Jejak Kata :
Home » » RANTAI MAKANAN

RANTAI MAKANAN

Written By Mang Yus on Rabu, 19 Oktober 2016 | 16.03

Puisi Yus R. Ismail
Pikiran Rakyat, 31 Januari 1999

Lumut dimakan udang
tapi udang selalu lapar.
Udang dimakan ikan
tapi ikan selalu lapar.
Ikan dimakan kucing
tapi kucing selalu lapar.
Kucing dimakan saya
tapi saya selalu lapar.
Saya dimakan sunyi.
Semuanya dimakan sunyi.
Kata preesiden, kalau masih lapar
makan saja Negara.
Tapi saya selalu lapar
meski telah menyedot lautan airmata
mengunyah peta-peta dan bola dunia.
saya tak yakin akan kenyang
meski tata surya telah dimasak koki
untuk sarpan pagi.

Anak-anak gelandangan menertawakan saya
sambil bernyanyi riang:
“Kamu tak tahu, kalaparan
adalah kekenyangan kita.
Kelaparan dimakan kekenyangan
tapi kekenyangan selalu lapar….

Bandung, April 1998


DRAMATIS

Dari apa kau buat airmata
sehingga kaki menyeret lelah
begitu kekal?
Bukankah matahari mengajarkan
bahwa awal dan akhir tidak ada batasnya?
Bukankah bunga
memberi keindahan sekali berarti?
Ah, kaukah itu yang berjalan
tanpa tujuan
yang menangkap angin sebagai sunyi
Di mana muara airmata
saat hidup begitu mengharukan?

Bandung, April 1998


SURAT

Kepada yang terhormat sunyi
Apa kabar tahajud?
Begitu lama kita tak jumpa.
Sujudku
telah dikemas kalengan.
Aku berharap
sekali waktu kita menikmati bersama.
Tapi aku ragu karena rinduku
dicuri nyanyian
sehingga milikku
yang paling berharga itu
melayang-layang dari cd ke mikropun
ke kaset-kaset

Kepada yang terhormat sedih
Ajari aku bagaimana menyusun airmata
menjadi lautan sajadah
menjadi kenikmatan abadi itu

Bandung, April 1998


SEKOLAH

Di kota dan desa aku sekolah
Angin + laut = sunyi
Bu guru marah. Dari matanya
keluar mobil dan gedung.
“Cium saya!” perintahnya
Aku tak mau karena kata ibu
itu tak pantas.
Teman-temanku berebut menerkam
bu guru. Suaranya begitu ngeri
tapi kadang indah.
“Kamu tidak tertarik?”
kata bu guru yang melayang
mengitari langit, melahirkan televise,
listrik, kulkas, bioskop, hotel, dan apa saja.
Dadaku berdegup kencang. Ingin aku mencium
bibirnya yang sensual.
Tapi aku ingat Ibu,
Ibu, di mana Ibu? Pergi ke mana Ibu?


Bandung, April 1998 

Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni