Jejak Kata :
Home » » Puisi Suara Karya: SAJAK DARI PEMATANG SAWAH

Puisi Suara Karya: SAJAK DARI PEMATANG SAWAH

Written By Mang Yus on Jumat, 05 Agustus 2016 | 18.44

Puisi Suara Karya
Suara Karya, 1 Oktober 1995

SAJAK DARI PEMATANG SAWAH

mengikuti langkah anak-anak di pematang sawah
berjilbab dan berkopiah menenteng Qur’an
aku terluka oleh waktu yang jadi hinis
dan menorehkan luka demi luka.
airmata dihembuskan cuaca. dan pengakuan
jadi kubah yang membasuh setiap hadas.
aku rindu, ya Tuhan, memandang bulan
yang tersenyum setiap nadoman dinyanyikan tergesa
oleh mulut-mulut kecil dari tajug.

tapi rindu tak cukup jadi air pancuran
untuk mengompres jiwa yang gerah dan lelah
bersujud di sajadah tak menuntaskan
penyesalan yang memborok di sepanjang perjalanan.

anak-anak seperti belaian angin sawah
atau bening air kolam
hanya milik masa lalu, ya masa lalu.

Februari 1995

hinis = sembilu
tajug = surau



RUMAH SAKIT

geletar tembok dingin mengabarkan kepadaku
bahwa jarak ke ruang mayat tidak ada ukuran
setiap tarikan nafas hanya tanda dari kefanaan
ketenangan seperti apa yang dipunyai Ismail?

di kepalaku masa lalu menjadi televisi
yang menyetel film sadis atau film biru
aku dikejar gadis-gadis yang menawarkan mimpi
sambil membuka paha dan dada
airmata siapa yang membeku di diskotik dan lokalisasi?

kereta mayat yang baru mengantarkan tumpangannya
membeku dalam pikiranku. lorong-lorong senyap
mengabarkan waktu yang selalu bergerak
sunyi siapa yang mencekam
dan menebar seperti udara?

1994/1995



AKU MABUK 2

: kukeringkan laut tapi tak kutemukan birunya

menenggak dua botol anggul di musim dingin
hanya mempertegas sunyi. hati yang gelisah
telah dibawa berjuta reklame. dan airmata
membeku di etalase. sesungguhnya
hidup hanya menimbun kekalahan dengan kemenangan,”
kata orang-orang.

maka perih dan derita tak ada di kamus-kamus
luka jadi semacam rajah yang dipertontonkan
lewat orang-orang terpinggir dan dipinggirkan
tergusur dan digusur, tercampak dan dicampakkan

menenggak dua botol anggur musim dingin
hanya mempertegas sunyi. mempertegas
ketidakberdayaan yang jadi slogan kepahlawanan


Desember 1994  

Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni