DELMAN

cerpen yus r. ismail

Gerimis. Adzan Isya lima menit yang lalu. Sepi. Suara jengkrik, cihcir, gaang, caricangkas, dan binatang malam lainnya. Semakin sepi. Tidak ada suara-suara manusia. Saya duduk di kursi balkon loteng. Lampu-lampu kecil berkelap-kelip di depan rumah-rumah yang saling berjauhan. Pos ronda membeku kedinginan. Suasana kampung.
“Sebenarnya bukan karena di kampung, Pak,” kata Mang Dhipa, tatangga paling dekat, kira-kira dua ratus meter jaraknya, tadi pagi saat saya mampir ke rumahnya sebelum ia pergi ke kebun.
“Sudah tiga hari di sini, tapi setiap malam sepi sesepi-sepinya, kata saya.
“Biasanya Pak, pos ronda selalu ramai.”
“Kenapa selama saya di sini selalu sepi? Juga di pos ronda.”
“Yaitu, Pak, sudah hampir sebulan begitu keadaannya. Orang-orang tidak berani meronda karena sering ada yang menyambangi.”
“Menyambangi? Siapa?”
            “Delman.”

Sampai malam ketika saya duduk di kursi balkon loteng, saya tidak mengerti apa yang dikatakan Mang Dhipa. Tapi waktu saya masuk, menutup pintu balkon, terus ke kamar mau meneruskan menulis dongeng yang belum selesai, baru saya mengerti maksud Mang Dhipa.

Sayup-sayup suara delman. Ketoplak telapak kaki kuda, suara kuda, huss... huss... kusir, dan kling-klong kling-klongnya semakin jelas. Bulu kuduk berdiri. Bukan delman biasa. Ini kan kampung di kaki gunung yang jalannya naik turun, mana ada delman di kampung seperti ini?

“Kling-klong kling-klong... husss... husss... hhiiieeemmm...!” Semakin jelas semakin mencekam. Suara jengkrik, cihcir, gaang, caricangkas, entah ke mana. Binatang juga sepertinya tahu siapa yang datang. Laptop yang sudah menyala kumatikan lagi. Akhirnya saya sembunyi di bawah selimut sambil memasang telinga.

“Kling-klong kling-klong... husss... husss... hhiiieeemmm...!” Sepertinya di depan rumah delman itu melambat. Semakin berdegup ini jantung. Semakin bercucuk ini kulit. Kemudian delman itu melaju kencang lagi. “Kling-klong... kling-klong... husss... husss... hhiiieeemmm...!” Seperti yang berkeliling kampung.

Sebenarnya saya ingin mengintip, benar tidak suara itu delman? Tapi lutut tidak bisa diajak kompromi. Harus diakui saya ini penakut. Menyesal belum sempat belajar doa pengusir setan. Padahal ustadz Wahyu sering mengingatkan. “Setan gentayangan itu ada di mana-mana, Kang,” katanya.

Ya, delman itu bisa jadi utusan dari kerajaan setan. Kata dongeng, delman seperti itu pertanda ada orang yang akan dijemput. Orang yang bersekutu dengan setan tentunya. Orang itu mendapat kekayaan yang melimpah, tapi setelah waktu yang dijanjikan jiwa orang itu dibawa ke kerajaan setan. Di sana, di kerajaan setan, katanya orang seperti itu dijadikan pesuruh, batako untuk bangunan, atau kesed yang selalu diinjak. Kalau betul seperti itu, menjemput siapa delman itu?

Hanya berselang beberapa menit, delman yang berkeliling kampung itu terdengar lagi. Berhenti di depan rumah. Hanya setarikan napas, rumah bergoyang, seperti ada gempa. Lampu gantung berayun-ayun. Suara ketukan pintu.

 “Tok...tok... tok...!”

Jangankan membuka pintu, mengintip dari celah selimut juga tidak saya lakukan. Hati ini inginnya meloncat melalui pintu jendela, kabur ke rumah Mang Dhipa. Suara pintu dibuka. Rekkeeettt...! Saya semakin menciut di dalam selimut. Belum pernah saya berjanji dengan setan. Berkomunikasi, bertatap muka saja belum pernah. Kenapa datang ke sini? Rekkeeettt...! Pintu kamar juga ada yang membuka. Selimut saya pegang semakin kuat. Mandi keringat.

“Bwaangnguunnn... euy! Juangan sembunyi guoblok...! Ngaaiingng tarik selimutnya baru nyahoo...!”

Suara yang kecil, tenge, cempreng. Setan apa suaranya seperti itu? Tidak mencekam, menakutkan. Selimut saya buka sedikit, intip. Deg...! Bukan terkejut takut. Tapi ingin tertawa. Si setan itu memakai mahkota di kepalanya, tangan kanan memegang tombak, tangan kiri memegang tameng. Tapi badannya hanya sebesar gelas, tombak sebesar lidi, tameng sebesar daun sirsak. Selimut saya lemparkan. Guoblok, rugi saya sudah takut dari tadi!

“Marrii... ngikut dengan ngngaaiingng...! Kamu sudah spakat perjanjian dengan boss ngngaaiingng...! Kamu bakal dijadikeun keset di karajaan ngngaaiingng...! Di tubuhmu bakal ditulisi: Well Come. Heuk..heuk..heuk...!”

“Sayanya juga tidak takut sekarang mah, euy!” kata saya sambil duduk di kasur. “Kamu tuh setan bangsa apa?”

“Ngngaaiingng bangsa yutul.”

“Tuyul mungkin.”

“Yutul goblok! Tuyul mah kakak tiri ngngaaiingng.”

Ingin tertawa mendengarnya. Tapi karena bahasanya yang kasar, saya ikut marah juga. “Sakali lagi bicara kasar, saya tendang kamu!” kata saya sambil berdiri, memperagakan Boas Salosa mau menendang penalti.

“Hey... hey... hey...! Kawan-kawan kararumpul... Ini manusia melawan...!” Si setan bangsa tuyul, eh yutul, itu malah bernyanyi, meniru pasukan buta dalam wayang golek yang dimainkan Ki Dalang Asép Sunandar Sunarya. “Marriii...! Kita kepung wakul buaya mangap...!”

Seperti bendungan yang dibuka pintu airnya, ribuan bangsa yutul, mungkin juga sampai jutaan, masuk ke kamar. Semuanya mengepung saya dan menyerang.

Lima menit kemudian saya sudah ada di dalam delman. Tangan dan kaki saya diikat. Pasukan tentara bangsa yutul yang berjumlah jutaan itu berbaris di belakang delman. Gerimis masih menyiramkan tiris, dingin. Delman maju di jalan datar, karena ternyata jalannya di udara.

“Kling-klong... kling-klong... husss... husss... hhiiieeemmm...!”

@@

 Perlu saya ceritakan sedikit, takut pembaca salah mengerti, lalu gosipnya menyebar ke mana-mana, bahwa saya pengikut setan yutul. Begini ceritanya: saya ini seorang pendongeng. Setiap hari mengunjungi kota-kota, desa-desa, daerah-daerah terpencil. Menurut pengalaman saya, sekarang ini orang-orang sangat membutuhkan dongéng. Agar hidup tidak tersesat. Di setiap tempat saya selalu dikelilingi banyak orang. Tidak hanya anak-anak. Para remaja, dewasa, kakek-nenek, buruh tani, buruh pabrik, pejabat pemerintahan, guru, pedagang, profesional, semuanya mendengarkan dongeng saya. Cerita-cerita klasik, cerita rakyat, cerita dalam bentuk yang lebih kekinian; novel, cerpen, puisi, pernah saya dongengkan. Habis semuanya. Akhirnya saya berkesimpulan; saya harus mengarang dongeng sendiri.

“Kalau butuh tempat untuk mengarang dongeng, pakai saja rumah saya,” kata seorang sahabat waktu tahu saya mau mengarang dongeng. Tidak akan saya sebutkan nama sahabat itu. Takut menjadi aib. Dia adalah seorang pejabat di pemerintahan, aktivis di banyak organisasi, pengurus partai besar, pemilik saham di banyak perusahaan.

Tidak akan saya ceritakan pengalaman di kerajaan bangsa yutul. Tidak penting di cerpen ini. Jelasnya, pasukan penjemput bangsa yutul itu salah sasaran. Ciri-ciri yang diberikan Raja Yutul memang sudah benar. Jemput orang yang mempunyai rumah bertingkat dua di sebuah kampung, di depannya ada pohon hieum. Tapi Raja Yutul itu tahu saya orang yang salah.

Waktu saya dikembalikan lagi ke rumah, malam sudah menjelang subuh. Waktu itu juga saya menghubungi sahabat pemilik rumah ini. Dia terkejut. Katanya semalaman dia tidak bisa tidur. Padahal pil tidur sudah sejak sore ditelan. Gelisah. Seperti ada yang mengejar-ngejar.

“Ke sini sekarang, ada yang ingin saya ceritakan, penting,” kata saya.

Pukul tujuh pagi sahabat saya itu datang dengan sedan SUV yang harganya miliaran rupiah. Saya ceritakan semua pengalaman semalam. Dia termenung.

“Nah, saran saya, tebang pohon itu, biar utusan penjemput dari bangsa yutul itu tersesat,” kata saya. “Setelah itu kita ke ustadz Wahyu, kita belajar caranya bertobat, kita bertobat bersama. Dosa saya juga perasaan sudah menggunung.”

Sahabat saya itu masih termenung. “Kalau pohon itu ditebang, kiamat buat saya. Kekayaan dari setan itu akan dibawanya lagi,” katanya mengeluh. “Rumah-rumah bisa terbakar tiba-tiba. Pacar, selir, istri simpanan, semuanya pergi. Mobil mewah, kebun, kolam, perusahaan, surat-surat berharga, semua disita oleh KPK.”

“KPK Komisi Pemberantasan Korupsi? Apa hubungannya? Apa setan bangsa yutul itu dengan KPK sekongkol?”

“Bukan begitu. Setelah saya melakukan perjanjian dengan setan bangsa yutul itu, saya langsung diangkat jadi kepala bidang di instansi tempat saya bekerja. Kekayaan mulai mengalir tidak terbendung. Proyek ini proyek itu dipercayakan kepada saya. Jabatan terus naik. Perusahaan-perusahaan tersembunyi saya dirikan, menampung proyek-proyek pemerintah. Partai-partai berusaha menarik simpati saya. Setelah perusahaan di mana-mana, partai dikuasai, populer, jabatan tinggi, ingin apa-ingin apa tinggal negosiasi dengan yang setingkat.”

Saya mengangguk-angguk tapi tidak mengerti.

“Kalau pohon itu ditebang, hilang semua kekayaan. Saya sendiri, bisa jadi dipenjara, ditangkap KPK.”

“Tapi lebih baik dipenjara di sini, di alam manusia, apalagi kemudian tobat, terus tobat. Kalau pohon itu tidak ditebang, akhirnya kamu akan terlacak juga. Kamu jadi batako pengganjal tembok, atau kesed yang diinjak setiap waktu. Iiyy...!”

Dia termenung. Sampai kemudian pulang, dia tidak bicara sepatah kata pun. Saya juga lalu beres-beres, mau meneruskan perjalanan ke tempat-tempat yang belum dikunjungi.

Suatu pagi di sebuah kampung di pinggir hutan, ada sebuah delman lewat. “Kling-klong... kling-klong... husss... husss... hhiiieeemmm...!” Panumpangnya... ternyata sahabat saya, melamun, menatap ke kejauhan.

Sejak itu saya tidak pernah bersapa dengan sahabat itu. Meski dalam sebuah acara Mendongeng Nasional dia yang membuka acara dan saya pengisi acara. Ya, karena sekarang dia bukan sahabat saya lagi. Dia sekarang semakin sibuk di tv-tv, di koran-koran, di radio-radio, di internét. Tapi jiwa dia kan sudah dijemput ke kerajaan setan bangsa yutul itu, jadi keset atau batako pengganjal tembok. @@@

 Kepung wakul buaya mangap (peribahasa Sunda) = mengepung dengan banyak orang dan bersenjata lengkap

Ngaing (dari aing) = saya, aku                    

            hieum = terlalu lebat daunnya, seram 

Cerpen ini pernah dimuat kompas.id, 30-11-2019, yang ingin menengoknya ini linknya:

CERPEN DELMAN

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "DELMAN"