Jejak Kata :
Home » » LAGU DAUN GUGUR

LAGU DAUN GUGUR

Written By Keluarga Semilir on Senin, 10 Juli 2017 | 16.39

Solo Pos, 18 Juni 2017

Masjid di pinggir jalan ini termasuk megah untuk ukuran masjid agung kecamatan. Terasnya luas. Halamannya luas. Pepohonan yang mungkin usianya sudah lebih seratus tahun berdiri gagah. Mahoni, flamboyan, caringin sudah berakar gantung.


Di teras masjid berjajar yang beristirahat. Di sudut ada yang sedang membaca Al-Qur’an. Ada juga enam orang remaja sedang membahas sesuatu. Di sebelah saya ada yang tiduran sambil memeriksa bon penjualan, sepertinya seorang seles.
Saya masih termenung sambil menatap ke kejauhan. Masih bingung. Apa sebenarnya yang saya cari? Dari sejak bakda subuh hati begitu gundah, ingin segera duduk di teras masjid ini. Tapi sekarang setelah terlaksana, merasakan segarnya angin semilir, menatap ke kejauhan, tidak ada pertanda apapun. Apa sebenarnya yang membuat hati ini begitu gundah?
Tas gendong saya buka. Buku-buku dikeluarkan. Kertas buram untuk curat-coret disiapkan dengan penanya. Buku-buku yang menumpuk itu saya ambil satu per satu, saya perhatikan. Semuanya tentang sejarah nabi Muhammad SAW. Ada karangan Muhammad Husain Haikal, Khalid Muhammad Khalid, Martin Lings, terjemah Al-Qur’an yang disertai tafsir At-Tabari, Ibnu Katsir, dan hadist mengenai ayat-ayat pilihan.
Sebenarnya saya sudah merasa cukup dengan referensi ini. Ini adalah pekerjaan tahun kemarin. Ada penerbit buku yang menghubungi saya, meminta naskah novel buat anak tentang nabi Muhammad SAW. Tentu saja saya menyanggupinya. Bukankah menulis kembali setelah hampir sepuluh tahun istirahat karena mengejar honornya?
Ya, sebenarnya baru setahun lebih saya menulis kembali. Itu juga karena terkena PHK dari pekerjaan. Menulis kembali tentu tidaklah mudah setelah berhenti sekian lama. Saya mulai dari menulis satu alinea, diam bermenit-menit, melihat kamus, membaca buku, menulis lagi satu alinea. Begitu seterusnya, sampai kemudian lancar lagi. Belasan cerpen saya tulis setiap bulannya. Kata orang saya adalah pengarang yang sangat produktif. Makanya kemudian ada order dari penerbit buku. Dulu sewaktu kecil, saya menulis karena hobi. Sekarang harus jujur karena mengejar honor. Orderan dari penerbit buku, tentu saja ditawari dengan uang muka. Katanya buat membeli buku-buku referensi. Karena dari dulu juga saya kolektor buku, referensi itu tidak terlalu banyak yang saya beli.
Masalahnya muncul setelah referensi saya baca, outlane dibuat, saya hanya termenung di depan komputer. Tangan sepertinya tidak tahu mesti memijit hurup yang mana. Tidak hanya berjam-jam. Setiap hari, saat duduk di depan komputer, saya tidak tahu apa yang mesti dituliskan. Padahal kalau saya menulis dengan tema lain, lancar seperti biasanya.
**


Suatu hari orang penerbitan itu sengaja datang ke rumah. Saya berkisah jujur, naskahnya belum selesai. Saya tidak bisa menyelesaikan naskahnya. Saya sendiri bingung mengapa terjadi seperti itu.
“Ini sudah hampir setahun sejak order itu, Mas,”  katanya seperti tidak percaya. “Mas ini kan di koran atau majalah begitu produktif,”
“Saya juga tidak tahu, mengapa naskah novel ini begitu susah dituliskan.”
“Padahal hanya 80 halaman saja, Mas,” katanya lagi. “Mungkin Mas..., naskah sejarah nabi, menulisnya harus... sudah rajin shalat.”
“Sudah belasan tahun saya shalat tidak sekedar yang wajibnya.”
Akhirnya kami sama-sama bingung. Buat saya, pengalaman ini adalah sesuatu yang aneh selama saya jadi pengarang. Setelah teman dari penerbitan buku itu pulang, saya segera membuka-buka lagi buku referensi, outlane yang pernah dituliskan, dan naskah yang sudah dipaksa dituliskan.
Ingatan saya melayang ke hampir setahun lalu saat order ini mulai dikerjakan. Ada sesuatu dalam ingatan dan perasaan saya di teras masjid ini. Makanya hati ini begitu gundah, ingin segera duduk di teras masjid ini. Tapi sekarang setelah berada di teras masjid, saya hanya termenung.
Saya benar-benar terkejut saat melihat sehelai daun diterbangkan angin, berputar-putar di atas halaman masjid, lalu melayang perlahan dan jatuh di rambut saya. Daun kering itu saya pegang, saya usap-usap, saya tatap. Ya, begitu banyak ternyata daun gugur, melayang-layang, dan hinggap di haribaan bumi. Hanya daun ini yang hinggap di rambut saya.
Saya ingat, hampir setahun lalu, dari teras masjid ini, saya selalu melihat pemandangan yang indah. Seorang nenek memunguti daun-daun kering yang sudah berguguran itu, selembar demi selembar, lalu memasukkannya ke kantong pelastik.
Pemandangan itu mungkin yang saya cari. Saya teringat bagaimana indahnya wajah  nenek berusia tuju puluh lima tahun itu. Butiran air membasahi kulit pipi keriputnya. Pemandangan itu melekat di hati saya. Hampir setahun lalu, kemanapun saya pergi, begitu mendekati duhur saya segera ke masjid ini. Saya takut kehilanan kesempatan melihat si nenek memunguti daun-daun kering yang berguguran. Banyak orang yang sedang istirahat di teras masjid ini saling bertanya, mengapa nenek itu mesti memunguti daun-daun kering selembar demi selembar, mengapa tidak disapu saja. Kata mereka, kasihan si nenek kalau daun-daun kering itu mesti dipungut selembar demi selembar. Tapi saya merasa mengerti, merasa mengerti mengapa daun itu diambil selembar demi selembar.  
Rasa kasihan orang-orang itu mungkin terdengar juga oleh pengurus masjid. Besoknya daun-daun kering yang berserakan di halaman itu disapu, dimasukkan ke tong sampah. Bakda solat duhur, saat istirahat di teras, saya melihat halaman masjid sudah bersih. Saya terkejut ketika dari dalam masjid terdengar orang menangis, menghiba, mengeluh, mengapa daun-daun kering itu disapu. Orang-orang yang sedang istirahat di teras memburu ke dalam masjid. Ternyata si nenek sedang bersimpuh sambil menangis. Besoknya pengurus masjid tidak berani lagi menyapu daun-daun kering yang berguguran.
Ya, saya yakin sekarang, pemandangan nenek memunguti daun-daun kering berguguran itu yang saya cari. Tapi sampai adan ashar kemudian berkumandang, saya tidak melihat pemandangan itu. Hampir setahun lalu, sebelum adzan ashar si nenek sudah selesai memunguti daun-daunnya.
**


Besoknya, bakda shalat duhur, saya menghampiri merebot. Bapak berkopiah hitam itu memandang saya lekat sekali setelah saya menanyakan si nenek yang suka memunguti daun-daun gugur itu.
“Baiknya ke Pak Ustad saja nanyanya,” katanya, lalu mengajak saya ke kantor masjid.
Pak Ustad yang juga Ketua DKM itu menatap saya lama sekali. “Mengapa menanyakan nenek itu?” tanyanya.
“Saya... saya seperti yang kangen melihatnya memunguti daun-daun gugur.”
Pak Ustad menarik napas panjang. “Awalnya pengurus masjid tidak mengerti dan merasa kasihan mengapa nenek itu memungut daun-daun gugur selembar demi selembar. Tapi waktu daun-daun gugur itu disapu, nenek itu menangis, lalu menceritakan apa yang dilakukannya,” kisah Pak Ustad. “Katanya, tidak apa Ustad tahu, asal jangan diceritakan kepada siapapun. Nanti saja kalau Nenek sudah tidak ada baru boleh ceritakan kepada yang mencari tahu apa yang Nenek lakukan.”  
Saya mendengarkan dan hanya mendengarkan.
“Sekarang Nenek itu sudah menghadapNya. Jadi tidak masalah saya menceritakan apa yang dilakukannya. Utamanya kepada orang yang mencari tahu seperti Bapak.”
Pak Ustad menarik napas panjang sambil menatap ke kejauhan.
“Kalau diringkaskan apa yang dikatakan Nenek itu seperti ini: Nenek ini orang bodoh, Ustad. Ibadah Nenek yang tidak seberapa itu juga tidak tahu benar atau tidak. Nenek takut celaka di akhirat. Makanya Nenek memunguti daun-daun gugur. Setiap selembar daun dipungut Nenek menjikirkan salawat. Hanya oleh syafaat Kangjeng Nabi, oleh cinta Kangjeng Nabi, Nenek merasa berani menghadapNya. Daun-daun gugur biar menjadi saksi salawat Nenek, biar Nenek nanti berada di barisan pengikut Kangjeng Nabi.”
Saya menatap Pak Ustad dengan hati yang bergetar. Itu yang belum ada di hati saya. Menceritakan Kangjeng Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya dengan data-data. Tapi yang utama adalah hati yang rela merendahkan diri, mengakui ibadah yang tidak seberapa, rasa cinta yang tulus dan ikhlas.
Setelah berdiam beberapa saat, saya berkata dengan suara bergetar, “Saya berharap, daun-daun gugur itu tidak disapu...”
“Mengapa?” Suara Pak Ustad juga tidak kalah bergetarnya.
“Saya yang mau memungutinya.”
Pak Ustad memeluk saya erat sekali. Ke pundak saya terasa ada butiran air yang jatuh. Sepertinya airmata Pak Ustad. **

Menjelang Ramadhan 1437 H


Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni