Jejak Kata :
Home » » "MASALAH PENGARANG" dan "MASALAH CALON PENGARANG"

"MASALAH PENGARANG" dan "MASALAH CALON PENGARANG"

Written By Keluarga Semilir on Rabu, 30 Agustus 2017 | 11.02


Seorang kenalan selalu bilang ingin belajar menulis cerpen. Kadang dia berbicara cerpen-cerpen sastra. Dia menyebut Seno Gumira Adjidarma, Agus Noor, Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, dan banyak lagi, lengkap dengan cerpen-cerpen mereka. Kadang dia berbicara cerpen-cerpen remaja, menyebut Asma Nadia dan banyak pengarang FLP (Forum Lingkar Pena) lengkap dengan karya mereka. Kadang dia bercerita cerpen-cerpen anak yang banyak dimuat majalan Bobo, Ummi, dan banyak lagi.
Saya seringkali hanya menjadi pendengar. Hanya sesekali menanggapi bila dirasa sangat perlu. Ya, karena awalnya saya sangat antusias menanggapi “keinginannya belajar menulis cerpen”. Tapi saya merasa bertepuk sebelah tangan. Dia mungkin tidak mempercayai saya meski tahu cerpen saya pernah dimuat banyak koran dan majalah. Jadi saya tidak berlanjut mengajaknya “belajar bersama” dan menghadapi “permasalahan pengarang” bersama.
Dia pernah bilang seperti ini: “Saya ingin mengikuti workshop profesional yang berbayar satu setengah juta rupiah,” katanya sambil memperlihatkan brosur. Pembicaranya di brosur itu ada Asma Nadia, Habiburahman, Tere Liye. “Ini profesional. Uang kan tidak akan membodohi,” katanya lagi.
Sebagai orang yang tidak pernah profesional seperti itu, tentu saja saya hanya tersenyum. Ada beberapa orang yang pernah belajar kepada saya. Bertemu secara tidak rutin, kadang kontak lewat medsos yang tidak berjadwal (kadang terhambat karena saya lagi banyak kerjaan kadang karena dia lagi males nulis). Beberapa kali karangannya dimuat majalah dan koran. Saya rasa dia sudah bisa melanjutkan sendiri. Kalaupun masih kontak, ya membahas “masalah pengarang” itu.


Kenalan saya yang ini, tidak seperti itu. Dia tidak ingin belajar bersama saya karena tidak profesional, bicara menggebu tentang banyak pengarang dan cerpennya, semangatnya begitu tinggi untuk menjadi pengarang. “Saya juga pasti bisa menulis seperti mereka!” katanya.
Tentu saya juga hanya tersenyum menanggapinya. Ya, karena aslinya dia sering menghindari “masalah pengarang”. Dia baru berkutat pada semangat “calon pengarang”. Setiap ditanyakan hasil karyanya, dia akan bicara panjang tentang banyak karya orang lain. Karyanya sendiri sepertinya memerlukan waktu berbulan-bulan untuk dituliskan. Dipikirkan harus sangat matang, dituliskan dengan direnungkan kalimat per kalimat. Jadi perlu waktu lama untuk menyelesaikan sebuah cerpen.
Itulah yang menjadikan saya seringkali hanya menjadi pendengar.
Sementara kenalan lain yang tertarik menulis cerpen, saya kasih tips awal: jadilah pencuri yang baik. Dia menulis cerpen anak. Katanya suka dengan sebuah cerpen tentang seorang anak yang menunggui padi yang mau dipanen. Dia pun menulis tentang anak yang mengawali menjadi pemerah susu sapi. Dengan proses “membaca”, lalu “menulis”, selalu ada cerpen untuk dibahas.
Begitulah, kadang banyak orang yang mengaku ingin belajar menulis tapi hanya sampai pada “masalah calon penulis”. Biasanya belajar ke sana ke situ ke sini, masuk perkumpulan ini-itu, ikut pelatihan ini-itu, tapi menyelesaikan satu tulisan pun butuh waktu berbulan-bulan. Lalu berkilah, “Produktif itu seperti pabrik, hanya menghasilkan karya yang kurang bermutu.”
Sementara “masalah penulis” itu ya bekerja keras membuat tulisan. Ngotot mempelajari cerpen yang ditulis orang lain, menganalisanya, dan menulis dengan caranya. Eksperimen dengan banyak hal juga kadang diperlukan. Setiap pribadi juga mengalami proses masing-masing. Bila menulis hanya satu-dua, bagaimana proses akan terjadi?
Apalagi bila mengingat bahwa menulis (terutama cerpen) bukanlah profesi yang ramah finansial, untuk saat ini, di sini, negeri Indonesia ini. Dari ribuan orang yang belajar menulis cerpen, mungkin hanya satu dua yang bisa lolos untuk menikmati dimuat media besar yang honorariumnya memuaskan (besar bayarannya, cepat dibayarkannya, dsb.) Karena sekarang ini mulai ada media besar yang untuk tembusnya begitu perlu kesabaran dan kerja keras, giliran dimuat honornya juga perlu diperjuangkan dengan menjadi debt-colektor dan itu pun belum tentu dibayarkan.
Ok. Sudah terlalu menyimpang. Nanti dilanjutkan “masalah pengarang” ini....
30-8-2017
   



Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni