Jejak Kata :
Home » » LELAKI YANG MENCARI KEINDAHAN

LELAKI YANG MENCARI KEINDAHAN

Written By Mang Yus on Selasa, 27 September 2016 | 11.50

Cerpen Harian Sultra
Harian Rakyat Sultra, 26 September 2016
Orang asing itu memasuki gerbang kota saat pagi mulai bangun. Matahari menyebarkan semburat merah di langit timur. Lalu dedaunan yang masih menyimpan embun menyerap cahayanya menjadi keindahan yang sulit diceritakan. Angin semilir menjadikan dedaunan seperti jutaan berlian di baju keagungan.
Tapi bukan keindahan pagi itu yang membuat penduduk kota keluar rumah dan terpana di terasnya masing-masing. Keindahan pagi sudah biasa bagi mereka. Keindahan pagi tertutup di mata dan hati mereka. Yang membuat penduduk kota itu terpaku di tempat berdirinya adalah mata orang asing itu.
Sudah puluhan tahun, atau mungkin sepanjang hidupnya, mereka tidak melihat dan merasakan keindahan begitu cemerlang seperti keindahan di mata orang asing itu. Mata yang bulu-bulunya panjang dan lentik menghiasi bening bola matanya yang bercahaya. Mata yang seperti bibir selalu tersenyum. Mata yang pas ukuran, mancungnya, dan warnanya di wajah orang asing itu. Orang asing yang begitu tampan. Orang asing yang seluruh tubuhnya seperti perpaduan paling sempurna menurut selera kecantikan di penjuru manapun di dunia.
Setelah orang asing itu lewat, penduduk kota kecil itu mulai berbisik-bisik di antara mereka.
“Mata seperti itu, berkedipnya sanggup merubah apapun di sekelilingnya menjadi pemandangan indah,” kata salah seorang di antara mereka.
“Siapa yang bilang?” tanya yang lain, penasaran.
“Kamu kan melihat sendiri begitu indah matanya. Mata yang indah pastinya bisa melihat apapun menjadi indah juga.”
Perbincangan yang didengar semakin banyak orang itu terhenti. Semuanya melamun, membayangkan kembali begitu indah mata orang asing itu. Dan bila mereka mempunyai mata seindah itu, tentu hidup menjadi begitu berwarna, menyenangkan, menjadi begitu berbahagia.
**
Kota kecil itu adalah kota legenda. Awalnya adalah krisis moneter berkepanjangan. Inflasi tidak tertolong oleh kebijakan apapun yang terlambat itu. Harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Jangankan ikan-ikanan, daging-dagingan, buah-buahan, yang harganya tergantung di langit, beras dan ikan asin pun menjadi barang mewah yang harus dihemat. Kemudian banyak orang yang mencari penghidupan dengan cara tidak biasa. Mereka menangkap anjing-anjing liar, kucing-kucing liar, ular, tikus, dan menjualnya kepada pedagang kaki lima yang tidak sanggup lagi membuat sate atau gulai daging sapi atau domba.
Sementara banyak masyarakat yang hidup ngos-ngosan, para pengurus pemerintahan kota ramai-ramai menyelamatkan diri, menyelamatkan keluarga sendiri. Mereka mencari keuntungan dari proyek apapun, dari biaya apapun. Sehingga saat krisis menuju puncaknya, mereka masih bisa bersantai di villa-villa, berwisata ke luar negeri, shoping merk-merk terkenal dunia.
Fasilitas umum rusak di mana-mana. Tapi siapa yang perduli? Asal di rumah nyaman, tidak masalah di rumah tetangga menumpuk sampah. Kepedulian terhadap orang lain, apalagi makhluk lain, semakin menurun. Di antara mereka malah saling mengintip kelemahan. Lalu mereka saling mencuri, saling menerkam. Lambat laun mereka semakin sering menirukan anjing, menirukan kucing, menirukan ular, menirukan tikus. Wujud mereka memang masih manusia. Tapi gejolak di dalam dadanya, siapa yang tahu gejolak di dalam dada?
Ketika krisis itu mereda dengan pinjaman trilyunan dollar US dari negara-negara yang mengincar kekayaan alam kota itu, perilaku penduduknya ternyata tidak berubah. Rumah-rumah dibangun bagus. Tempat-tempat wisata ada di mana-mana. Fasilitas umum terus dibangun. Tapi mereka tidak bisa lagi melihat keindahan. Itu rahasia umum. Rahasia di antara mereka.
**
Sepi terasa menggigit ketika malam tiba. Kota seperti wilayah mati. Sudah bertahun-tahun seperti itu. Kemudian terdengar lolongan anjing. Lolongan yang diikuti oleh lolongan lainnya, puluhan lolongan lainnya, ratusan lolongan lainnya, ribuan lolongan lainnya, jutaan lolongan lainnya. Juga suara kucing. Kucing mengeong. Meong yang marah atau bernapsu untuk memperebutkan apapun atau merebut apapun. Juga suara desis. Desis yang licik, tidak perduli, membuat merinding bulu kuduk. Juga suara cericit. Cericit pengerat yang licik, penuh dayatipu, penuh taktik mencuri. Sampai subuh biasanya suara riuh seperti itu terdengar. Semuanya akan berhenti ketika adzan sayup-sayup berkumandang dari surau kecil di pinggir kota.  
Meski langit penuh dengan berbagai lolongan, meong, desis dan cericit, tapi jalan-jalan di kota itu terasa sepi. Satpam penjaga seperti mengunci diri di posnya masing-masing. Tidak ada seorang pun yang berani berjalan-jalan atau menikmati malam. Lagipula, apa yang bisa dinikmati dari malam? Penduduk kota itu sudah tidak bisa lagi melihat keindahan. Begitu rahasianya.
Tapi malam itu memang berbeda. Suara lolongan, meong, desis dan cericit, kemudian diikuti oleh tergesanya orang-orang keluar rumah. Mereka tidak lagi merasa malu diketahui tetangganya, saudaranya, atau kenalan lainnya, bahwa mereka biasa melolong, mengeong, berdesis dan bercicit. Mereka berombongan memenuhi jalanan, berjalan menuju batas kota.
Tujuan mereka adalah sebuah gubuk kecil di pinggir kota. Gubuk kecil yang hanya diterangi lampu tempel dan cahaya rembulan. Gubuk kecil yang di depannya ada taman bunga yang indah. Mawar, sedap malam, herbras, dipagar bunga bakung yang cemerlang di bawah sinar rembulan. Gubuk yang di dalamnya ada orang asing sedang beristirahat.
Taman bunga itu hancur ketika rombongan penduduk kota itu datang. Rumpun bunga mawar dicabut dan dilemparkan. Sedap malam, herbras, bakung, diinjak-injak. Pak walikota yang menjadi pemimpin rombongan itu menggedor pintu. Orang asing yang sedang istirahat itu mengambil lampu senter, lalu mengintip dari celah gorden. Tapi belum terlihat jelas siapa yang bertamu, pintu itu jebol ditarik rombongan orang yang kemudian melolong, mengeong, mendesis dan mencicit ramai sekali. Orang asing itu ditangkap. Lalu matanya dicongkel menggunakan sendok.
**
Pak walikota mencoba mata orang asing itu. Mata itu kekecilan di kelopak pak walikota yang besar. Pak walikota memandang sekeliling. Pepohonan, langit, rembulan, bintang-bintang, beningnya air kolam, ikan-ikan koi; tidak ada yang berubah. Mata orang asing itu tidak bisa mengubah pemandangan menjadi indah. Isu itu bohong. Isu yang mengatakan bahwa mata indah orang asing itu bisa mengubah pemandangan menjadi begitu indah adalah bohong belaka.
Mata itu lalu dicopot dengan perasaan geram. Pak sekda kemudian mencoba. Tapi hasilnya juga sama. Kemudian pak kepala dinas, ibu kabid, ibu camat, pak lurah, dan semua penduduk kota itu mencoba. Tapi hasilnya sama. Mata indah itu tidak bisa mengubah pemandangan menjadi indah.
Pak walikota marah. Sepasang mata indah orang asing itu dilemparkannya ke dalam periuk besar. Lalu digodok. Segala bumbu dimasukan. Mereka membuat gulai. Gulai sepasang mata indah orang asing itu. Menjelang subuh gulai itu matang. Lalu mereka makan bersama. Berbakul-bakul nasi dibawa ke jalanan.
Pak walikota merasa puas. Semua penduduk kota itu merasa puas. Gulai itu ternyata enak sekali. Gulai terenak yang pernah mereka makan. Gulai yang tidak bisa dibandingkan enak dan gurihnya dengan gulai anjing, gulai kucing, gulai ular, gulai tikus. Apalagi dengan sekedar gulai sapi atau gulai domba.
Mereka saling mengacungkan jempol. Bersendawa. Lalu melolong bersama. Mengeong bersama. Mendesis bersama. Mencicit bersama. Lalu mereka tertidur. Mereka tidak tahu, kelak setelah mereka terbangun, penglihatan mereka akan berubah. Mereka akan melihat pak walikota, pak sekda, saudara-saudara mereka, kenalan-kenalan mereka, mereka sendiri, berubah wujud. Badannya manusia. Tapi kepalanya ada yang jadi anjing. Ada yang jadi kucing. Ada yang jadi ular. Ada yang jadi tikus.
Begitu legendanya.
**
Dan orang asing itu. Orang asing yang terkejut itu. Kali ini tersenyum. Tersenyum di depan gubuk kecil itu. Tersenyum melihat pemandangan begitu indahnya. Pemandangan terindah yang pernah dirasakannya. Pemandangan terindah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Juga dengan gambar dan warna. Dia merasa, tidak akan ada penyair atau pelukis yang sanggup mengungkapkan keindahan seperti itu.
Orang asing itu sebenarnya salah seorang dari penduduk kota itu. Konon, sebelum kota itu berubah, orang asing itu mendapat bisikan dari dalam hatinya. Bisikan bahwa kota itu akan berubah. Dia tidak mau ikut berubah. Maka atas bimbingan bisikan hatinya dia masuk ke dalam gua. Hidup di dalam gua. Bertahun-tahun. Di dalam gua dia hanya berdoa. Berdoa agar bisa melihat keindahan yang sesungguhnya. Keindahan yang hakiki. Keindahan yang abadi.
Bertahun-tahun setelah menyepi, hatinya membisiki agar dia memasuki kota yang lama ditinggalkannya. Kejadian mengerikan itu lalu terjadi. Matanya dicongkel dengan sendok. Dan dia terpana. Keindahan hakiki itu, keindahan abadi itu, terasa sampai ke seluruh pori terkecil di dalam tubuhnya. Keindahan terindah itu, keindahan hakiki itu, keindahan abadi itu, ternyata terlihat setelah tidak punya mata.

**

Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni