Jejak Kata :
Home » » Puisi Pikiran Rakyat: DUNIA PEDAGANG

Puisi Pikiran Rakyat: DUNIA PEDAGANG

Written By Mang Yus on Minggu, 16 Oktober 2016 | 12.00

Puisi Yus R. Ismail

Pikiran Rakyat, 10 Oktober 1999

Lim siu berdagang ke seluruh dunia,
sepanjang usia, menawarkan segala.
Memang semakin laris tapi dagangannya tak pernah habis
“Masih ada kantor ada diskotik ada swalayan
ada bayi ada segala yang bisa dijual,” katanya.
Begitulah Lim, si pedagang yang tak punya apa-apa,
tak bisa merasakan angin berhembus matahari bersinar
laut berombak, karena semuanya sudah dilelang.
Lim selalu merasa kaya padahal tak punya apa-apa.
Sepanjang jalan, sepanjang usia, Lim menawarkan bumi
menawarkan air menawarkan hati.
“Masih ada lembaga HAM, partai politik,
LSM, kejaksaan, senjata gelap, ekstasi,
stok baru!” teriak Lim.
Kita tahu, yang ditawarkan Lim hanya rongsokan
hujan tanpa gigil, burung tanpa kicau,
bar tanpa minuman, badan tanpa jiwa.

Kita memang pernah menjadi pedagang
yang menjual segala tanpa membeli.

1999, Bandung


SEMINAR TENTANG NEGARA

“Organisasikan kejahatan,” kata sejarah
Maka aku belajar membunuh dan mencuri
dengan perasaan kebenaran dan keharuan
Tapi bank, hutan yang ditebang, bumi yang digali
hanya cukup untuk sarapan pagi.
Perutku terus keroncongan meminta isi.
“Kekenyangan adalah kematian,” kata seniorku.
Sebagai pengelola negara, aku belajar jadi multipora
yang melihat apapun tak lebih dari mangsa.

1999, Jakarta



DURI

Duri, namun duri, selalu menghalangi

Burung hantu bernyanyi sambil memandang bulan
dengan mata berkaca. “Ah, burung hantu tak sadar
padahal dia bisa melihat malam,” kata ular
yang melata menyusuri hari dengan keceriaan matahari pagi
Baginya duri seperti suara anak mengaji.
Waktu itu bintang sedang menangis karena sinarnya dicuri.
“Ah, bintang tak tahu bahwa setiap jiwa punya cahaya,”
kata kunang-kunang yang terbang menerobos kegelapan
seperti air yang setia mengalir ke lautan hati.

Di tempat lain, sebuah buku puisi memandang kisah lama
sambil mengisap ganja. Dia gelisah. “Apa memang ada
duri seperti nyanyi sunyi dan sakit seperti anak mengaji?”

1999, Bandung


Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni