Jejak Kata :
Home » » Cerpen Kedaulatan Rakyat: KISAH CINTA BIASA

Cerpen Kedaulatan Rakyat: KISAH CINTA BIASA

Written By Mang Yus on Selasa, 10 Mei 2016 | 10.39

Cerpen Yus R. Ismail

Kedaulatan Rakyat, 8 Mei 2016

Pagi. Kopi panas. Roti bakar. Koran pagi. Betapa enaknya. Saat orang-orang pergi bekerja. Terburu-buru mengejar waktu. Saya bisa berleha-leha sambil membaca koran.
Kebakaran terjadi di rumah sakit, kemarin waktu awan hitam menghias langit. Semua pasien selamat, kecuali nasib seorang mayat, melarikan diri dengan melompat, tepat pukul empat.”
Saya tertawa. Wartawan ada-ada saja. Masa mayat bisa melompat? Saya melipat koran, melemparkannya ke atas meja.
Di depan rumah ada yang mengendap setengah badan. Siapa? Mau apa? Saya perhatikan pakaian dan badannya, cocok dengan tanda yang di koran. “Si mayat yang kabur memakai celana mode lama, kaos polos, kepala diikat, serba putih,” tulis koran di halaman depan.
Hai...! Kamu mayat yang melompat dari kamar mayat tepat pukul empat, ya?” teriak saya sambil berdiri.
Sosok yang mengendap-endap itu terkejut. Dia melarikan diri. Saya mengejarnya. Di sebuah lapangan saya menubruk mayat yang melarikan diri itu. Kami berguling-guling. Waktu saya berdiri, melihat kepadanya yang juga mau berdiri, saya terkejut. Ternyata dia... badan saya yang kabur waktu saya tidur.
“Eh, ternyata... kamu?!” kata saya tidak jelas antara bertanya dan berseru.
Dia memandang saya tajam. Lalu meludah. Saya terkejut.
“Kenapa sih kamu? Kamu marah sama saya?”
Dia memandang sinis. Katanya dengan kata-kata kasar: “Ya, aku marah, goblok! Pantas kalau aku marah! Mau ngamuk! Atau membunuhmu sekalian aku pantas!”
Saya tentu tidak terima dicaci-maki seperti itu.
“Kamu yang sebenarnya brengsek! Kamu kabur waktu saya tidur! Itu kelakuan tidak terpuji, goblok! Tidak ada peraturannya, ketentuannya, yang mendukung perilaku seperti itu! Biasanya harus sakit dulu, atau kecelakaan, atau sekalian gagal jantung, biar cepat mati! Baru kamu merdeka! Boleh pergi ke mana pun! Tidak waktu saya tidur, sedang mimpi yang indah-indah, kamu kabur! Menantang takdir itu namanya! Dosa kelakuanmu itu!” teriak saya.
“Tidak masalah, dosa juga sudah biasa! Dosa oleh kelakuanmu! Lihat nih sekujur tubuh ini!” Dia membuka bajunya yang serba putih. Saya terkejut. Seluruh badannya hitam legam, seperti aspal. Hanya rambut dan giginya yang putih. “Lihat nih kening ini, hitam begini, karena dipakai mikir yang tidak-tidak! Kaki ini hitam begini karena melangkah ke tempat sesat! Tangan ini hitam begini karena dipakai memegang yang tidak semestinya dipegang! Mata ini hitam begini karena dipakai melihat yang tidak semestinya dilihat!”
Nafas saya mulai tersengal mendengar kata-katanya yang terus memojokkan.
Otak saya sudah terlalu mumet untuk berpikir. Saya tubruk saja dia. Kami bergulingan. Selanjutnya saling memukul saling menendang saling membanting saling menyiku saling memiting. Keringat membanjir. Bercampur darah. Luka-luka terasa perih. Di mana-mana. Tapi yang paling perih adanya di dalam. Di dalam hati.
**
Sejak itu saya tidak pernah saling menyapa dengannya. Bertemu di jalan pura-pura tidak melihat. Dia lalu pergi, saya pun pergi. Ingin cepat-cepat jauh darinya. Selanjutnya saya pergi ke mana saja, ke tempat-tempat jauh. Hati ini, hati ini semakin terasa sunyi. Semakin terasa sakit. Sakit entah oleh apa. Inginnya menangis. Menangis entah oleh apa.
Mengobati hati yang sakit inginnya menyepi di tempat-tempat sunyi. Hutan-hutan lebat, puncak-puncak tinggi, gua-gua dalam. Aku semedi di pinggir kali, merenung di gunung-gunung. Selagi menyepi, merasakan air embun merembes di puncak kepala, terbayang lagi dia. Sesal itu muncul, semakin membesar, semakin membesar. Kenapa mesti bersilat lidah, saling menyalahkan, berkelahi saling menyakiti. Kenapa mesti sampai separah itu? Apa yang diucapkannya, sebenarnya betul semua. Hanya bahasa kasarnya mungkin yang tidak saya setujui. Tapi bagaimana menyampaikan ketidaksetujuan yang sudah melumut diperam kelembaban hati bertahun-tahun?
Setelah pengakuan seperti itu semakin kuat, saya berjalan perlahan. Berjalan dengan perasaan yang kosong adanya. Sampai di tempat kami berkelahi perasaan ini semakin tidak menentu. Lama saya termenung. Semakin ingat bagaimana tinju ini menghantam rahangnya, tinjunya menghunjam hidung saya; hati ini semakin sakit. Kenapa mesti sampai terjadi?
Lamunan itu buyar karena di seberang sana, di bawah pohon kersen, ada yang sedang berdiri, juga menatap pelataran tempat perkelahian itu. Berkali-kali kami saling memandang. Hati ini tidak kuat ingin memeluknya. Tapi hujan mendahului langkah kaki ini. Hujan yang besar dengan suara yang riuh. Tidak berpikir lagi, saya berlari menuju tempat berdirinya. Dia pun berlari menuju tempat berdiri saya. Saya dan dia saling merangkul. Erat sekali.
“Sudah waktunya kita ini saling menyelamatkan,” katanya di antara gemuruh hujan. Saya mengangguk. “Bagaimanapun kita ini saling mencintai.” Saya mengangguk lagi. Hujan semakin besar. Bergemuruh.
“Sudah...! Sudah...! Jangan manja!” kata sosok yang lewat di samping kami. “Sebentar lagi waktunya berpisah bagi kalian!”
Saya dan dia saling memandang.
“Siapa?” tanya saya.
“Mungkin Izroil,” jawab dia. “Sang pencabut nyawa itu.”

Saya menangis. Hujan masih deras. Suaranya bergemuruh. ***

Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni