Jejak Kata :
Home » » LAKI-LAKI BAYANGAN

LAKI-LAKI BAYANGAN

Written By Mang Yus on Kamis, 21 April 2016 | 09.15


Suara Karya, 25 Juni 1995 
Tidak seperti biasanya, Desa Sirnamulya bangun terlalu subuh. Suara adzan Bah Dira dari mesjid baru saja selesai, tapi di depan kantor desa telah berkumpul beberapa orang. Mereka membicarakan penemuan Dasri tadi malam. Katanya, Dasri melihat laki-laki mengendap-ngendap di kebun Pak Jaya. Beberapa orang mengajukan pertanyaan, tapi juru bicara menjawab dengan “Mungkin…. Mungkin….”
Dasri memang tidak ada di tempat itu. Kang Juhri, juru bicara, hanya tahu sedikit cerita Dasri tadi malam ketika meronda. Beberapa orang yang tidak puas pergi diam-diam ke mesjid, ke rumahnya, ke kolam yang menyediakan wc umum. Tapi kumpulan di depan kantor desa itu tidak menjadi sedikit. Orang-orang yang kebetulan lewat atau baru bangun dan melihat kumpulan itu dari kaca jendela yang baru dibuka, diam-diam bergabung dan ikut bertanya.
“Laki-lakinya seperti apa, Kang Juhri?”
“Mengendap-ngendap seperti yang mau nyuri atau mau lari?”
“Ada  tattonya nggak?”
“Siapa tahu preman yang lari dari kota, ya?”
“Berapa orang katanya, Kang Juhri?”
“Saya tidak tahu pasti,” kata Kang Juhri keras. “Mungkin bertatto. Mungkin lebih dari seorang. Mungkin preman. Mungkin mengendap-ngendap mau nyuri. Mungkin rampok. Mungkin mata-mata.”
“Uuuh, kalau tidak pasti ngapain cerita.”
“Barangkali Dasri salah lihat. Dia baru nontol film silat atau mendengarkan sandiwara radio, lalu tidur, begitu bangun adegan di film atau radio itu disangkanya kejadian beneran.”
“Dasrinya ke mana?”
“Ya, Dasrinya ke mana?”
“Tenang, tenang saudara-saudara.” Kang Juhri berteriak keras. Tapi kumpulan yang semakin besar itu tidak diam. Mereka seperti lebah yang berdengung. Ada yang menggerutu, memaki, tertawa, berandai-andai.
“Dasri sebentar lagi datang,” teriak Kang Juhri. “Dia lagi lapor ke rumah Kepala Desa. Lagi pula kemungkinan-kemungkinan itu tidak penting. Mau siapa pun dia, terserah. Tapi yang jelas, dengan mengendap-ngendap di tempat gelap, artinya dia adalah orang yang bermaksud jahat. Artinya, kita mesti berjaga-jaga. Bukankah mencegah itu lebih baik daripada mengobati?”
Tapi orang-orang tidak puas. Mereka masih tetap menggerundel. Suaranya berdengung. Baru ketika pagi sudah terang, ketika Dasri datang bersama Kepala Desa, mereka diam. Kepala Desa maju ke depan didampingi Dasri. Dengan berdiri di atas batu, Kepala Desa bicara.
“Saudara-saudara, malam tadi Dasri memergoki ada laki-laki yang mengendap-ngendap di kebun Pak Jaya. Sementara di kota-kota sekarang sedang ada pembersihan para preman, anak-anak muda nakal, juga yang telah kambuhan melakukan kejahatan. Artinya, siapa tahu laki-laki yang mengendap-ngendap itu preman yang kabur ke sini. Kita mesti waspada. Kita mesti menghapuskan berbagai tindak kejahatan di muka bumi ini.”
Orang-orang masih menggerutu. Sebagian ada yang pergi diam-diam, tak mengacuhkan Kepala Desa.
“Sebagai warga desa yang menganut gotong royong, kita harus bersama-sama menghadapi ancaman ini,” ujar Kepala Desa.
Orang-orang yang meninggalkan kumpulan semakin banyak. Mereka menggerutu.
“Kalau tahu hanya berita seperti itu, lebih baik aku tidur saja.”
“Orang sekarang semakin penakut. Baru laki-laki mengendap sudah heboh. Apalagi kalau harimau.”
“Enakan kita ngobrol di tukang serabi, yu.”
Orang-orang bubar. Yang tinggal Kepala Desa dan aparatnya, Kang Juhri dan Dasri.
Di penjaja kue serabi beberapa orang masih meneruskan gerutuannya.
“Enak aja Kepala Desa itu ngomong. Kita mesti gotong royong, mesti siap siaga. Eh, begitu ada dana dari atas, dia sendiri yang makan.”
“Bangunan-bangunan untuk umum yang dijanjikan, nihil sampai sekarang.”
“Apa kita pun mesti siap siaga menjaga dia?”
Matahari semakin naik. Desa Sirnamulya ramai seperti biasa.
**
Bila hujan turun seharian, atau sesorean, malam Desa Sirnamulya bagaikan raksasa mati. Orang-orang lebih senang berkumpul di tengah rumah yang diterangi tebeng, lampu minyak. Atau membenamkan diri di bawah selimut sejak sore. Dari kejauhan, hanya satu dua cahaya kecil yang menandakan ada kehidupan di desa penghasil pisang itu.
Dan paginya, Sirnamulya seperti anak-anak yang sulit bangun. Bah Dira yang sejak muda jadi muadzin hanya dapat mengumpulkan dua tiga orang untuk sholat berjama’ah di mesjid kecil itu. Ketika matahari pelan-pelan naik, satu dua orang mulai keluar rumah. Bi Iti mengambil air dari sumur dan menjerangnya. Kang Joned memilih kayu bakar kering di belakang kandang domba. Jang Yaya yang baru kelas dua Sekolah Dasar menggosok matanya, lalu bergabung dengan barisan anak-anak lainnya untuk mandi di pancuran.
Barisan anak-anak bertelanjang kaki itu berjalan sambil bercanda. Ada yang saling kejar berebut embun yang menempel di daun-daun yang dipercaya dapat menyuburkan rambut. Ada yang cerita semalam didongengi emaknya sasakala yang rame. Ada yang berandai-andai hari itu akan mendapatkan jamur yang banyak. Setelah hujan, jamur memang biasanya tumbuh.
Tiba-tiba seorang anak berlari untuk melihat tempat yang biasanya ditumbuhi jamur. Anak-anak lainnya mengejar, takut tidak kebagian. Tapi belum sempat mereka ke tempat yang dituju, mereka berhenti serentak. Kaki-kaki kecilnya mengerem, menyusur tanah. Jang Idi yang lari paling depan kaki kirinya berdarah karena ada kerikil yang masuk ke kukunya. Beberapa jenak mereka tidak bicara. Kemudian saling pandang dengan temannya. Serentak mereka balik lagi sambil berteriak-teriak.
“Ada mayat! Ada mayat! Ada mayat!”
“Mayat apa?” tanya Mang Didi yang pertama bertemu dengan rombongan anak-anak.
“Ya, mayat manusia, Mang. Di jalan ke pancuran.”
“Betul?”
“Memangnya kita berbohong? Biarinlah kalau tidak percaya. Ada mayat! Ada mayat! Ada mayat!”
Anak-anak berlari lagi menuju pusat Sirnamulya. Desa yang baru bangun itu terkejut mendengar kabar buruk itu. Orang-orang dari berbagai penjuru berdatangan ke lokasi yang ditunjukkan anak-anak. Di sana memang ada mayat. Di dadanya masih menempel belati. Wajahnya ditutupi topi. Darah yang sebagian telah mengering memberi warna merah pada bajunya yang putih bergaris.
Tiba-tiba seorang perempuan menubruk mayat itu sambil menangis. Nyi Icih, perempuan itu, mengambil toki laken yang menutup wajah mayat itu, tampaklah wajah pucat Kang Sorin, suaminya. Orang-orang yang masih terpaku, terkejut melihat wajah bandar pisang yang kemarin siang masih keliling kebun mengontrol pisang yang matang. Serentak mereka memangku Kang Sorin, membawa ke rumahnya, melapor ke polisi dan mengurus penguburannya.
Malamnya, gardu ronda ramai oleh orang-orang yang jaga. Bergantian satu jam sekali mereka mengontrol sekeliling Sirnamulya. Polisi yang memeriksa sejak siang tadi memberi kesimpulan bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh orang yang tidak dikenal. Orang-orang pun yakin bahwa pembunuhnya adalah laki-laki yang malam lalu dilihat oleh Dasri mengendap-ngendap di kebun Pak Jaya.
Berhari-hari mereka mengontrol desanya, laki-laki yang mengendap-ngendap itu tidak terlihat lagi. Seminggu setelah itu mereka menemukan jejaknya di kebun Pak Jaya. Waktu itu baru pukul 20.00 WIB. Ronda belum ada yang keliling. Tiba-tiba ada teriakan orang meminta tolong. Ronda yang masih ngobrol di gardu segera memburunya. Di jalan mereka bertemu dengan Nyi Rini, anaknya Juragan Aci, yang bajunya masih merosot (mungkin lupa membetulkan). Dengan gugup Nyi Rini bercerita bahwa di kebun Pak Jaya ada laki-laki yang menakutkan. Ronda memburunya. Tapi yang ditemuinya adalah mayat Jang Jejen. Di dadanya ada beberapa tusukan belati. Darah masih keluar dari lukanya.
“Ceritanya bagaimana, Nyi?” tanya Kepala Desa di kantornya. Orang-orang yang baru saja mengurus mayat Jang Jejen, yang ingin tahu kejadiannya, melihat dan menempelkan telinganya di kaca.
“Seperti biasa, kami janjian dengan Kang Jejen di warung Bi Oni,” kata Nyi Rini dengan suara bergetar. Tangannya masih memegang ujung bajunya yang sesekali dipakai mengusap matanya. “Lalu kami jalan-jalan ke kebun Pak Jaya.”
“Jalan-jalan untuk apa? Kok ke kebun?”
Nyi Rini lama tidak menjawab. “Ya, biasa, Pak.”
“Biasa bagaimana?”
“Kami biasa ngobrol di gubuk Pak Jaya,” kata Nyi Rini pelan. Kepalanya menunduk. Orang-orang yang sempat mendengar saling pandang. Kepala Desa yang teringat baju Nyi Rini yang merosot segera maphum.
“Lalu, ketika kami pindah ke dalam gubuk, kami menemukan laki-laki menakutkan itu. Dia berkelahi dengan Kang Jejen. Saya lari minta tolong.”
**
Kematian Jang Jejen membangkitkan kemarahan warga Sirnamulya. Mereka merasa dihina. Ketika ronda digiatkan pembunuhan itu terjadi. Tapi ketika suatu malam Mang Iri, salah seorang ronda yang kontrol, didapatkan juga terbunuh, orang-orang mulai keder. Menurut cerita, Mang Iri berhenti untuk kencing ketika rombongannya kontrol keliling Sirnamulya. Ketika Mang Iri tidak juga menyusul, teman-teman serombongannya  curiga. Mereka balik lagi dan menemukan Mang Iri telah jadi mayat.
Malam-malam berikutnya, hanya seorang dua orang warga Sirnamulya yang ikut meronda. Setelah itu hanya aparat desa dan polisi yang masih datang ke gardu ronda. Warga lainnya membenamkan diri di bawah selimut ketika malam mulai merayap. Pintu rumah banyak yang ditambah selot atau gemboknya.
Di antara warga Sirnamulya beredar isu bahwa laki-laki menakutkan itu akan membunuh satu persatu orang-orang yang banyak dosa. Kang Sorin, katanya, sebagai bandar pisang, sering membohongi petani. Jang Jejen, katanya, sebagai pemuda ganteng, bukan rahasia lagi sering gonta-ganti pacar, termasuk istri orang atau janda. Mang Iri, katanya, sebagai pegawai di kebun pisang Kang Yaya, sering menggelapkan hasil tani.
“Jadi, siapa saja yang berdosa, harus hati-hati. Siapa tahu diam-diam laki-laki itu datang mengendap-ngendap datang dari belakang, lalu creb!” Kang Karta yang menyebarkan isu itu bercerita di setiap gerombolan penduduk. Mereka yang mendengarkan bergidik. Dan isu itu pun menyebar.
Orang-orang yang merasa banyak dosa diam-diam meminta ampunan kepada Tuhan. Mereka tidak berani keluar rumah pada malam hari. Siang hari pun, sendirian ke kebun pisang yang rimbun, jarang dilakukan orang. Sirnamulya dicekam ketakutan. Selepas senja, Sirnamulya seperti raksasa mati, meski di setiap rumah akan terdengar bisikan orang-orang meminta ampunan.
**
Ronda tidak lagi dijalankan sejak beberapa hari yang lalu. Tidak ada seorang pun warga Sirnamulya yang mau meronda. Mereka mengunci diri di kamar. Juga ketika terdengar suara-suara aneh dari dapur yang besoknya disusul hilangnya makanan, tidak mendorong warga Sirnamulya untuk mengetahui apa yang terjadi. Suara-suara itu malah menjadikan mereka semakin takut.
Aparat desa dan hansip pun jarang yang datang ke gardu, dan akhirnya tidak ada sama sekali. Kepala Desa yang awalnya marah kepada anak buahnya yang tidak mau meronda, akhirnya dia sendiri selalu siap membenamkan diri di bawah selimut setelah malam beranjak gelap. Kematian Pak Karta yang dikenal sebagai lintah darat dua hari yang lalu dengan beberapa bekas tusukan belati di dada, diam-diam meyakinkan Kepala Desa akan isu yang menyebar itu.
Kepala Desa yang menyadari dosa-dosa yang telah dilakukannya, setiap malam sehabis sholat meminta ampunan. Setelah itu, ketakutan membawanya untuk mengunci diri bersama anak istrinya di kamar. Ketika suatu malam Kepala Desa mendengar suara dari dalam rumah, ketakutannya semakin menjadi. Hanya malu kepada anak-istrinya yang mendorongnya melihat apa yang terjadi dari celah kunci. Di dalam rumahnya Kepala Desa melihat seorang laki-laki duduk tenang sambil makan. Di lengannya tampak tatto gambar-gambar yang menyeramkan. Teringat cerita warga Sirnamulya bahwa laki-laki itu membunuh korbannya secara santai dan tenang, Kepala Desa cepat naik ke kasur dan menyelimuti dirinya. Bibirnya tidak henti membacakan ayat-ayat Qur’an yang hapal, diselingi dengan minta ampunan atas dosa-dosanya.
Paginya, Kepala Desa menemukan makanan di dapur habis. Di meja makan, di bawah gelas, Kepala Desa menemukan surat. Isinya: “Setiap manusia punya kesalahan. Siapa bilang kesalahan tidak menakutkan? Semua kesalahan tidak ada yang tenang. Saya merasa dikejar-kejar ketakutan. Karena itu saya membunuh dan membunuh setiap berhadapan dengan orang yang mau menangkap. Siapa orangnya yang tidak takut oleh ketakutan?”
Surat tanpa tanda tangan itu juga ditemukan warga Sirnamulya lainnya setelah malamnya mereka mendengarkan suara-suara aneh di dapur dan besoknya makanan hilang. Tapi masih belum ada warga Sirnamulya yang berani keluar malam sendirian. Mereka takut oleh dosa-dosanya. ***
  
Keterangan:
Pancuran = air yang mengalir lewat bambu, biasanya lansung dari mataair atau sawah
Sasakala= legenda
Keder = takut




Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni