Jejak Kata :
Home » » TANGAN YANG MENGGENGGAM BELATI

TANGAN YANG MENGGENGGAM BELATI

Written By Mang Yus on Kamis, 21 April 2016 | 11.17


Tabloid CITRA, 7 Juni 1998

Gerimis turun mempertegas sunyi. Pohon-pohon mematung. Bangunan-bangunan membeku. Jalanan lengang. Suara mobil yang sesekali lewat, menyuarakan gelisah penumpangnya. Segerombolan remaja, laki-laki dan perempuan, turun dari mobil yang diparkir seenaknya di depan diskotik. Mereka tertawa-tawa. Di depan sebuah gang, serombongan remaja bermain gitar, bernyanyi teriak-teriak. Beberapa botol minuman tak beraturan di depan mereka.
Malam begitu dingin dan mencekam.
Di sebuah lapangan seorang lelaki berdiri. Gerimis yang membasahi rambutnya dibiarkan menyusuri pipinya, dahinya, bajunya. Matanya memandang ke depan, tak berarah. Napasnya tak beraturan. Di tangan kanannya tergenggam sebuah belati. Dari ujung belati itu menetes darah, satu-satu.
Tak ada angin malam ini.
Lelaki yang berdiri di tengah lapangan itu hanya mendengar suara napasnya sendiri. Sebuah luka menggores di tangannya. Darah masih mengalir, bersatu dengan butiran air, menetes dari ujung belatinya.
Sebuah mobil berhenti di pinggir lapangan. Segerombolan remaja, laki-laki dan perempuan, turun.
“Sorotkan lampu ke arahnya,” kata yang seorang.
Lampu mengarah ke lelaki yang berdiri di tengah lapangan. Tapi lelaki itu tidak bergeming.
“Lihat ia membawa belati.”
“Berdarah.”
“Aku takut matanya,” kata yang perempuan. Cepat ia masuk ke dalam mobil. Teman-temannya menyusul. Mobil meluncur lagi.
“Aneh-aneh kelakuan orang,” kata yang perempuan sambil menyusup di dada temannya. Di tangannya tergenggam pil yang tidak jadi diminum karena ia terlalu lemas.
Di depan sebuah gang, segerombolan remaja masih bermain gitar. Botol-botol kosong berserakan di depan mereka.
“Kerja kau, cepat!” Si Tato Kala memerintah anak buahnya. “Di diskotik sudah banyak yang pada pulang. Kau minta keamanannya.”
“Di sana dijaga si Kopral, Bang.”
Ala, apa yang ditakutkan dari si Kopral? Cepat pergi!”
Malam mendekati subuh. Anak buah si Tatto Kala berlari menembus gerimis. Dia berpapasan dengan seorang tua yang menyebrang jalan menuju ke mesjid di depan gang.
**
Matahari masih semburat jingga ketika seorang tukang sayuran yang mau ke pasar menemukan mayat di semak-semak, lima ratus meter dari sebuah diskotik. Orang-orang ribut. Mereka mengerubungi mayat itu. Polisi ditelepon. Satu tim antikekerasan diturunkan. Mereka cepat memeriksa, menanyakan ini-itu kepada orang-orang yang ada di sekitar kejadian perkara.
“Lelaki itu memegang belati yang berlumur darah, Pak!” kata seorang remaja yang semalam datang ke diskotik. “Semalam dia berdiri di tengah lapangan, Pak.”
Atas petunjuk remaja itu, polisi mendatangi lapangan yang diceritakan. Lelaki itu masih berdiri di sana. Di tangannya sebuah belati tergenggam. Darah menetes satu-satu dari ujung belatinya. Lelaki itu tidak bergeming meski matahari mulai naik dan orang-orang menghampirinya.
“Tangkap lelaki itu!” perintah Pak Komandan.
Satu tim polisi mendekat. Beberapa orang menodongkan pistol. Lelaki itu masih berdiri kaku.
“Kamu ditangkap,” kata seorang polisi. Lelaki itu masih berdiri kaku. Tapi begitu dua orang polisi menangkap tangannya, lelaki itu berkelit.
“Kamu ditangkap!” bentak seorang polisi.
“Apa salahku?” Lelaki itu bersuara. Matanya memandang tajam.
“Kamu dicurigai.”
“Kenapa?”
“Kamu memegang belati.”
“Apa salah memegang belati?”
“Belatimu berdarah!”
“Apa salah belati berdarah?”
“Banyak omong. Tangkap dia!” Pak Komandan kesal.
Lelaki itu menodongkan pisau ketika dua orang polisi mau menangkapnya.
“Mana surat perintahnya?” tanya lelaki itu.
“Gampang, nanti dibikin.”
“Tidak bisa. Sebagai polisi kalian goblok. Sombong! Aku tidak bersalah!”
“Tembak dia!”
Lelaki itu berlari. Beberapa pistol meletus. Peluru melayang cepat, menembus tubuh lelaki itu. Darah mengucur dari lubang-lubang yang dibikin peluru itu. Tapi lelaki itu berlari terus. Polisi mengejarnya.
Sampai malam datang polisi belum dapat menangkap lelaki yang menggenggam belati itu.
**
Pagi berikutnya seorang buruh yang siang kemarin demonstrasi terbunuh. Pagi berikutnya mayat seorang mahasiswi ditemukan di tempat kosnya. Pagi berikutnya sekeluarga guru dibantai. Pagi berikutnya dua orang anak sekolah dasar diperkosa sekelompok orang. Pagi berikutnya ditemukan mayat seorang polisi, mayat seorang jenderal, mayat seorang tukang sayur, mayat seorang pengusaha.
Orang-orang resah. Polisi sibuk memeriksa dan melacak. Pengadilan digelar. Tapi si pelaku masih belum jelas. Sampai seorang remaja melaporkan bahwa ia semalam melihat seorang lelaki yang memegang belati berlumur darah itu berdiri kaku di sebuah lapangan. Polisi dan orang-orang memburu ke lapangan. Lelaki itu masih berdiri di sana.
“Aku tidak bersalah!” Lelaki itu berkelit ketika polisi menangkapnya.
“Tapi kamu membawa belati yang berlumur darah. Kamu dicurigai!” Komandan polisi tak kalah galak.
“Apa cuma aku yang berdarah? Banyak orang yang patut dicurigai. Orang-orang menangis ketika rumah-rumahnya dibakar. Orang-orang menjerit ketika rumah-rumahnya digusur. Mahasiswa dan buruh demonstrasi hampir setiap hari. Orang-orang pada tidur di beranda gedung DPR, mengadu. Orang-orang sikut-sikutan dan jilat-jilatan untuk menjaga bisnisnya. Orang-orang mangkel makan tiwul sambil nonton pesta tahun baru ditayangkan seluruh stasiun televisi. Curigai mereka!”
“Tidak bisa! Kamu yang mesti ditangkap!”
Lelaki itu berlari. Beberapa pistol meledak. Lubang peluru di tubuh lelaki itu mengeluarkan darah. Tapi lelaki itu terus berlari.
Atas kesepakatan pemuka masyarakat, lelaki yang menggenggam belati itu didatangi oleh para pemuka agama.
“Kamu tahu Tuhan melarang membunuh?” tanya seorang pemuka agama.
“Tahu.”
“Kamu tahu Tuhan melarang memperkosa?”
“Tahu.”
“Kamu tahu Tuhan melarang orang merugikan orang lain?”
“Tahu.”
“Karena itu, kamu jangan melakukannya.”
 “Ya, aku berusaha tidak melakukannya.”
“Tapi banyak orang terbunuh. Banyak perempuan diperkosa. Banyak orang dipaksa. Banyak orang diinjak-injak hak asasinya. Untuk memberantas kejahatan itu, kita perlu pelakunya untuk diadili. Karena itu, lepaskan belati itu.”
“Aku tidak bisa melepaskannya.”
“Kenapa?”
“Tanganku tidak bisa dibuka.”
“Kamu dendam?”
“Ya.”
“Kepada siapa?”
“Pelaku kejahatan itu.”
“Karena itu, lepaskan balati itu.”
“Tanganku tidak bisa dibuka.”
**
            Menurut laporan para pemuka agama, lelaki itu tidak perlu diresahkan. Dia perlu diawasi saja. Tapi orang-orang tidak setuju. Kejahatan semakin sering dan sadis meski para preman sempat dihabisi di jalan-jalan. Menurut orang-orang, mereka perlu pihak yang dicurigai, karena pengadilan belum bisa menyelesaikan masalah seadil-adilnya. 
            Tapi lelaki yang memegang belati berlumur darah itu, menurut keputusan pengadilan, tidak boleh dicurigai. Orang-orang menggerutu. Mereka perlu pihak untuk dicurigai. Diam-diam mereka merencanakan untuk membunuh lelaki yang selalu berdiri di tengah lapangan sambil memegang belati berlumur darah itu. Pada waktu yang ditentukan, mereka menyerbu.
          “Bunuh dia!” teriak komandan dadakan itu. Orang-orang menyerbu. Di tangan mereka tergenggam belati. Lelaki itu berlari. Orang-orang mengejar sambil mengacung-acungkan belati.
           Berhari-hari orang-orang mengejar lelaki yang memegang belati berlumur darah itu. Tapi lelaki itu selalu dapat meloloskan diri. Sampai kemudian terbetik kabar ada seorang pejabat pemerintah terbunuh. Hari berikutnya ditemukan mayat seorang siswa SMU di pinggir jalan, mayat seorang mahasiswa yang sebelumnya membantu petani mengadu ke DPR, mayat seorang wanita panggilan di sebuah hotel, dan seterusnya.
         “Sekarang siapa yang kita curigai? Kita semua memegang belati!” Lelaki yang memegang belati berlumur darah itu berdiri di depan orang-orang. Orang-orang saling memandang. Diam-diam mereka saling mencurigai.
        Besoknya ada lagi yang terbunuh. Orang-orang mendapatkan belati di tangan mereka berlumur darah. Mereka tidak bisa melepaskan belati itu.
        “Kita semua sama-sama memendam dendam,” kata lelaki itu di depan orang-orang. “Yang menentukan tinggal peperangan di dalam hati kita, akan dilampiaskan seperti apa dendam itu.”
        Polisi semakin sibuk. Mereka stress karena kejahatan sering tidak jelas pelakunya. Mereka tidak bisa melepaskan pistol yang digenggam. Mereka menembak kepada yang dicurigai. Orang yang ditembak melawan. Mereka saling membunuh. Semakin banyak yang terlibat. Berhari-hari.
        “Ingat, Tuhan melarang kita saling menyakiti!” Para pemuka agama berteriak di mana-mana. Orang-orang berhenti berkelahi. Tapi belati berlumur darah di tangan mereka tidak bisa dilepaskan. Besoknya koran-koran menulis analisa pakar kriminal tentang kejahatan yang semakin sadis.***

Cerpen Ini Didukung Oleh:

Ingin Tahu Lebih Banyak? Baca saja DI SINI

Harga : Rp 35.000
Pemesanan: WA: 085772751686

Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni