Jejak Kata :
Home » » KAKEK DAN BUNGA DAHLIA

KAKEK DAN BUNGA DAHLIA

Written By Keluarga Semilir on Senin, 16 Januari 2017 | 09.29

Cerpen Majalah Esquire
Majalah ESQUIRE, Desember 2016

Kakek itu hampir setiap pagi duduk di bangku taman kota. Matanya menatap hamparan rumpun bunga dahlia yang tertata rapi di depannya. Tatapan yang termasuk khusuk saya kira. Karenanya kakek itu tidak perduli dengan yang terjadi di sekitarnya. Orang-orang berjalan di paving blok yang membelah taman, seekor kucing liar kencing di kaki bangku taman, pedagang bubur ayam memukul-mukul mangkok, seekor lebah hinggap di kerah bajunya; luput dari perhatian kakek itu.


Tentu saja saya tahu pasti kejadian itu. Saya hampir setiap pagi melalui taman itu. Taman kota yang sepi dari pengunjung. Mungkin karena sepi itu si kakek leluasa mengumbar lamunannya sambil menatap bunga dahlia. Kenangan apa yang tersimpan di benaknya?
Saya sendiri hampir setiap pagi melewati taman kota itu karena selalu terburu-buru menuju tempat kerja. Dari rumah naik bis kota, berhenti di stopan sebelah kanan taman kota itu, dan memotong jalan dengan menyeberangi taman kota. Meski taman kota itu selalu sepi setiap pagi, tapi belum pernah saya mendengar ada kejahatan di sana. Mungkin karena sejak walikota baru terpilih, taman kota itu termasuk diperhatikan dengan menata tanamannya, kolam di tengahnya, para pedagang yang hanya boleh berjualan di luar pagar, dan satpol pp yang sering hilir mudik di sekitar taman. Bila sore tiba, taman itu ramai didatangi orang yang berjalan-jalan. Tapi pagi sampai siang, taman itu selalu sepi. Karena itu mungkin si kakek selalu datang pagi ke taman kota itu, memandang bunga dahlia sepuasnya, dan pulang siang menjelang sore.
Awalnya saya tidak begitu perduli dengan kakek itu. Tapi memandang bunga dahlia tanpa mengindahkan sekelilingnya, dari pagi sampai siang menjelang sore, hampir setiap hari; akhirnya langkah saya yang terburu-buru berhenti begitu saja. Saya lihat hp, waktu masuk kerja tinggal lima menit lagi. Mestinya saya berlari, menggesekkan kartu barcode pegawai, dan selamat tidak akan ditegur bagian kepegawaian. Tapi saya malah menghampiri kakek itu.
“Boleh saya duduk di sini?” tanya saya setelah berdiri di dekatnya.
Kakek itu melirik, lalu mengangguk, tapi kemudian meneruskan memandang bunga dahlia. Saya ikut memandangi bunga-bunga yang selalu mekar itu. Ya, baru saya sadari, bunga dahlia seperti tidak mengenal musim. Selalu ada yang mekar. Juga baru saya perhatikan, bunga dahlia ternyata berwarna-warni. Merah, ungu, putih, dan campuran warna-warna itu.
“Kek, ada apa sebenarnya?” tanya saya lagi.
Kakek itu tidak bereaksi, seperti yang tidak mendengar.
“Kenapa Kakek selalu memandang bunga dahlia seperti itu?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Apa yang Kakek pikirkan?”
“Tidak ada apa-apa.”
Sampai saya permisi, berdiri, kakek itu tidak bereaksi apapun seolah tidak ingin terganggu kekhusuan memandang bunga dahlianya.
**
Sampai di tempat kerja tentu saja saya kesiangan. Meski saya mengarang cerita yang bagus, tetap saja saya diperingati. Tidak apa-apa, karena ternyata pikiran saya juga sedang tidak perduli dengan masalah pekerjaan dan karir. Pikiran saya sudah tercuri oleh seorang kakek yang selalu memandang bunga dahlia. Apa yang sedang dipikirkannya? Bagaimana perasaannya?
Dari pedagang minuman yang mangkal di luar pagar taman, saya tahu rumah kakek yang bernama Simama itu. Suatu hari saat saya libur mingguan, saya mendatangi rumah Kakek Simama. Oh iya, saya kerja di sebuah klinik yang libur mingguannya tidak menentu. Kadang saya libur hari senin, kadang selasa, tergantung shifnya.
Kakek Simama tinggal sendirian. Kata tetangganya, kakek berusia tujuh puluh tahun itu selalu pergi pagi dan pulang sore sejak istrinya meninggal, beberapa bulan yang lalu. Waktu saya tanya kenapa Kakek Simama selalu memandangi bunga dahlia, tetangga itu bahkan tidak tahu kemana Kakek Simama pergi setiap harinya. Dia hanya memberi alamat adik Kakek Simama. “Bu Rosma, adik Kakek Simama, mungkin tahu kenapa kakek itu selalu memandang bunga dahlia,” katanya.


Bu Rosma termenung saat saya cerita tentang Kakek Simama yang selalu memandang bunga dahlia. “Ibu sangat tahu masa lalunya, karena Ibu termasuk yang dekat dengannya. Tapi tidak ada kenangan khusus tentang bunga dahlia. Kalaupun ada yang menjadi kenangannya adalah burung merpati pos,” kisahnya. “Dulu Kak Simama hobi memelihara burung merpati pos. Waktu dia jatuh cinta kepada seorang gadis berambut panjang, dia mengirim surat cinta yang diikatkan di kaki merpati pos. Tapi burung merpati pos itu malah hinggap di jendela kamar tetangga gadis berambut panjang itu. Kebetulan kamar itu juga milik seorang gadis yang kemudian mengambil surat. Gadis itulah yang kemudian menjadi istri Kak Simama. Ah, kisah percintaan jaman dulu.”
“Jadi tidak ada kenangan tentang bunga dahlia?”
“Ibu rasa tidak. Tapi tidak tahu setelah nikah. Siapa tahu Denria, anak tunggal Kak Simama, mengetahuinya. Ini nomor teleponnya.”
Denria tinggal di luar kota. Katanya dia hanya bisa mengunjungi bapaknya sebulan sekali. Waktu saya ceritakan tentang bapaknya yang selalu memandang bunga dahlia dari pagi sampai siang menjelang sore, Denria tidak bisa menduga apa yang dipikirkan bapaknya.
“Kalau kenangan tentang bunga dahlia, saya rasa tidak ada,” kata Denria di telepon. “Tapi bila berkenaan dengan cita-cita tidak tahu juga. Bapak dulu bercita-cita ingin mempunyai peternakan kelinci. Tapi karena sibuk bekerja, cita-citanya itu tidak kesampaian. Setelah pensiun, entah kenapa Bapak juga tidak beternak kelinci. Di belakang rumah Bapak malah memelihara ayam. Ayam serama dan ayam ketawa, jumlahnya sampai berpuluh-puluh ekor.”
“Sekarang masih ada ayam-ayam itu?” tanya saya.
“Semuanya sudah dijual sejak Mami saya meninggal. Mungkin Bapak sebenarnya melamunkan ingin mempunyai peternakan ayam yang lebih besar, yang di depan peternakan itu dihiasi dengan bunga-bunga dahlia. Mungkin.”
“Terima kasih Mas Denria. Maaf sudah mengganggu.”
“Ya, sama-sama.”
**
Setiap pagi, setiap terburu-buru menyeberangi taman kota, saya selalu menengok Kakek Simama yang duduk di bangku yang sama, posisi yang sama, dan memandang bunga dahlia dengan cara yang sama. Sambil berjalan tergesa saya masih sempat bertanya di dalam hati. Apa yang sedang dipikirkan Kakek Simama?
Suatu hari saya sengaja berangkat kerja lebih awal setengah jam dari biasa. Begitu saya lihat Kakek Simama sudah duduk di bangku taman sambil memandang bunga dahlia, saya menghampirinya.
“Boleh saya duduk di sini?” tanya saya setelah beridiri di dekatnya.
Kakek Simama melirik saya, mengangguk, lalu meneruskan lagi memandang bunga dahlia.
“Apa yang sedang Kakek pikirkan?” tanya saya pelan di dekat telinganya.
“Tidak ada,” jawabnya, juga pelan, tanpa melirik.
“Apa ada kenangan khusus dengan bunga dahlia?”
“Tidak ada.”
“Kenapa Kakek memandang bunga dahlia seperti itu?”
“Hanya senang saja.”
Sampai saya berdiri dan pergi, Kakek Simama tidak lagi melirik saya. Saya rasa saya harus segera melupakannya. Tidak baik terlalu ingin tahu pikiran orang lain, meski orang itu melakukan hal yang tidak biasa. Mulai besok saya harus melalui jalan lain menuju ke tempat kerja.
**
Seminggu setelah saya selalu memakai angkutan kota agar bisa berhenti tepat di depan kantor, saat istirahat makan siang, ada tamu yang ingin bertemu saya. Ada lima orang tamu.
“Pak, maaf saya mengganggu,” kata tamu yang seorang. “Kami berlima ini sebenarnya tidak saling mengenal sebelumnya, tapi punya tujuan yang sama ingin bertemu Bapak. Kami mendengar kabar, Bapak tahu banyak tentang kakek yang selalu memandang bunga dahlia di taman kota. Kami ingin tahu, kenapa kakek itu selalu memandang bunga dahlia seperti itu? Apa yang sedang dipikirkan atau dilamunkannya?”
**


Cilembu, 21 Maret 2016         

Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni