pohon saya mengering. Saya memakai masker yang saya ambil entah dari mana. Saya turun di sebuah kota.
“Lihatlah matanya,” kata seseorang. Saya pun memperhatikan mata lelaki yang duduk mencangkung di trotoar sambil menatap bulan itu. Saya mendapatkan berbagai metamorfosa di sana. Dari metamorfosa itu keluar asap yang semakin menggumpal dan menghitam. Inilah sumber mega-mega hitam yang merusak pohon-pohon itu, pikir saya.
“Ya, inilah sumbernya. Kita harus mengatasi proses ini,” kata seseorang yang sudah berada di belakang saya.
“Pohon-pohon anda pun mengering dan berguguran?”
“Ya.”
“Yang saya juga,” kata yang lain. Di belakang saya sudah berdiri orang-orang.
“Bagaimana kalau kita congkel saja matanya dengan belati,” usul seseorang.
“Jangan, itu tidak sesuai Hak Azasi Manusia. Kita harus melawan proses itu dengan proses kita.”
Kami pun menanami kota dengan bibit-bibit pohon. Menyiramnya setiap pagi dan sore. Jantung kota harus diperbesar biar udaranya segar dan mega-mega hitam itu terserap. Bangunan-bangunan tanpa IMB (ijin membuat bangunan) kami runtuhkan dan kami tanami pohon-pohon. Pabrik-pabrik yang belum bisa mengolah limbah kami hancurkan dan kami semai bibit-bibit pohon. Entah sudah berapa lama kami lakukan pekerjaan itu. Mungkin berbulan-bulan, bertahun-tahun, berabad-abad atau baru saja terjadi.
Tapi mega-mega hitam pembawa kehancuran pohon-pohon kami tidak pernah habis. Tiba-tiba – atau mungkin telah terjadi sepanjang kami ingat atau malah sepanjang kami hidup – kami melihat orang-orang bermata bermetamorfosa mengerikan itu semakin banyak. Kami tidak lagi tahu siapa saja yang bermata bermetamorfosa itu. Mungkin juga mata kami.
Mata-mata bermetamorfosa itu ada di mana-mana. Di koran, televisi, layar tancap, barang-barang yang kami beli, anak-anak, orang tua, remaja, laki-laki, perempuan, baju-baju, kulkas, jalan-jalan, udara, angin, tanah.
**
Suatu senja saya membaca koran sambil minum secangkir kopi. Anak-anak tetangga nonton film televisi. Saya merasa ada banyak pohon yang tumbuh di hati saya. Saya tidak tahu siapa saja yang menyiram dan memupuknya. Mungkin orang lain atau saya sendiri atau yang lainnya. Saya pun tidak tahu sejak kapan pohon-pohon itu tumbuh. Mungkin baru saja, atau sudah berbulan-bulan, bertahun-tahun, berabad-abad, atau hanya sepanjang hidup saya, atau lebih lama atau lebih sebentar dari itu. Saya pun tidak tahu pohon-pohon apa saja itu. Mungkin pohon ketidakperdulian. Atau pohon kecapean. Atau pohon pengakuan sebagai manusia saya penuh dengan kekotoran. Atau pohon kesakithatian. Atau pohon luka yang selalu membawa rasa perih sepanjang hidup saya. Atau pohon dendam. Atau pohon yang tidak ada artinya. Atau bukan pohon apa-apa. ***

                                                                                    Rancakalong, 5 Juni 1996 
  

Keterangan:

1                            + 4  = Tisna Sanjaya menggelar instalasi  tumbuh, dari tanggal 4 Mei sampai 30 Juni 1996, di Bandung, Solo, Surabaya. Dalam instalasi itu, Tisna mengajak kita agar belajar dari filsafat pohon, tidak tumbuh tergesa-gesa. Melihat instalasi itu, sadar atau tidak, saya tidak bisa berhenti berpikir tentang metamorfosa ‘tumbuh’ itu, juga ketika cerpen ini tiba-tiba ditulis.
2                            =  Dalam cerpen Perempuan Sumi, Khazanah 21 Mei 1996, Joni Ariadinata melukiskan bagaimana metamorfosa itu terjadi: Umur empat tahun – entah mungkin juga kurang, pertama kali Ibu mengajariku menyilet lidah kucing; membiarkannya tercekik dan sekarat: “Ambil batu, Buyung.” “Buat apa?” “Hantam dan gerus kepalanya!” Delapan ekor, mungkin lebih, mati.
3                            Dalam novel Perempuan Di Titik Nol, Nawal el-Saadawi menggambarkan bagaimana Firdaus si anak desa berproses menjadi pelacur kelas atas. Dalam pemahaman Firdaus, kepura-puraan dunia dan ketidaktahuan Firdaus untuk membunuhnya (seperti ia membunuh germo), menjadikan kepura-puraan itu ingin membunuh Firdaus. Tapi Firdaus merasa menang atas keduanya, kehidupan dan kematian. Firdaus tidak lagi berhasrat untuk hidup, juga tidak lagi merasa takut mati.

Mengirik = Melepaskan butir padi dari tanagkainya dengan kaki
Mojang    = Gadis perawan
Jajaka       =  Remaja laki-laki





SENYUMAN ABADI


Kompas, 21 Nopember 1999

Orang itu selalu tersenyum setiap berpapasan dengan siapa saja. Kami, para warga kota yang saling mengenal ini, selalu terkesiap melihat senyumnya. Berbagai kegiatan yang sedang kami lakukan terhenti seketika. Dan setelah orang itu berlalu, kami saling bertanya, apakah ada di antara kami yang mengenal dia. Kami menggeleng. Jangankan mengenalnya, mengingat wajahnya saja tidak ada di antara kami yang tahu persis. Karena setiap orang itu lewat, senyumnya telah mencuri perhatian kami, hingga hal lainnya luput dari perhatian.
Senyumnya itu memang seperti membius. Banyak sentuhan yang kami dapatkan, meski satu sama lain berbeda memahaminya. Ada yang kemudian menangis begitu mengingat senyum itu. Katanya, senyum orang itu seperti luka yang dideritanya, luka yang sampai saat ini tidak bisa dihindarinya. “Begitu menyedihkan diingatkan kembali tentang hal itu. Hidup ini memang perjalanan kesedihan,” kata orang yang menangis itu.
Ada lagi yang melihat senyum itu seperti menonton film yang cerita, gambar-gambar dan soundtrack-nya begitu menggetarkan. Berhari-hari orang itu termenung. Melihat dan merasakan hembusan angin kecil saja dia bisa begitu peka dan menarik napas panjang. Setiap pengemis anak-anak yang ditemuinya diusap-usap kepalanya. Pekerjaannya terbengkalai. “Sebenarnya saya memang tidak menyukai pekerjan ini. Saya terpaksa mengerjakannya karena didesak oleh keadaan dan kebutuhan,” katanya.
Dan beragam pengakuan lainnya dipunyai setiap orang setelah melihat senyum itu. Memang penglihatan kami berbeda. Tetapi kami sama-sama merasa takjub dan terpesona. Itulah barangkali suasana yang sebenarnya kami harapkan sepanjang hidup kami. Seperti bulan yang selalu indah di langit. Padahal, bulan begitu indah karena tidak terjangkau. Seandainya bulan bisa kami bawa dan dibuat hiasan di kamar, barangkali kami tidak akan terpesona lagi.
“Bila orang itu lewat lagi ke sini, saya akan memotretnya beberapa rol,” kata seoranag fotografer. “Koran-koran tentu akan membelinya mahal. Karena potret senyum seperti itu tentunya akan mendongkrak penjualan yang berlipat-lipat. Atau dibuat kalender dan poster juga akan laku keras. Atau ditawarkan kepada Depparpostel, mungkin akan dibuat perangko atau kartu pos.”
“Saya setuju kalau dibikin kartu pos,” kata yang lain. “Tak terbayangkan kalau saya mengirimi kenalan-kenalan dengan kartu pos bergambar senyum yang indah itu. Mereka akan takjub dan terus mengingat saya.”
“Bila orang itu lewat lagi ke sini, saya akan mengikutinya. Saya ingin tahu sebenarnya dia tinggal di mana dan apa saja yang dilakukannya. Tentu orang seperti dia punya dinamika hidup yang indah. Saya akan buat skenarionya untuk sinetron. Pasti para penonton selalu menunggu tayangan ini.”
“Bila orang itu ...”
Begitulah kami bercakap bila kerinduan kepada senyum indah itu semakin terasa. Kami berangan-angan, angan-angan yang tidak pernah terlaksana. Karena sepengalaman kami, bila orang yang selalu tersenyum itu lewat lagi, semua angan-angan itu tidak pernah terjangkau. Si fotografer yang berhari-hari sudah menyiapkan kameranya, saat melihat orang yang selalu tersenyum itu, tidak bisa berbuat apa-apa. Kamera yang tinggal dipijit itu digenggamnya, tanpa dipergunakan seperti angan-angannya. Dan orang yang ingin mengikuti serta membuat kisah hidup orang yang selalu tersenyum indah itu, cuma bisa bengong sampai orang itu menghilang di belokan.
Semuanya ribut setelah sadar orang yang selalu tersenyum indah itu sudah menghilang. Ada yang kemudian mengejar ke belokan, tetapi orang itu tidak pernah diketahui jejaknya sekalipun. Si fotografer mengepalkan tinjunya dan memukulkannya ke dinding tembok saking menyesalnya. Dia berjanji bila orang yang selalu tersenyum itu lewat lagi, dia akan konsentrasi dan tidak akan kehilangan lagi kesempatannya. Tetapi dalam pertemuan berikutnya, semua angan-angan itu hancur kembali. Sampai kami merasa lelah sendiri berangan dan menyesali diri sendiri.
**
Kami tak pernah tahu orang yang selalu tersenyum indah itu dari mana datangnya dan ke mana tujuannya. Dia akan lewat begitu saja dan menebarkan senyum yang menakjubkan itu tanpa kami menduganya. Awalnya kami menduga bahwa dia adalah salah seorang dari para urbanis atau para pendatang yang sedang mempunyai  keperluan di sini. Tetapi seandainya orang yang selalu tersenyum itu salah seorang di antara mereka, tentu beberapa hari saja kami sudah tahu data-datanya. Kalau tidak di Pak RT, daftar namanya akan ada di sebuah penginapan atau hotel. Tetapi sepanjang kami mengecek, identifikasi orang yang selalu tersenyum itu tidak pernah kami dapatkan.
Meski begitu, kami mencatat peristiwa-peristiwa saat melihat senyum itu. Setiap memikirkannya kembali saat kami bersimpuh di sejadah yang kami rajut dari sunyi malam, kami merasa senyum orang itu adalah dunia yang hilang entah sejak kapan. Dunia yang tiba-tiba menjadi dongeng, menjadi kemustahilan yang hanya ada di negeri awan.
Setiap melihat senyum itu, kami merasakan sakit yang begitu nikmat dan nikmat yang begitu sakit. Betapa selama ini banyak perilaku kami yang sebenarnya tidak kami inginkan dan banyak keinginan yang tidak kami lakukan. Selama ini kami begitu takut oleh ketakutan-ketakutan yang sebetulnya tidak mesti ditakuti. Kami merasa mendapatkan kemenangan dengan memaksakan kehendak meski di hati kami sebenarnya ada kekalahan. Begitulah, kami hidup dengan kekalahan-kekalahan yang dimenangkan dan kemenangan-kemenangan yang dikalahkan.
Kemudian orang yang selalu tersenyum itu datang. Kehidupan kami kacau. Kami ragu-ragu untuk berbuat. Kami banyak diingatkan akan keinginan yang tidak dilakukan dan perilaku yang tidak diinginkan. Setiap melihat senyum itu, kami merasa seperti melihat cahaya yang begitu memabukkan, cahaya yang sepanjang hidup  kami rindukan, cahaya yang selalu memanggil-manggil untuk menikmati keabadiannya. Dan kami mengikutinya, tidak perduli topan dan badai tiba-tiba membanting dan memporak-porandakan tubuh ini. Kami selalu terbanting ke tempat-tempat yang justru begitu jauh dari cahaya yang dirindukan itu. Kami berpikir, barangkali topan dan badai yang membanting adalah sahabat-sahabat sejati, sahabat yang menjadikan kesakitan sebagai kenikmatan yang tiada taranya. Karenanya kami mengerti kalau ada di antara kami yang menangis dan selalu terharu melihat senyum orang itu.
“Adakah yang begitu indah dalam hidup ini?”
“Ada. Keinginan-keinginan yang tidak terjangkau begitu indah.”
“Adakah yang begitu asing dan kosong dalam hidup ini? Yang begitu senyap saat kita mengingatnya?”
“Ada. Keinginan-keinginan yang dilupakan dalam hidup ini begitu asing, kosong dan senyap saat kita mengingatnya.”
Begitulah biasanya kami bercakap. Sampai diam-diam kesibukan menjalani kehidupan membuaat kami lupa akan hal-hal itu. Sampai kerinduan kami kepada senyum itu lambat laun hilang. Sampai orang yang selalu tersenyum itu lenyap di depan kami dan membuat kami tersentak.
**
Karena setiap orang yang selalu tersenyum itu lewat kami terpesona dan pekerjan kami terbengkalai, para penentu kebijakan kota menurunkan tim peneliti dinamika kerja. Mereka menanyai kami, memotret jalan-jalan yang pernah dilewati orang yang selalu tersenyum itu, membuat hipotesa dan kesimpulan sementara. Dari hasil penelitian itu, tim peneliti menganjurkan kami agar tidak menghiraukan orang yang selalu tersenyum itu. Tetapi begitu orang itu lewat, kami ternyata tidak bisa tidak menghiraukannya. Tim peneleti sendiri tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat senyum itu. Mereka terpesona seperti kami. Jadi, meski mereka pernah melihat senyum orang itu, mereka tidak dapat data-data tambahan selain yang pernah kami berikan.
“Hidup ini memang penuh keajaiban dan keanehan,” kata ketua tim peneliti di depan kami. Mereka terlihat tidak sesemangat awal bekerja. Di antara mereka malah ada yang menangis begitu mendalam.
Berhari-hari setelah merasa terbebas dari pengaruh senyum itu, ketua tim peneliti dipanggil atasannya.
“Memang ada yang aneh dari senyum orang itu, Pak,” lapor ketua itu. “Ada semacam racun, atau mungkin candu, yang membuat kami terpesona.”
“Lalu penyelesaiannya bagaimana?”
“Kami telah mempersiapkan tim yang lebih lengkap. Para ilmuwan terkemuka telah kami undang dan mereka bersedia membantu.”
“Masalah ini memang harus segera selesai. Saya ingin pada pelaksanaan perdagangan bebas nanti, dinamika industri kita tidak lagi terganggu.”
Ketua tim peneliti pamitan. Berhari-hari dia bekerja keras meneliti dan membuat penawar pengaruh senyum itu. Para ilmuwan yang dikerahkan menemukan kacamata dengan lensa penawar senyum. Dengan memakai kacamata itu, katanya, pengaruh senyum orang itu akan teratasi. Kacamata itu dinamakan “kacamata homo homini lupus”.
Satu tim stabilitas keadaan berhari-hari mengelilingi kota kami. Mereka menunggu di setiap tempat. Mereka dilengkapi dengan senjata dan “kacamata homo homini lupus”. Diam-diam kami berdoa agar orang yaang selalu tersenyum itu tidak lewat. Kami memang merindukannya. Tetapi kami tidak tega melihat orang itu dihajar tim stabilitas keadaan. Setiap waktu kami selalu waswas. Orang yang selalu tersenyum itu memang bisa datang kapan saja tanpa terlebih dahulu memperlihatkan tanda-tandanya. Dia bisa datang saat matahari menyengat, saat hujan turun dan kami berteduh, saat kami akan berangkat atau pulang kerja, atau saat kami sibuk dengan pekerjaan.
Saat yang ditakuti itu pun tiba. Orang itu datang dengan senyum yang khas. Senyum yang kami rindukan. Senyum yang diam-diam kami harap menjadi abadi dalam hati kami. Saat kami terpaku melihat senyum yang mempesona, tim stabilitas keadaan mencegat orang itu. Dan tanpa tanya-tanya, mereka mengerubuti orang itu. Orang yang selalu tersenyum itu tidak melawan, mengaduh, atau meringis. Senyumnya tetap tersungging dan membuat kami bergetar. Tidak dihiraukannya kepalan tangan yang menghunjam keningnya, pisau yang menusuk perutnya, peluru yang berdesingan menghantam punggungnya. Sampai orang itu rubuh dan baju putihnya menjadi sangat merah  karena darah, senyum itu tidak lepas dari bibirnya.
Kami menarik napas panjang dan berharap senyum itu abadi. Tetapi, tim stabilitas keadaan yang semakin kalap setelah memukul, menusuk dan menembak itu, tidak membiarkannya. Senyum yang mengembang tanpa dosa itu ditembak dengan bazoka. Suara senjata berat itu menggelegar. Kami yang sejak awal tidak bisa berbuat apa-apa, tersentak. Kami begitu sedih saat mengetahui senyum yang menggetarkan itu hilang karena orang itu sudah tidak berkepala. Kami menangis. Dari air mata kami itulah ribuan, bahkan jutaan, senyum yang menggetarkan terbang seperti kupu-kupu di udara. Tim stabilitas keadaan membabi-buta  menembaki senyum-senyum itu. Tetapi senyum yang menggetarkan itu semakin banyak, memenuhi langit, memanggil-manggil kami. ***

                                                                                      Bandung, 20 April 1998

                                                                          

PILIHAN

PEREMPUAN SUNYI dan SAUDARANYA

Orang-orang menyebut saya Perempuan Sunyi. Mungkin karena keberadaan saya tidak ditandai dengan suara. Saya tidak berbicara, apalagi ke...

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni