Jejak Kata :
Home » » RABUN

RABUN

Written By Mang Yus on Kamis, 21 April 2016 | 10.14


Bandung Pos, 4 Mei 1994
“Sembilan,” kata Mirsam sambil menunjuk angka tiga. Orang-orang kaget. Mereka berdesakan maju, ingin jelas melihat angka yang ditunjuk Mirsam.
“Angka tiga,” kata yang seorang sambil menunjuk papan pengumuman.
“Tiga,” kata yang lain, mendukung.
“Sembilan!”
“Tiga!”
Tapi karena Mirsam tetap menyebut angka sembilan, orang-orang marah. Mirsam ditarik dan ditendang ke belakang, jatuh di bawah pohon beringin.
“Jelas angka tiga, dibilang sembilan. Dasar mata rabun,” kata yang menggerutu sambil melihat lagi pengumuman yang dikeluarkan oleh pemerintah itu.
Kata pengumuman itu, rakyat mesti tahu jumlah uang yang tersisa untuk pembangunan yang akan datang. Sebab tanggung jawab pembangunan bukan hanya disandang pemerintah saja, rakyat saja, atau salah satu golongan.
Seminggu setelah itu, ketika orang-orang melihat pengumuman baru, Mirsam menunjuk angka delapan sambil bilang, “Ini angka lima.”
Orang-orang terkejut. Sebagian menggosok matanya, biar yakin dengan apa yang dilihatnya. Sebagian lagi mencari-cari orang yang tadi bicara.
“Pantas, yang barusan bicara si Mirsam,” kata salah seorang setelah ia melihat Mirsam.
“Si Mirsam matanya rabun!” kata yang lain.
“Mata ikan barangkali! Masa tidak bisa melihat angka sebesar itu. “
Tapi Mirsam tetap menyebut angka lima sambil menunjuk angka delapan. Akhirnya orang-orang tak lagi marah, tapi mentertawakannya. Apalagi ketika malamnya mereka nonton tv di kelurahan, Mirsam menunjuk sapi yang ada di tv dengan menyebut domba. Sejak itu Mirsam menjadi tertawaan orang-orang, permainan anak-anak muda yang setiap sore nongkrong di pos ronda, bahan olok-olok anak-anak yang sedang bermain. 
“Mirsam, ini apa?” tanya anak-anak sambil menunjuk gambar yang ada di koran.
“Badak,” jawab Mirsam tenang. Anak-anak ramai mendengarnya.
“Kalau yang ini?”
“Gajah,” jawab Mirsam. Anak-anak bersorak. Yang sedang bermain kelereng berhenti membidik. Yang sedang mengadu jengkrik berhenti memanasi binatang kecilnya. Orang-orang tua yang lewat berhenti, ikut tertawa dan bersorak.
Suatu hari, orang-orang terkejut ketika sedang mempermainkan Mirsam. Sebabnya, mata Mirsam tidak hanya rabun ketika melihat angka dan binatang saja, tapi juga sudah meningkat ketika melihat manusia. Ketika Pak Hili, seorang pengusaha besar (orang-orang menyebutnya konglomerat – yus) yang sedang membeli tanah untuk sebuah pabrik di kampung Mirsam, berbicara di kelurahan, oleh Mirsam disebut ular. Pak Culna, seorang mantan pejabat pemerintah (orang-orang menyebutnya koruptor – bukan yus) yang sedang beristirahat di vilanya di kampung Mirsam, disebutnya harimau.
Yang paling mengejutkan ketika ada orang kota lengkap dengan rombongan pengiringnya meninjau kampung Mirsam yang akan dijadikan desa percontohan. Mirsam berbisik kepada orang yang dekat dengannya ketika sedang melihat orang kota itu. Katanya, “Lihat, kepalanya seperti lintah. Penuh darah di kepalanya.”
Orang-orang yang mendengar terkejut. Apalagi ketika Mirsam mengulang kembali lebih keras apa yang dikatakannya. Upacara ‘meninjau’ tiba-tiba terhenti. Orang kota yang tidak lain pak gubernur itu tidak melanjutkan tugasnya. Dia marah mendengar perkataan Mirsam yang kurang ajar.  Panitia melotot kepada Mirsam. Tapi Mirsam tenang-tenang saja, tidak ada yang ditakutkannya.
Panitia bagian keamanan cepat membawa Mirsam ke belakang. Mirsam dibawa ke kantor polisi dan ditahan dengan alasan mengganggu ketertiban. Hari keenam baru ia dikeluarkan. Orang-orang berdesakan ingin melihat Mirsam.
“Mirsam, ini apa?” tanya salah seorang polisi sambil menunjuk gambar yang ada di majalah.
“”Lintah,” jawab Mirsam tenang. Orang-orang tak ada yang bicara. Apalagi tertawa. Sebab tertawa artinya subversi. Foto yang ada di majalah itu adalah foto seorang pejabat negara yang sangat dikenal 
“Kalau ini?” tanya polisi lagi.
“Harimau.”
“Ini?”
“Bunglon.”
“Ini?”
“Badak.”
Polisi berhenti bertanya. Mirsam diantarkan ke rumahnya. Keputusan polisi, Mirsam adalah orang sakit gila, sakit mental, hilang ingatan. Tapi Mirsam tidak boleh diganggu. Ini adalah aturan baru. Sebab salah-salah nanya, yang nanya bisa dihukum.
**
Bagi saya Mirsam adalah guru. Sejak kecil saya sering mengikuti ke mana Mirsam pergi. Baca Qur-annya bagus. Pengetahuannya di bidang sosial, politik, dan kebudayaan cukup luas. Pembicaraannya selalu berisi. Nilai falsafinya tinggi. Banyak pengetahuannya yang diajarkan kepada saya, dari mulai mengaji kitab sampai mengaji diri.
Sebenarnya saya tidak terkejut dengan yang dikatakan Mirsam. Bisa jadi ia yang benar dan orang-orang yang salah. Sering mata fisik saya yang rabun diobati Mirsam. Sering yang belum terlihat oleh mataku, oleh mata Mirsam telah diketahui. Maka ketika orang-orang menyebut Mirsam gila, sakit mental, hilang ingatan, saya tidak percaya. Mirsam orang sehat, waras. Ketika orang-orang tertawa mendengar jawaban Mirsam saat ditanya, saya tidak. Ketika  orang-orang menjauhi Mirsam sebab takut disebut subversi, saya tidak. Mirsam tetap guru saya yang selalu saya dengarkan dan renungkan apa yang dikatakannya.
Suatu waktu, ketika sedang istirahat sehabis mencangkul kebun, saya bertanya kepada Mirsam.
“Apa benar yang terlihat olehmu adalah lintah, harimau, ular, badak, dan bukan manusia?”
“Aku hanya jujur.”
“Tapi kejujuranmu membawa petaka.”
“Memang seperti itu. Kejujuran itu baik, tapi seringkali menyakitkan.”
Sejak itu saya selalu bertanya-tanya, apa saya sudah jujur? Maka ketika saya melihat orang-orang berjalan cepat dan tanpa menghiraukan sekelilingnya, saya jadi heran. Dan lambat laun, saya juga melihat apa yang dilihat Mirsam. Banyak orang berkepala binatang, apalagi kelakuannya. Tapi saya tidak yakin, apakah ini kejujuran atau sakit. Ketika orang-orang saya tanya dan saya sebutkan apa yang terlihat, mereka bergidik dan berjalan lagi cepat-cepat.
“Aku pun sebenarnya melihat itu. Tapi kamu harus hati-hati, kamu bisa diasingkan seperti Mirsam,” kata seseorang, entah siapa, dan pergi lagi cepat-cepat.
Saya sendiri bingung mesti berbuat apa sekarang. Tapi tiba-tiba saya teringat seorang teman, Hermawan Aksan, yang pernah bilang bahwa saya mesti cepat-cepat mencari kaca dalam keadaan seperti itu. “Siapa tahu wajah kita pun sudah berubah dari aslinya,” katanya.
Saya pun mencari-cari cermin. Tapi di tempat-tempat umum cermin sudah pecah-pecah. ***

Cerpen Ini Didukung Oleh:

Ingin tahu lebih banyak tentang Bait Surau? Klik saja DI SINI

Harga : Rp 35.000
Pemesanan: WA: 085772751686

Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni